Saturday, 03-12-2022
Sosial

Duta Global Smile Train Urvashi Rautela Sambangi Pasien Bibir Sumbing di Bali

Badung | barometerbali – Kepedulian sosial yang tinggi ditunjukkan oleh Kontestan Miss Universe 2015 Urvashi Rautela. Model dan aktris cantik asal India ini kini aktif sebagai Duta Global Smile Train, sebuah organisasi nirlaba yang berfokus pada persoalan bibir sumbing dan celah langit-langit mulut.

Kunjungan Urvashi ke Pulau Bali untuk pertama kalinya ini melakukan lawatan ke RSU Bali Jimbaran dan Yayasan Senyum Bali. Selebritas kelahiran 25 Februari 1994 ini juga menyambangi kediaman pasien-pasien di Bali untuk melihat kondisi pascaoperasi sumbing.

“Saat ini perlu memanfaatkan posisi saya untuk menyuarakan kebaikan. Disini, saya bersama Smile Train mengampanyekan kepedulian mengenai pentingnya penanganan kepada anak-anak dengan bibir sumbing,” ungkap Urvashi yang saat ini berusia 28 tahun ini di Alila Seminyak, Kuta, Bali, Selasa, (31/5/2022).

Duta Global Smile Train Urvashi Rautela (BB)

Urvashi Rautela mengenal lebih jauh Smile Train dalam sebuah workshop di Dubai pada awal 2022.

“Saya tergerak untuk mendukung anak-anak dengan bibir sumbing dengan melalui jejaring dan pengaruh di media sosial yang saya miliki,” lanjut Miss Diva 2015 ini.

Tahun 2022 adalah masa yang membanggakan bagi Smile Train di Indonesia, melalui pencapaian 100 ribu operasi sumbing pada awal tahun sekaligus perayaan 2 dekade kiprah dukungan bagi pasien bibir sumbing di tanah air.

Menurut data yang ada, di Indonesia, diperkirakan ada 8.500 bayi lahir dengan kondisi sumbing setiap tahunnya. Selama dua dekade, Smile Train telah mengoperasi pasien bibir sumbing sebanyak 100 ribu anak sejak tahun 2002 lalu.

Urvashi Rautela dengan Tim Smile Train Indonesia, Yayasan Senyum Bali dan pasien bibir sumbing (BB)

Country Manager Smile Train Indonesia Deasy Larasati mengatakan, edukasi dan akses terhadap fasilitas kesehatan kerap menjadi kunci agar kondisi sumbing bisa mendapat perawatan yang tepat, cepat dan komprehensif.

Menurut Deasy, Smile Train memberikan pelayanan operasi gratis kepada anak dengan masalah bibir sumbing dan celah langit.

“Kami tidak hanya melakukan tindakan operasi saja, tapi juga perawatan komprehensif lebih lanjut yang membantu memastikan rehabilitasi jangka panjang yang berhasil bagi pasien,” kata Deasy.

Kepala Bedah Plastik Yayasan Senyum Bali dr. Putu Trisna Utami, Sp.BP-RE, mengatakan, tindakan operasi idealnya dilakukan sedini mungkin dengan dukungan fasilitas medis yang baik.

“Bibir sumbing di Bali, rata tercatat 200 kasus per tahun,” sebutnya.

Talkshow dan press conference bersama Urvashi Rautela dan Smile Train Indonesia (BB)

Trisna Utami menambahkan, ada sejumlah faktor pencetus bibir sumbing di antaranya, faktor genetik, kekurangan nutrisi saat kehamilan, hingga radiasi maupun faktor obat-obatan.

“Jadi intinya ada masalah saat kehamilan itu bisa berpotensi penyebab bibir sumbing ataupun celah langit,” kata Trisna Utami.

Ia menandaskan Yayasan Senyum Bali yang beralamat di Jl. Pulau Aru No. 9 Denpasar sebagai partner Smile Train Indonesia telah beberapa kali melakukan operasi bibir sumbing.

“Sekitar 8 hingga 10 pasien setiap bulan. Tahun ini baksos (bakti sosial) di Singaraja ada 13 pasien,” ujarnya.

Urvashi Rautela bersama pasien bibir sumbing yang masih balita (ist)

Ke depan ia mengatakan akan lebih rutin lagi melaksanakan kegiatan baksos untuk operasi bibir sumbing.

“Semoga bisa meng-handle lebih banyak. Waiting list terlambat, yang semestinya harus dioperasi umur 3 bulan karena pandemi akhirnya dioperasi saat umur 3 tahun,” sambung Trisna.

Dalam kesempatan yang sama, Program Director Smile Train Indonesia Ruth Monalisa mengatakan, kasus bibir sumbing banyak ditemukan di wilayah padat penduduk seperti Pulau Jawa.

Urvashi Rautela saat kunjungi pasien pascaoperasi bibir sumbing Indonesia (ist)

Ditanya wartawan terkait sumber pendanaan dari baksos operasi bibir sumbing dan celah langit langit ini, Monalisa menegaskan berasal dari fundraising (penggalangan dana) perusahaan-perusahan swasta dan donatur dari luar negeri.

“Sumber dana dari kegiatan operasi bibir sumbing ini berasal dari BUMN, perusahaan swasta dan donatur. 97 persen dari pusat di New York dan negara maju lainnya. Kita punya tim fundraising yang sangat solid di Amerika dan Dubai Office di Timur Tengah,” pungkas Mona panggilan akrabnya.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai upaya Smile Train secara global dan ikut berdonasi, silakan kunjungi smiletrain.org. Untuk merujuk pasien atau memberikan dukungan bagi Smile Train Indonesia, silakan ikuti Facebook @SmileTrainIndonesia, Twitter @SmileTrainID, dan Instagram @smiletrainindonesia.

Tentang Smile Train

Smile Train adalah organisasi nirlaba terbesar di dunia yang berfokus pada bantuan perawatan komprehensif dengan pendekatan berkelanjutan untuk persoalan bibir sumbing dan celah langit-langit mulut; dan telah berkiprah di Indonesia selama lebih dari 20 tahun.

Smile Train memberdayakan tenaga ahli medis dalam negeri dengan pelatihan, pendanaan, dan sumber daya untuk memberikan operasi celah gratis dan perawatan celah yang komprehensif untuk anak-anak di seluruh dunia.

Kami mengedepankan solusi berkelanjutan dan model kesehatan global yang terukur untuk perawatan celah, yang meningkatkan kualitas hidup anak-anak, termasuk kemampuan mereka untuk makan, bernapas, berbicara, dan pada akhirnya berkembang sesuai dengan tahapan usianya.

Untuk mempelajari lebih lanjut tentang bagaimana pendekatan berkelanjutan Smile Train, dan bagaimana donasi Anda dapat berdampak secara langsung dan jangka panjang, silakan kunjungi smiletrain.org. (BB/501)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button