Monday, 20-05-2024
Bali

Gubernur Koster lngin Arak Bali Jadi Produk Unggulan Internasional

Gubernur Bali Wayan Koster foto bersama pemenang lomba kepada Lomba Desain Kemasan Minuman Tradisional Arak Bali di Jaya Sabha, Denpasar Kamis (22/7).

Denpasar (BBN INDONESIA) – Gubernur Bali terus berjuang mengampanyekan produksi minuman tradisional Arak Bali menjadi produk unggulan berdaya saing di pasaran. Hal ini menurutnya salah satu strategi kebangkitan kembali perekonomian Bali sebagai sumber daya dan produk lokal yang dimiliki Pulau Dewata.

Harapan itu disampaikan Gubernur Wayan Koster dalam acara penyerahan hadiah Lomba Desain Kemasan Minuman Tradisional Arak Bali di rumah jabatan Jaya Sabha, Denpasar Kamis (22/7) kemarin.

Gubernur yang viral di media sosial dengan pesannya, ‘kalau kurang semangat, lemas, langsung minum kopi tanpa gula dicampur arak, supaya jadi semangat’ ini, menjelaskan produksi Arak Bali diharapkan menjadi sumber penghidupan serta bagian dari pertumbuhan perekonomian yang sejalan dengan Peraturan Gubernur Bali Nomor 99 Tahun 2018 tentang Pemasaran dan Pemanfaatan Produk Pertanian, Perikanan dan Industri Lokal Bali.

“Kita harus bergerak kembali dengan memberdayakan dan memanfaatkan sumber daya lokal yang kita punya, sebagai sumber kehidupan dan unsur di dalam pengembangan ekonomi Bali, agar ekonomi kita bisa tumbuh dari kekayaan alamnya sendiri,” papar Wayan Koster kepada media Kamis (22/7).

Ia juga menyatakan bahwa arak adalah komoditas tradisional yang miliki kekhasan tersendiri. Sebagai minuman lokal, arak ingin dijadikan produk unggulan memiliki daya saing nasional maupun internasional yang bisa bersaing dengan sake dari Jepang, soju dari Korea dan lainnya.

“Untuk itu dengan dikeluarkannya Peraturan Gubernur Bali Nomor 1Tahun 2020 tentang Tata Kelola Minuman Fermentasi dan Destilasi Khas Bali, kita ingin perkuat tata kelolanya hingga ke hilir,” ujar Gubernur Bali jebolan ITB ini .

Gubernur juga menegaskan dikeluarkannya Peraturan Gubernur Bali agar dapat dimanfaatkan dengan baik sebagai sumber penghidupan, dan dapat mengembangkan IKM serta UMKM Bali. “Ingat tata kelolanya yang ditekankan bukan artinya bebas mengonsumsi,” tegas Gubernur Bali asal Desa Sembiran, Buleleng ini. 

Keinginan besar mengembangkan arak, menurut Gubernur Koster harus dibarengi dengan usaha memperbaiki kualitas dan juga memperkuat branding-nya sebagai produk Bali, termasuk dari sisi desain kemasan. Kualitas arak, harus dijaga dengan maksimal dan jangan ada yang merusak menggunakan fermentasi tak biasa yang tidak sesuai dengan tata cara di Bali karena arak pihaknya ingin menjadikan produk internasional.

”Saya tiap menerima duta besar dari negara sahabat, selalu saya jamu dan semuanya memuji kualitas Arak Bali. Cukup setengah hingga satu sloki, tidak banyak dan tidak akan bikin mabuk, jika diminum sesuai dengan takaran,” ungkapnya lagi.

Karena Arak Bali mendapatkan pujian oleh para duta besar dari negara sahabat, maka mantan Anggota DPR-RI 3 periode dari Fraksi PDI Perjuangan ini mengiginkan sumber daya lokal Bali tersebut digeluti orang lokal pula. Sehingga warga lokal punya sumber rezeki dari produk-produk lokal yang ada di Bali. 

“Kita bisa tumbuh dengan sumber daya yang kita punya, dari hulu hingga hilir, yang terus mengimplementasikan ajaran Tri Sakti Bung Karno ini, yakni berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan,” pungkas Gubernur.

Label dan Kemasan Pemenang Jadi Branding

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali, I Wayan Jarta mengatakan bahwa label dan kemasan yang telah memenangkan lomba akan dipatenkan dan menjadi brand bagi produk Arak Bali yang akan dipasarkan. 

“Kemasan yang terpilih ini nantinya akan menjadi branding bagi produk kita terutama arak yang telah menjalankan regulasi dan tata kelola sesuai dengan Peraturan Gubernur Bali Nomor 1 Tahun 2020,” ujar Jarta, didampingi Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Provinsi Bali, I Wayan Mardiana dan Direktur Utama (Dirut) Bank BPD Bali,I Nyoman Sudharma. 

Lebih lanjut ia menjelaskan, kemasan yang terpilih juga diharapkan menjadi bagian dari usaha pemenuhan pasar dalam negeri dan pemenuhan pasar ekspor serta meningkatkan nilai tambah dan daya saing minuman tradisional arak khas Bali.

“Sehingga dapat menyejahterakan Krama Bali khususnya perajin arak. Dan sesuai data yang ada, kini perajin arak yang tersebar di seluruh Bali berjumlah 1.472 perajin dengan masing-masing perajin menaungi dua hingga tiga petani tuak,” ungkapnya.

Sedangkan salah satu pengusaha arak Bali, Nyoman Yuli Arsana mengungkapkan dengan adanya Peraturan Gubernur Bali Nomor 1 Tahun 2021 sangat membantu perajin hingga pabrik lokal Bali untuk menghasilkan arak dengan kualitas yang baik.

“Karena dalam regulasi ini juga mencantumkan cara-cara fermentasi dan destilasi yang benar. Dulu yang banyak beredar di permukaan arak yang tanpa kemasan, tanpa proses yang ketat, tanpa mengikuti regulasi, hingga menjadikan arak Bali itu terkesan tidak bagus di mata publik, dan sayangnya itu yang banyak dicoba oleh wisatawan,” ujarnya.

Namun menurutnya sekarang dengan adanya regulasi, kualitas dan kemasannya, ia optimis akan lebih baik lagi pemasaran Arak Bali ini dan bisa menarik para wisatawan bahkan membuka pasar baru secara internasional.

Sebelumnya, dalam Lomba Desain Kemasan Minuman Tradisional Arak Bali tersebut telah ditetapkan pemenang oleh dewan juri yakni Juara I diraih oleh, I Made Januarta, Juara III Wayan Parwata dan Juara III diraih oleh I Made Sadnyana. Masing-masing juara membawa pulang piagam, piala, uang tunai yakni Rp7.500.000 untuk juara pertama, Rp5.000.000 untuk juara kedua dan Rp3.500.000 untuk juara ketiga. (BBN/011)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button