Saturday, 20-07-2024
Peristiwa

Tekad Kuat Brigjen (Purn) Alit Widana Murnikan Hindu

Foto: Brigjen Pol (Purn) Drs I Gede Alit Widana, SH MSi, di kantornya Rekonfu Law Firm 87 (Dewan Pengurus Daerah Bali)

Denpasar | barometerbali – Purnatugas dari institusi Kepolisian Republik Indonesia pada bulan Maret 2019 lalu, tak urung bagi sosok Brigjen Pol (Purn) Drs I Gede Alit Widana, SH MSi, untuk tetap mendharmabhaktikan diri dan berkiprah membangun negeri khususnya Bali sebagai tanah leluhurnya.

Alit Widana adalah seorang Purnawirawan Polri yang sebelumnya menjabat sebagai Analis Kebijakan Utama bidang Sespimti Sespim Lemdiklat Polri. Widana, lulusan Akpol 1987 ini berpengalaman dalam bidang reserse. Jabatan terakhirnya adalah Widyaiswara Madya Sespim Polri. 

Putera Bali kelahiran Pangkung Karung, Desa Penarukan, Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan tanggal 22 Februari 1963 lalu yang kini berusia 59 tahun ini, ternyata sarat pengalaman dan malang melintang seantero wilayah Indonesia. Ia juga memiliki seabreg kisah suka dan duka selama melaksanakan pengabdian yang tulus menjaga keamanan dan ketertiban warga negaranya.

“Menjelang akhir masa tugas di daerah Bali saya menjabat sebagai Kabag Dalops. Polda Bali kemudian sebagai Kapolres Tabanan hampir 2 tahun dari tahun 2004 sampai 2006 awal,” ungkap Alit Widana yang kini berprofesi menjadi advokat saat ditemui awak media di kantornya Rekonfu Law Firm 87 (Dewan Pengurus Daerah Bali) Jalan Ciung Wanara, Denpasar, Senin (4/4/2022).

Diundang Presiden Barack Obama

Pada kurun waktu 2007 hingga 2008 menjabat Kapolres Gianyar kemudian tahun 2008 hingga 2011 Alit Widana menjabat sebagai Kapoltabes Denpasar. Setelah itu ia melanjutkan pendidikan Sekolah Sespati ditugaskan di daerah operasi Sulawesi Tenggara. Kemudian kembali ke Bali menjadi Karo Ops Bali mengamankan KTT OPEC. Nah di situlah ia mendapat kesempatan langka dan membanggakan diundang berfoto bersama Presiden Amerika Serikat Barack Obama.

“Presiden Amerika Barack Obama mengundang saya karena selama kunjungan beliau di Bali beliau bersama staf merasa nyaman di Bali,” kenang Alit Widana yang sewaktu kecil mempunyai impian untuk mengajak ibundanya pergi menaiki helikopter.

Pada perjalanan dinas berikutnya Alit Widana menjabat Karo Ops Polda Sulteng (2010), Karo Ops Polda Bali (2012), Irbidjemenopsnal I Itwil IV Itwasum Polri (2014), Irwasda Polda NTB (2015), Kapuslitdatin BNN (2016), Kepala BNNP Papua (2016), Wakapolda Bali (2017) Kasespimmen Sespim Lemdiklat Polri (2018), Widyaiswara Madya Sespim Polri (2019) dan jabatan terakhir Analis Kebijakan Utama bidang Sespimti Sespim Lemdiklat Polri (2020).

Meraih Penghargaan Internasional

Dalam tugasnya mengungkap tindak kejahatan transnasional, Alit Widana yang pernah menjadi Ketua Umum Perbakin Bali (2014 – 2018) ini menerima apresiasi dan penghargaan dari negara lain di antaranya:
1. Penghargaan dari Kepolisian Jepang atas kasus pembunuhan warga negara Jepang saat menjabat Kapoltabes Denpasar (2009).
2. Penghargaan dari Kepolisian Jerman atas tertangkapnya buronan Interpol Jerman (2009).

Peristiwa Kecelakaan Nyaris Renggut Nyawa

Pengalaman lain selama bertugas di luar Bali, selain ada hal yang menyenangkan, namun ada juga peristiwa yang menegangkan termasuk nyaris merenggut nyawanya. Alit Widana mengisahkan ketika itu kendaraan yang ia tumpangi bersama sang sopir mengalami kecelakaan tunggal, karena sopirnya tak mampu mengendalikan kendaraan (out of control, red) terjun ke dasar sungai berada di kawasan kebun sawit di Sumatera Utara. Beruntung nyawanya terselamatkan walau luka parah terutama di bagian wajah dengan puluhan jaritan pasca-mendapat pertolongan warga yang membawanya ke puskesmas terdekat.

“Selama bertugas hal- hal menyedihkan, suka duka, lara pati memang selalu ada ketika bertugas sebagai Wakapolres di Labuhan Batu, Asahan, Sumatra Utara. Saya mengalami kecelakaan di tengah kebun sawit dan menderita luka di kepala dengan 35 jaritan. Dengan wajah berlumuran darah, saya dan sopir berusaha mencegat setiap warga atau kendaraan yang lewat. Tak satupun ada yang mau berhenti karena mereka takut melihat wajah saya penuh darah. Sampai akhirnya ada satu kendaraan pick up yang mau mengangkut kami ke puskesmas dekat sana. Astungkara diberikan keselamatan hingga hari ini,” ucap Alit Widana penuh syukur.

Ungkap dan Mediasi Konflik Adat

Sebagai aparatur negara yang senantiasa siap siaga menjaga stabilitas sosial dan keamanan agar kondusif, aman lancar dan terkendali, Alit Widana pun mendapatkan ujian menangani kasus adat di Bali dengan jalur mediasi bersama desa adat dan krama yang bersengketa. Tak kalah pentingnya selalu menjalin kordinasi dan sinergi dengan pemerintah daerah dalam mencari solusi damai atas konflik adat tersebut.

“Pengalaman yang menarik selama bertugas di Bali adalah saya diplonco dengan beberapa kasus desa adat di Desa Yang Api di Abiantuwung, Kediri, Tabanan di mana antara kelompok besar dengan kelompok kecil saling bertentangan. Kelompok kecil ada meninggal tidak bisa dikubur selama seminggu sehingga waktu ada ketegasan dari Bupati Tabanan Adi Wiryatama waktu itu memberikan kuburan, dan kita amankan sampai selesai,” tutur Alit Widana yang suka bernyanyi dan bermain musik ini.

Bukan itu saja, pengalaman menyelesaikan kasus adat juga dialami waktu bertugas sebagai Kapolres Gianyar ketika terjadi kasus di Pengosekan antara Desa Muluk Babi dengan Desa Mas dan Desa Pengosekan di mana mayat selama seminggu tidak bisa dikubur.

“Hampir ada bentrokan antara Desa Mas dengan Pengosekan tetapi detik- detik terakhir dapat diselesaikan dengan damai,” ujarnya bangga.

Lanjut Alit Widana, dirinya juga mendapat ujian di Gianyar ketika ada pertentangan antara kelompok Ida Bagus Wedagama dengan dengan banjar setempat di Desa Tampak Siring sehingga terjadi bakar- bakaran.

“Sampai kelompok kecil Ida Bagus Wedagama mengungsi ke Polsek. Ada laporan, saya segera meluncur ke TKP ternyata saya yang pertama sampai bersama ajudan,” katanya.

Dalam peristiwa yang menegangkan itu Alit Widana mengatakan ada seorang warga hendak membakar rumah yang terdapat banyak tabung gas elpiji sedangkan anggota pasukan datang belakangan.

“Saya bilang silahkan kamu bakar tabung gas dan rumah itu. Kita mati bersama, sehingga niat membakar rumah tersebut tidak sampai terjadi. Keadaan malam itu dapat dikuasai dan dikendalikan. Tindak lanjut penyidikannya saya harus menindak yang membakar itu. Dan muncul kata kalau berani polisi menindak dan menangkap kita serang Polres Gianyar,” sahutnya meniru teriakan si pelaku dan warga yang saat itu sedang dibakar emosi.

Mendengar kata-kata provokatif yang dilontarkan massa tersebut, Alit Widana selaku Kapolres Gianyar mengambil sikap tegas demi mempertahankan kewibawaan aparat kepolisian. Bahkan ia menantang balik warga yang sudah nampak marah tersebut namun tetap disampaikan dengan bahasa yang santun dan bijak.

“Saya menyampaikan kepada masyarakat silahkan dan kami sudah siap! Tetapi kalau berbicara baik- baik, datanglah dan akhirnya mereka datang (ke Polres Gianyar, red) dengan pakaian adat dan kita damaikan. Saya dengan salah satu tokoh masyarakat yaitu kelihan adat memberikan tempat mengubur dan sampai sekarang permasalahan tersebut tidak pernah muncul lagi,” tandas Alit Widana, alumni SMAN 2 Tabanan ini.

Pimpin Paiketan Warga Bujangga

Usai mengisahkan beragam peristiwa yang ia hadapi dan mencarikan solusi damai dari konflik yang terjadi, Alit Widana menuturkan pengalaman- pengalaman dirinya selama bertugas di Bali dan setelah pensiun mengabdikan diri melayani paiketan (perkumpulan, red) warga di mana ia dinobatkan sebagai pucuk pimpinan.

“Terutama di lelintihan (garis keturunan, red) saya Mahawarga Bujangga Waisnawa sebagai Ketua Umum Moncol Pusat Maha Warga Bujangga Waisnawa seluruh Indonesia,” ucapnya.

Tekad Murnikan PHDI

Terkait menuntaskan polemik dan menyelesaikan resistensi umat Hindu terhadap keberadaan sampradaya asing (garis perguruan, seperti Hare Krishna, Sai Baba, Brahma Kumaris, red) asing yang dianggap meresahkan dan diduga dapat menggerus eksistensi dresta (adat kebiasaan, budaya, red) Bali dan Nusantara serta mengancam persatuan dan kesatuan umat Hindu maka dalam perkembangan selanjutnya Alit Widana mendapat ajakan untuk berjuang bersama akan pemurnian Hindu yang yang menghargai ‘Dresta’ Bali dan Nusantara

“Itu sangat benar sekali bahwa agama Hindu yang sudah menjadi kesepakatan leluhur atau nenek moyang kita harus ditegakkan dari pengaruh- pengaruh yang dapat merugikan kita dalam kehidupan selanjutnya,” jelas Alit Widana.

Persilakan Sampradaya Urus Status di Departemen Agama

Dalam diskusi dan kajian terutama tentang keberadaan Hare Krishna dan sampradaya Alit Widana menegaskan sudah mendapat Keputusan Kejaksaan Agung No. Kep. 107/JA/V/tahun 1984 mengenai pelarangan terhadap aliran HK (Hare Krishna) tetapi dalam pelaksanaannya mereka tetap diayomi oleh agama Hindu saat kepengurusan PHDI sebelumnya.

“Sekarang kita ingin memurnikan ajaran Hindu dari pengaruh- pengaruh Sampradaya dengan tujuan untuk mengeluarkan dan tidak mengayomi Sampradaya Hare Krishna dan Sai Baba di bawah agama Hindu. Biarkan saudara- saudara kita yang bergabung di Hare Krishna dan Sai Baba mengurus keperluannya sendiri apakah sebagai aliran atau agama di Departemen Agama,” saran Alit Widana yang menempuh pendidikan Magister Hukum di Universitas Indonesia.

Intinya, menurut Alit Widana, sampradaya asing tidak ‘nyantol’ di Agama Hindu dan itu merupakan prinsip-prinsip perjuangan pihaknya dalam rangka mengajarkan Hindu ‘Dresta’ Bali dan memurnikan Agama Hindu dan hingga sekarang dirinya aktif di dalam pergerakan tersebut.

Masyarakat Internasional Kesadaran Kresna (Inggris: International Society for Krishna Consciousness; ISKCON), juga dikenal sebagai Gerakan Hare Krishna, adalah organisasi keagamaan gerakan Hindu Gaudiya Waisnawa, didirikan pada tahun 1966 di kota New York oleh A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada. Di setiap ceramahnya Swami Prabhupada selalu menyebut Hare Krishna bukanlah Hindu. Hal inilah yang selanjutnya menjadi memicu pertanyaan dan menimbulkan desakan kuat elemen adat dan dresta Bali, tokoh umat Hindu Nusantara agar sampradaya asing dikeluarkan dari pengayoman PHDI.

Didaulat sebagai Ketua Sabha Walaka PHDI

Atas aspirasi umat dan permintaan para tokoh agama, Alit Widana mulai memfokuskan diri melayani dan mengabdi untuk kepentingan umat Hindu khususnya di Bali. Apalagi ia sudah terpilih sebagai Ketua Sabha Walaka PHDI Pusat hasil Musyawarah Luar Biasa (MLB) bersama Marsekal TNI (Purn) Ida Bagus Putu Dunia selaku Ketua Pengurus Harian PHDI Pusat saat dikukuhkan di Pura Kentel Gumi, Banjarangkan, Klungkung pada Selasa, 15 Maret 2022 lalu.

Terpilih sebagai Sekretaris Pengurus Harian, adalah Komang Priambada, Ketua Dharma Kertha, Ida Panglingsir Agung Putra Sukahet. Lalu Dharma Adyaksa Sabha Pandita, Ida Rsi Agung Wayabya Suprabhu Sogata Karang.

Berbarengan pada kesempatan itu dilaksanakan pengukuhan pengurus PHDI Provinsi Bali, dan kabupaten/kota se-Bali dengan jargon ‘Melalui Pemurnian PHDI Kita Lestarikan Hindu Dresta Bali-Nusantara’.

Soal dualisme yang tengah terjadi, dirinya menegaskan akan tetap berjalan sesuai proses hukum berlaku. Apalagi gugatan keabsahan PHDI WBT (Wisnu Bawa Tenaya) di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Barat masih berjalan. “Saya berharap proses ini berjalan sesuai aturan hukum yang berlaku, dan harapan kami selesai secara damai,” pungkas Alit Widana. (BB/501)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button