Sunday, 21-07-2024
Peristiwa

Wali Kota Bersedia Dukung Peringatan Puputan Badung Tahun Berikutnya

Ket foto : Penampilan Rahtwo [XXX] feat Thiar Duo Thiwi pada Pringatan ke-116 Hari Puputan Badung digelar di Monumen Ida Cokorda Pemecutan IX, Kawasan Simpang (Catus Patha) Jalan Thamrin, Selasa (20/9/2022) malam.

Denpasar | barometerbali – Setelah ada harapan dari para Panglingsir Puri Pemecutan agar kegiatan peringatan Perang Puputan Badung memperoleh bantuan dalam hal pelaksanaannya di tahun berikutnya, Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara menyatakan bersedia dan akan segera berkordinasi dengan pihak puri.

Hal itu dilontarkan Wali Kota saat menghadiri peringatan ke-116 Perang Puputan Badung yang digelar di Monumen Ida Cokorda Pemecutan IX, Kawasan Simpang (Catus Patha) Jalan Thamrin, Selasa (20/9/2022) malam.

Wali Kota Denpasar IGN Jaya Negara mengatakan, Perang Puputan Badung yang kita peringati saat ini didasari oleh peristiwa heroik Rakyat Bali, terutama dari Kerajaan Badung yang bertempur sampai titik darah penghabisan atau puputan melawan penjajah Belanda. Di mana, tanggal 20 september 1906 merupakan peristiwa yang memperlihatkan kepada dunia bahwa segenap Rakyat Bali yang dipimpin oleh Raja Badung yakni I Gusti Ngurah Made Agung dan Ida Cokorda Pemecutan IX yang memiliki dedikasi dan idealisme tinggi berjuang dengan segenap jiwa raga dalam menjaga setiap jengkal tanah kelahiran.

Pihaknya menekankan, Pemerintah Kota Denpasar siap memfasilitasi kegiatan hari peringatan Puputan Badung di tahun-tahun mendatang.

“Ini merupakan semangat sebagai bangsa besar yang tidak pernah melupakan sejarah perjuangan para pendahulunya. Ke depannya kami akan berkoordinasi dengan Bupati Badung serta para panglingsir dari tiga puri, yakni Puri Satria, Puri Pemecutan dan Puri Kesiman, karena secara defacto Puputan Badung ini berlokasi di Kota Denpasar, dan tahun depan kami siap memfasilitasi dan rayakan kegiatan ini,” tandas Jaya Negara.

Peringatan ini merupakan ajang membangkitkan kembali semangat perjuangan para pendahulu pada saat perang Puputan Badung, 20 September 1906 silam.

“Marilah kita maknai nilai- nilai kepahlawanan para pejuang kita yang patut diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, serta dapat dijadikan inspirasi oleh generasi muda untuk mengisi pembangunan ini,” imbuhnya.

Tampak hadir Raja Puri Klungkung, Ida Dalem Semaraputra, Panglingsir Puri-Puri dan Jero di Kota Denpasar, Keluarga Besar dan Moncol Puri Agung Pemecutan, Puri Gerenceng, Ketua LVRI Provinsi Bali Gusti Bagus Saputra dan LVRI Kota Denpasar, serta undangan lainnya.

Ketua Panitia Peringatan ke-116 Puputan Badung, AA Ngurah Putra Darmanuraga (Turah Putra) mengatakan, momentum Puputan Badung hendaknya dimaknai seluruh masyarakat untuk merenungkan semangat dan jiwa Puputan Badung agar tetap dikenang dan jadi panutan sepanjang masa. Hal ini guna menjaga marwah, taksu (kharisma) dan semangat puputan tetap menyala bagi generasi penerus bangsa.

“Walaupun kita laksanakan dengan cukup sederhana, persiapan sangat pendek, namun berkat uluran tangan dan semangat para sameton (keluarga besar) untuk membangkitkan kembali taksu dan kebesaran Kerajaan Badung, utamanya dari para Pengurus Pemaksan Warga Ageng Puri Agung Pemecutan, maka kegiatan ini dapat berjalan lancar,” bebernya.

Turah Putra yang juga Panglingsir Puri Agung Pemecutan pun berharap dengan bangkitnya kembali taksu dan kebesaran Kerajaan Badung, maka titah para pendiri kerajaan untuk menjaga persatuan dan persaudaraan, tidak akan bisa dipecah dengan cara apapun.

“Mari kita tetap bersatu, kuatkan persatuan sesuai dengan tema pelaksanaan hari ini yaitu, Bersama Kita Kuat, Kita Kuat Bersama,” katanya bersemangat.

Peringatan kali ini diawali pawai seni budaya baleganjur dan Bebarisan Pecut Pusaka Ksatria Mahottama, mendapatkan perhatian dan aplaus dari hadirin serta tamu undangan yang hadir.

Pecut sendiri sangat terkenal di Bali, terutama di daerah Denpasar dan Badung, sebab senjata ini bersama tulup dan keris merupakan pusaka mulia dari Kerajaan Badung.

Dilanjutkan pementasan tari Legong Bandhodayaditya yang terinspirasi dari kisah perjalanan Sri Nararya Damar dalam menyelesaikan tugas pemerintahan di pusat kerajaan Bali tempo dulu di Bedulu, serta pementasan tari Tedung Jagat.

Adapula pawai obor dari siswa-siswi SDN 10 Pemecutan dilanjutkan sajak puisi renungan spirit Puputan Badung dan musikalisasi lagu “Puputan Badung” oleh Rahtwo [XXX] feat Thiar Duo Thiwi yang mampu menggelorakan semangat sehingga para undangan dan penonton turut bangkit dari kursinya untuk bernyanyi bersama di tempat acara.

Sementara di ujung acara ditutup dengan penampilan seni budaya Pasundan (Jawa Barat) dari Padepokan Noto Ikhlas Denpasar pimpinan Gus Andre yakni pementasan Debus yang menegangkan dengan atraksi kebal senjata tajam, pecut, disemprot sprayer antiserangga dan tusuk pipi tembus rongga mulut menggunakan jarum besar. (BB/501)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button