Wednesday, 07-12-2022
Peristiwa

Wujudkan Tahun Toleransi dengan Menyudahi Konflik Beragama

Badung | barometerbali – Toleransi menjadi sebuah barang langka yang masih sulit ditemukan di tengah kondisi negara yang heterogen ini. Ketua Umum (Ketum) Pengurus Harian Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat, Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya (WBT) menyambut baik segala upaya menyelesaikan setiap permasalahan dengan duduk bersama dan berdiskusi mencari solusi damai.

Ditemui awak media di kediamannya kawasan Br. Munggu, Desa Gulingan, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung belum lama ini, WBT menjelaskan secara holistik dan umum, definisi peradaban budaya, adat, seni dan agama. Terkait sikap toleransi, Agama Hindu menurutnya betul-betul komprehensif dan jangan melihat hanya sepotong. Melihat Hindu seperti melihat Pancasila sebagai dasar negara harus juga melihat sila-sila lainnya.

“Secara keseluruhan kita harus sampaikan. Bicara Tuhan tentu juga ngomong manusia yang beradab. Bicara beradab tentu satu kesatuan. Raket piteket sekadi sampat lidi. Duduk bersama saling sharing, saling isi mengisi, saling membangun, baru nanti masalah keadilan sosial kesejahteraan,” tegas WBT yang mantan Pangdam IX Udayana ini.

WBT menyiratkan, bagaimana nanti ke depan membawa umat Hindu lebih sejahtera. Maka, selalu mendengar dan mengingat tutur orang tua tentang Tata Kertha Raharja. Menata diri sendiri dahulu baru menata keluarga yang ‘Parintih’ (menjadi sakinah). Jadi bapak, ibu, anak betul-betul buyut. Saling mengingatkan, tidak ada merasa hebat di muka bumi sehingga mau belajar dan mau melatih diri.

“Mampu mengendalikan Panca Indria, Dasa Indria, Eka Dasa Indria. Mata, hidung, telinga, kulit, mulut, kaki, kelamin, tubuh, ditambah pemikiran. Ini yang terus kita sampaikan agar mereka bisa eling supaya ada Sapta Timira-nya. Niki (ini) perlu diingat jangan dia sombong karana dia gantengnya, cantiknya, pangkat jabatan, kedudukan, kesehatan. Kita sama-sama mengintropeksi ke dalam untuk kita membangun umat kita ke depan,” tuturnya.

WBT menegaskan, Kalau menyebut diri Hindu tentu ada Panca Sradha sebagai dasar agama dan Tri Kerangka Agama Hindu. Tatwanya, Etikanya, termasuk upacara dan acara upakaranya. “Itu yang disebut tadi Dresta tadi. Kalau ngomong dresta bagaimana tentang Kuno Dresta, Sastra Dresta, Loka Dresta, Gunan Kulo Dresta, adat istiadat Desa Mawacara, Desa Kala Patra kita juga ikuti,” imbuhnya.

Ilustrasi toleransi dan kerukunan antarumat beragama (ist/net)

Dalam kesempatan itu WBT mengingatkan akan program pemerintah untuk selalu membumikan Pancasila dari PAUD sampai Perguruan Tinggi. Terutama intinya adalah patriotisme, nasionalisme, agar betul mempunyai jiwa patriotik jadi warga negara yang baik, toleran, serta cinta terhadap tanah air.

“Di sisi agama ada moderasi agama betul-betul ada keseimbangan tidak ke kanan, tidak ke kiri. Tidak ekstrim kanan, tidak ekstrim kiri, kita betul-betul seimbang. Maka betul-betul membangun jiwa dan raganya. Makanya sering saya sampaikan dalam ceramah sederhana itu, men sanah men sano. Badannya sehat, jiwanya sehat, spiritualnya bagus. Ini konsep dasar untuk menyiapkan umat kita terutama mengenai literasi beragama dalam Hindu,” tandas WBT

Sebelumnya diberitakan Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas menilai Tahun Baru 2022 sebagai penanda waktu tentang masa lalu, hari ini, dan sekaligus masa mendatang. Yaqut mengatakan momen tahun baru mengandung makna evaluasi dan mawas diri.

Yaqut menyampaikan tahun baru sekaligus menyimpan makna optimisme dalam menatap masa depan. Menyongsong tahun 2022, Menag meminta masyarakat meningkatkan kesadaran pentingnya memosisikan nilai-nilai agama sebagai inspirasi dan motivasi untuk terus berbuat kebaikan.

“Baik evaluasi, mawas diri, maupun sikap optimis dalam menyambut tahun baru. Ketiganya penting dilakukan agar kita bisa menjadi orang yang beruntung, yang terus berusaha agar hari ini lebih baik dari hari kemarin,” kata Yaqut dilansir dari Media Indonesia, Sabtu, 1 Januari 2022. 

Menag menyampaikan pemerintah mencanangkan 2022 sebagai Tahun Toleransi. Hal ini akan menjadi mailstone atas upaya menjadikan Indonesia sebagai barometer kerukunan umat beragama di dunia. 

“Saya meyakini Indonesia mampu, sebab karakter dasar masyarakatnya adalah sangat toleran dan sangat menghargai perbedaan. Berawal dari pencanangan Tahun Toleransi di 2022, kita ingin menjadikan Indonesia barometer kehidupan yang rukun dan harmoni dalam keberagaman dunia,” jelas Yaqut.

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas( (foto: ist)

Menurutnya, hal ini akan diukur bersama melalui indeks keberagamaan atau religiosity index. Dalam jangka menengah, indeks tersebut akan mengukur perilaku keberagamaan di Indonesia setiap tahun secara berkala hingga 2024.

“Selamat Tahun Baru 2022. Terus rajut persaudaraan dan mari bangkit bersama untuk masa depan Indonesia yang maju, toleran dan rukun dalam keragaman,” pesannya. (BB/501)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button