Pariwisata

Sambut New Normal, Warga Desa Negari Sumringah Ingin Wujudkan Desa Wisata

Tokoh masyarakat adat maupun dinas dan pelaku pariwisata tergabung dalam Komunitas Peduli Wisata Desa Negari sepakat membentuk Pokdarwis Tegal Sari Negari (Foto: BB)

Klungkung | barometerbali – Di tengah pandemi COVID-19 disertai krisis multidimensi di segala sektor kehidupan lebih dari setahun lamanya tak serta merta membuat masyarakat hanya berdiam diri meratapi nasib. Buktinya warga, pelaku pariwisata, tokoh masyarakat baik dinas maupun adat Desa Negari tergabung dalam Komunitas Peduli Wisata Desa Negari (KPWDN) untuk terus berinovasi. Mereka begitu antusias mengoptimalkan potensi desa terutama dalam sektor pariwisata sembari menyambut New Normal dan pembukaan pariwisata Bali yang diprediksi bulan Juli mendatang.

Pasca terbentuknya komunitas ini di Bougen Villa, Pantai Tegal Besar, pada Rabu (26/05/2021) lalu, kini kembali menggelar pertemuan ke-4 membahas beberapa agenda penting. Beberapa diantaranya evaluasi identifikasi potensi wisata desa dan rencana pembentukan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) bertempat di Dusun Sarimertha, Desa Negari, Kec. Banjarangkan, Klungkung, Minggu (20/06/2021).

Dalam kesempatan tersebut Ketua Komunitas Peduli Wisata Desa Negari (KPWDN) I Gusti Ngurah Murthana, S.T., menyebutkan ada 4 (empat) agenda yang dibahas. Pertama memaparkan hasil studi banding ke Daerah Tujuan Wisata (DTW) Semara Ratih Br. Delod Sema, Taro Kelod, Fire Flies (Taman Kunang Kunang), Hutan Jaka (Aren) Camping Ground Tegal Dukuh di Dusun Taro Kaja, Desa Taro, Kec. Tegallalang, Gianyar.
“Yang kedua, hasil survei potensi wisata desa di jalur Tukad (sungai, red) Bubuh, Banjarangkan. Yang ketiga penyusunan Pengurus Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) serta penyusunan visi dan misi. Yang terakhir meminta masukan dan sumbang saran,” terang Ngurah Murthana yang akrab disapa Ajik Rahman ini.

Lebih lanjut ia menyatakan model wisata yang akan dikembangkan adalah wisata pedesaan yang sesuai dengan potensi yang ada. Desa Negari terdiri dari 2 desa adat yakni Desa Adat Sarimertha dan Desa Adat Negari yang di dalamnya terdapat 3 banjar adat yaitu Banjar Tegal Besar, Banjar Negari serta Br. Sarimertha. Salah satunya adalah wisata tubing. Tubing atau river tubing adalah kegiatan meluncur bebas di atas permukaan sungai yang berarus ringan dengan menggunakan ban dalam mobil.

“Potensi yang cocok menurut kita adalah memanfaatkan wisata air yaitu tubing yang bermuara di Pantai Tegal Besar. Jika tubing di sungai yang satu-satunya endingnya di pantai. Kita bisa kembangkan wisata kuliner di sana saat wisatawan tiba di lokasi finish sambil menikmati suasana pantai indah berpasir hitam dengan fasilitas pariwisata berula hotel dan vila. Wisata permainan air dan mancing juga bagus di lokasi itu,” ungkap Ajik Rahman yang juga Ketua Persatuan Artis, Musisi, Pencipta Lagu dan Insan Seni (Pramusti) Bali ini.

Pihaknya bersama tim identifikasi potensi yang digawangi praktisi pariwisata Gubag sudah turun menyusuri alur Tukad Bubuh dari Goa Jepang memasuki wilayah Br. Sarimertha – Br. Negari dan Br. Tegal Besar yang indah namun dalam penelusuran menemukan permasalahan lingkungan. Untuk mewujudkan desa wisata unsur kebersihan sebagai salah satu syarat dan pedoman Sapta Pesona (aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, kenangan) perlu diperhatikan dan ditangani lebih optimal agar sampah yang bertebaran di pinggir sungai dapat terkelola dengan baik. “Kita ke depannya berencana menangani sampah melalui program inovasi Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS ) yang bersinergi dengan program “Gema Santi” Bupati Klungkung Nyoman Suwirta.

“Minggu depan sahabat saya pemilik usaha rafting I Made Sudariana sering dipanggil Gubag nanti menggandeng 1 tim yang terdiri dari 5 instruktur rafting dan tubing akan turun membawa 5 ban untuk uji coba menjelajahi jalur tubing di Tukad Bubuh,” ujar Owner Jayagiri Production yang bergerak di bidang event organizer ini.

Berdasarkan hasil identifikasi dan pendataan potensi, nuansa dan kontur alam di wilayah Desa Negari lebih cocok juga jika dibuat seperti konsep obyek wisata Green Kubu di Ubud, Gianyar yang berorientasi wisatawan lokal dan wisata spiritual dengan adanya yeh kelebutan (mata air suci) Batu Tumpeng di pinggir Tukad Bubuh, Sarimertha dan mata air suci di Salikertha, Negari terkait ritual palukatan (pembersihan diri sekala-niskala, red) yang berpotensi ekonomi juga untuk usaha air mineral. Sebagian lagi di beberapa zona ntuk dibangun kedai atau rumah makan sebagai penunjang dengan konsep menyatu dengan alam. Home stay yang memanfaatkan rumah penduduk dengan segala aktivitas keseharian di desa akan menjadi daya pikatnya. Selain itu display produk UMKM dan kerajinan lokal juga akan menarik bagi wisatawan untuk belanja.

Kawasan “jajar tiga” Sarimertha – Negari – Tegal Besar selain terhampar areal persawahan luas dan menghijau telah terbangun jalan usaha tani walaupun baru sepanjang 200 meter. “Areal persawahan ini sangat prospektif untuk jogging track, biking track atau spot foto selfie (swafoto, red),” ulasnya.

Di akhir pertemuan, disepakati secara demokratis untuk membentuk Pokdarwis yang melibatkan berbagai tokoh masyarakat baik adat maupun dinas serta pelaku pariwisata. Kepengurusannya mewakili warga 3 banjar atau dusun di Desa Negari.

Hasil pertemuan kali ini telah memutuskan nama Pokdarwis Desa Negari yakni Tegal Sari Negari. (BB/501)

Related Articles

4 Comments

  1. Bangkitkan potensi yang sudah dimiliki,pantang menyerah berjuang menapak perobahan demi kemajuan Desa.
    Sumbangsihnya akan membawa masa depan Desa menjadi lebih baik.
    🙏👍

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button