Friday, 24-05-2024
Peristiwa

Wartawan Meliput Dikeroyok, Edo Minta Polisi Tindak Tegas Pelaku

Denpasar | barometerbali – Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Provinsi Bali Emanuel Dewata Oja sangat menyesalkan insiden kekerasan terhadap wartawan salah satu media cetak yang terjadi di Cafe Monjali Jl. Mahendradata Denpasar, Kamis (11/11/2021) lalu.

Ia pun meminta Polresta Denpasar yang menangani kasus pengeroyokan tersebut secepatnya menuntaskan kasus ini sesuai hukum yang berlaku dan menindak secara tegas para pelakunya.

“Saya sudah tanya wartawan yang jadi korban. Dia bilang, saat itu diundang untuk meliput acara di Cafe Monjali. Maka jelas bahwa ini kekerasan terhadap wartawan, karena dia mengalami penganiayaan dan pengeroyokan dalam konteks menjalankan tugas sebagai wartawan,” ujar Edo di Denpasar saat dimintai tanggapannya, Senin, (15/11/2021).

Atas peristiwa itu, pria yang kerap disapa Edo ini dengan tegas meminta polisi secepatnya menuntaskan kasus tersebut agar tidak menjadi preseden buruk bagi wartawan lain yang sedang menjalankan profesinya melakukan peliputan atau kerja jurnalistik.

“Silahkan polisi membuka seluas-luasnya kasus pengeroyokan tersebut. Jangan ada yang disembunyikan supaya publik mendapat informasi yang terang- benderang,” tandas Edo.  

Dalam pemberitaan beberapa media sebelumnya menyebutkan seorang wartawan inisial AS mendapat perlakuan tidak baik di Cafe Monjali Denpasar. Ia dikeroyok oleh sekelompok orang yang juga sedang berada di tempat yang sama.

Simpang-siur informasi berkembang menyatakan saat itu orang-orang yang jadi tersangka pelaku kasus pemukulan mengaku dalam kondisi mabuk.

“Saya kira alibi mabuk itu sudah tidak pas. Orang mabuk biasanya fight satu lawan satu. Tapi kalau pengeroyokan berarti ada yang mengomandoi sehingga yang lain ikut. Atau mungkin tidak ada yang mengomandoi tetapi merasa solider lalu ikut mengeroyok. Lha, kalau begitu kan berarti dilakukan dengan pikiran waras dong. Di mananya disebut mabuk?” tanya Edo kepada awak media yang mewawancarai.

Seperti diketahui salah seorang wartawan  media cetak di Bali yang saat itu datang karena undangan meliput acara  yang digelar di cafe yang beralamat di Jalan Mahendaradata No.107, Padangsambian, Denpasar Barat pada Kamis, (11/11/202) lalu dikeroyok hingga menderita luka-luka lebam di beberapa bagian tubuhnya.

Korban menceritakan, undangan yang ia terima langsung dari pengelola Cafe Monjali yakni Onny Toelle  beberapa hari sebelum peristiwa pengeroyokan menimpanya. Ia bersama temannya berinisial JM mendapat undangan  secara langsung saat bertemu  pengelola cafe.

Dalam pertemuan itu, Onny secara lisan dan terbuka mengundang AS dan JM menghadiri acara live music yang digelar oleh Gula Lempeng Band. Dalam event tersebut  juga dihadiri oleh para musisi senior yang ada di Bali.

“Ya jangan lupa dan wajib hadir. Dan kalau bisa diliput atau dimediakan. Datang dan menyaksikan gambaran yang dikemas dalam bentuk live music, Kamis 11 November malam nanti,” ujar AS menirukan undangan yang diterima sembari mengatakan pada kejadian tersebut sebagai acara pembuka.

Bahkan ia dan rekannya juga diminta   ikut menjadi panitia di acara puncak nanti yang akan dipakai momentum  saat Natal atau Tahun Baru (pergantian tahun). Tidak hanya diminta sebagai panitia juga diminta untuk ikut   memberitakan acaranya.

“Dalam percakapan kami saat itu, saya dan teman JM minta untuk ikut jadi panitia,” ujar AS kepada rekan-rekan sejawatnya.

Dikatakan, saat menghadiri undangan pengelola cafe dengan tujuan meliput acara, namun kejadian buruk justru dialami AS.

AS justru dianiaya, parahnya lagi yang menganiaya korban merupakan adik-adik dari pengelola cafe.

Adik-adik pengelola cafe yang disebut-sebut  menganiaya  tersebut yakni  By dan BT dan satu rekan mereka Gn. Mereka saat ini sudah menjalani proses hukum di Polresta Denpasar. (BB/501)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button