Monday, 22-07-2024
Peristiwa

Duwe Nyama Bali Bumikan Pancasila melalui Lomba Menyanyi dan Menggambar

Mendidik anak bangsa, berbekal budi pakerti, berakhlak, beradab dan tat twam asi bagi Bali

Ket foto: I Dewa Nyoman Budiasa (inset) bersama Duwe Nyama Bali gelar Lomba Menyanyi Lagu Daerah dan Menggambar untuk anak-anak di Warung Dadi, Tabanan, Minggu (2/10/2022).

Tabanan | barometerbali – Serangkaian Hari Kesaktian Pancasila organisasi kemasyarakatan Duwe Nyama Bali (DNB) menggelar Lomba Menyanyi dan Menggambar untuk anak-anak yang digelar adalah salah satu implementasi dari 10 kecerdasan yaitu aspek kecerdasan seni. Selain untuk meningkatkan kreatifitas para peserta akan mampu membantu untuk mengontrol emosi. Demikian disampaikan Psikolog IGA Ayu Yunita Dewi, S.Psi, M.Psi, di sela-sela acara Lomba Melukis dan Menyanyi Lagu Daerah yang berlangsung di Warung Dadi, Tabanan, Minggu (2/10/2022).

“Lomba ini untuk stimulasi sensorik motorik halus. Itu sangat bermanfaat buat anak, selain pengembangan kreatifitas dan juga kecerdasan,” ungkap Yunita.

Psikolog IGA Ayu Yunita Dewi, S.Psi, M.Psi (dnb/anm)

Sedangkan dalam hal anak-anak tampil untuk bernyanyi akan menumbuhkan kepercayaan diri dan kemampuan menampilkan potensi diri.

“Dia nyaman dan kenal potensi dirinya. Dan hal yang kita sepakati dari sisi parenting ini adalah, anak itu bukan kertas kosong. Karena anak adalah anugerah yang memang lahir lengkap dengan potensi, bakat dan minatnya. Tugas kita adalah, apa sih potensi dari anak itu termasuk minatnya dia apa sehingga dari sisi parenting kita berharap memahami lebih baik demi kesuksesan anak di tengah gempuran teknologi informasi yang serba cepat ini,” papar Yunita yang meraih gelar S2 Psikologi di Universitas Airlangga (Unair) tahun 2010 lalu ini.

Hadir pula dalam kesempatan tersebut tokoh masyarakat dan tokoh muda Puri Anom Tabanan AA Ngurah Panji Astika yang juga memberikan dukungan terhadap program edukatif Duwe Nyama Bali yang kali ini khususnya peduli untuk generasi muda.

Tokoh masyarakat AA Ngurah Panji Astika (db)

“Selain lomba menyanyi dan menggambar nanti sore juga ada Senam AWS. DNB ini sangat concern dengan, satu pendidikan, kedua kesehatan, dan yang ketiga ketenagakerjaan. Karena ketiga hal tersebut yang secara khusus selayaknya diperhatikan pada masyarakat Tabanan. Saya selaku tokoh masyarakat sangat mengapresiasi apa yang dilakukan Duwe Nyama Bali ini,” ungkap Turah Panji panggilan akrabnya.

Lebih lanjut ia menegaskan pembangunan itu tak harus dilakukan oleh pemerintah saja, tapi masyarakat bisa juga berkontribusi melakukan pemberdayaan melalui organisasi-organisasi kemasyarakatan.

Aktivitas Senam AWS (db)

“Dengan menyumbangkan, tenaga, waktu dan pemikirannya untuk mengisi pembangunan ini. Jadi tujuannya mem-empowering, memberdayakan masyarakat. Harapan kita generasi muda ini selalu ingat dengan Hari Kesaktian Pancasila, mengasah mentalnya dengan kegiatan seni dan budaya. Melalui kegiatan hari ini pemberdayaan sudah dilakukan mulai dari generasi muda hingga sepuh yang melaksanakan kegiatan Senam AWS,” pungkas Turah Panji yang juga Ketua Asosiasi Produsen Instalasi Pengolahan Air Limbah Indonesia (Ipalindo) ini.

I Dewa Nyoman Budiasa, selaku pendiri Duwe Nyama Bali menjelaskan Lomba Menyanyi dan Menggambar ini dilaksanakan untuk memperingati Hari Kesaktian Pancasila dan meningkatkan kreatifitas di kalangan generasi muda pascapandemi Covid-19.

“Kami berinisiatif membuka ruang kepada anak-anak dan generasi muda dalam rangka memperingati dan membumikan Pancasila dan mengisi kegiatan positif pascapandemi karena sebelumnya semua kegiatan serba terbatas,” terang Budiasa yang juga Direktur Utama Klinik Padma Bahtera Centre ini.

I Dewa Nyoman Budiasa saat diwawancara (db)

Mantan calon Wakil Bupati Tabanan pada Pilkada Tabanan tahun 2020 lalu yang berpasangan dengan AA Ngurah Panji Astika ini menyatakan ada hal yang terpenting pada kegiatan kali ini yakni parenting class yang menghadirkan psikolog guna membahas kesenjangan hubungan komunikasi orangtua dan anak di era digitalisasi.

“Hubungan komunikasi di era digitalisasi ini serba dibatasi dengan kemajuan zaman yang kadang-kadang out of control. Orangtua tak bisa mengontrol. Semuanya serba mudah oleh gadget yang mendominasi semua kehidupan, tapi akhirnya sekarang kalau boleh saya bilang banyak ditemukan obstacle atau kebekuan. Penyakit digital. Semua menjadi bisu dan tuli, kan begitu. Hubungan yang kurang harmonis antar orangtua dengan anaknya. Kurang komunikatif. Nah melalui event ini, saya berharap bisa mencairkan kebekuan atau obstacle-obstacle tadi ya, antara orang tua dan anak,” urai I Dewa Nyoman Budiasa yang juga Sekjen Kesatuan Pelaut Indonesia (KPI) Pusat ini menutup perbincangan. (BB/501)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button