Saturday, 03-12-2022
Lingkungan

Kelompok Sungai Bahari Intaran Tanam Terumbu Karang di Pantai Mercure

Ket foto: Aktivitas penanaman Terumbu Karang di kawasan pantai Mercure, Sanur, pada Minggu (3/7/2022).

Sanur | barometerbali – Masyarakat Intaran Sanur kembali melakukan giat penolakan terhadap rencana pembangunan Terminal LNG di Kawasan Mangrove. Salah satu caranya, Komunitas Sungai Bahari Desa Intaran Sanur mengadakan kegiatan penanaman Terumbu Karang di kawasan pantai Mercure Sanur, pada Minggu (3/7/2022).

Nyoman Dana Atmaja selaku anggota komunitas sekaligus ketua nelayan Pica Segara menuturkan jika dirinya bersama dengan beberapa rekannya hari ini akan menanam Terumbu Karang pada media yang sebelumnya telah disiapkan di tengah laut. Adapun bibit Terumbu Karang yang ditanam terdapat 3 jenis Bibit yakni Terumbu Karang Jahe, Terumbu Karang Polip dan Terumbu Karang Jenis Tanduk.

Dirinya juga menjelaskan jika aktivitas yang dilakukannya sudah berjalan dari tahun 2017 hingga kini.

“Kami menanam Terumbu Karang ini sudah sejak 2017 silam hingga sekarang, dan hari ini kita kembali melanjutkan untuk menanam bibit pada media tanam yang sebelumnya kami siapkan sebanyak 4 buah dengan keliling 4 meter,” ujar Nyoman Dana yang juga merupakan Sekretaris Kelompok Sungai Bahari Intaran dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi barometerbali.com, Minggu (3/7/2022).

Lebih lanjut ia menuturkan jika dalam menanam Terumbu Karang ini dilakukan sebulan 2 kali dengan memperhatikan waktu bulan mati dan pasang surut air.

Lebih lanjut hadir pula kelihan Banjar Gulingan Intaran Sanur AA Arya Teja, ST sekaligus Pembina dari Kelompok Sungai Bahari, senada dengan Nyoman Dana ia juga menegaskan jika Bali sebetulnya butuh regulasi yang pasti terkait penanaman serta perawatan Terumbu Karang terlindungi.

“Terutama dari aktivitas- aktivitas yang merusak perairan dan Terumbu Karang. Sebab ancaman terbesar Terumbu Karang ada pada aktivitas yang menyebabkan debu di laut atau kekeruhan air. Salah satu kekeruhan air tersebut disebabkan oleh adanya aktivitas pengerukan (dredging),” tambah Arya Teja.

Jadi apabila ingin melestarikan Terumbu Karang dan kestabilan ekosistem laut mestinya memberikan perlindungan terhadap pelestarian Terumbu Karang yang digalakkan, serta tidak ada proyek yang melakukan pengerukan seperti yang akan dilakukan untuk membuat alur laut untuk Terminal LNG di Kawasan Mangrove.

“Itu pasti akan merusak Terumbu Karang dan ekositem laut,” cetus Arya Teja.

Sebelumnya diketahui bahwa dalam Riset yang dipaparkan KEKAL Bali, Frontier Bali dan WALHI Bali disebutkan jika pengerukan untuk alur laut Terminal LNG di kawasan Mangrove akan dilakukan dengan volume 3.300.000 meter kubik yang dimana pengerukan tersebut mengenai area Peta Indikatif Terumbu Karang seluas 5 hektaran.

Kelompok Sungai Bahari senantiasa melakukan kegiatan penanaman dan perawatan Terumbu Karang sedari 2017 hingga sekarang. Hal ini sebagai upaya untuk melestarikan ekosistem perairan dan dan sebagai daya tarik wisata khususnya dalam mengenal keanekaragaman hayati yang ada di perairan Sanur. (BB/501/rl)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button