Thursday, 25-07-2024
Pendidikan

Mahasiswa Agribisnis mesti Hadir “Upgrade” Manajemen Petani Desa

Ket foto: Manajer Daya Tarik Wisata Jatiluwih, Tabanan I Nengah Sutirtayasa, SE saat memberi kuliah selaku praktisi mengajar pada Mata Kuliah Manajemen Agrowisata, di Kampus Unud, Sudirman Denpasar, Jumat (30/9/2022). (ist/unud)

Denpasar | barometerbali – Berbanggalah jadi anak petani, karena bisnis pertanian menjadi solusi di tengah krisis. Pilihan mahasiswa kuliah di Program Studi (Prodi) Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Udayana (FP Unud) sangat tepat, mahasiswa mampu hadir membantu petani memperbaiki atau upgrade manajemen sehingga mampu berdaya saing dalam percaturan bisnis modern.

Hal itu diungkapkan Manajer Daya Tarik Wisata Jatiluwih, Tabanan I Nengah Sutirtayasa, SE saat memberi kuliah selaku praktisi mengajar pada Mata Kuliah Manajemen Agrowisata, di Kampus Unud, Sudirman Denpasar, Jumat (30/9/2022).

Nengah Sutirtayasa, SE diajak berkolaborasi oleh dosen pengampu MK Manajemen Agrowisatayakni Dr. Ir. I Gusti Ayu Oka Suryawardani, M.Mgt, Ph.D., Dr. I Made Sarjana, SP., M.Sc. dan Prof. Dr. Ir. I Gde Pitana, M.Sc. dalam upaya memberikan gambaran yang lebih jelas terkait pengembangan dan pengelolaan agrowisata berbasis subak di Bali.

Menurut I Nengah Sutirtayasa, petani di Bali yang bergelut dengan organisasi tradisional di mana aspek manajemen tidak begitu kuat akibat keterbatasan kualitas sumber daya manusia (SDM).

“Biasakan turun ke sawah atau ke kebun jangan takut kotor, dengan hadir di tengah-tengah petani mahasiswa akan memahami kesulitan atau masalah yang dihadapi petani. Selanjutnya, mahasiswa mampu memetakan masalah dan membantu petani mengatasinya,” tegas pemilik Restoran Gong, Jatiluwih itu.

Petani yang bergabung pada lembaga tradisional menurut Sutirtayasa biasanya perencanaan program kerja, atau pembukuan usaha taninya kurang mendapat perhatian serius sehingga kinerja organisasi dan usaha taninya tak terukur. Mahasiswa agribisnis yang punya bekal bagus dalam pengelolaan usaha tani, tentu mampu mencarikan solusi terhadap masalah yang dihadapi petani.

Ia enjelaskan mahasiswa dapat memulai bisnis dengan ide sederhana dan terintegrasi. Misalnya dengan memelihara kambing, yang modalnya relatif kecil namun hasilnya sangat menjanjikan.

“Kencing kambing yang diolah jadi biourine dan dikemas dengan baik harganya mencapai Rp8.000/liter. Kotorannya dijadikan pupuk tanaman seperti kopi, pisang, durian dan lain-lain. Jadi biaya produksi pertanian bisa ditekan dengan memproduksi pupuk sendiri,” jelasnya memotivasi mahasiswa.

Terkait pengembangan agrowisata berbasis subak di Subak Jatiluwih, I Nengah Sutirtayasa menjelaskan semua itu merupakan bonus dari keuletan dan keteguhan petani Jatiluwih dalam menjalankan aktivitas pertanian yang tanpa merusak alam secara turun temurun. Sawah, katanya adalah tempat suci yang menjadi sumber penghidupan petani, maka petani sangat taat sama aturan yang disepakati dalam lembaga.

Penerapan filosofi Tri Hita Karana dalam kelembagaan subak dan pertanian ramah lingkungan seperti menanam padi varietas lokal melalui sistem budidaya pertanian organik. Keindahan alam Jatiluwih sangat disenangi wisatawan internasional terutama dari Eropa dan predikat Subak Jatiluwih sebagai bagian dari warisan budaya dunia sejak tahun 2012 membuka peluang pengelolaan agrowisata secara baik.

DTW Jatiluwih yang dibentuk sejak tahun 2014, bertugas dalam pengelolaan potensi wisata dan hasil aktivitas agrowisata. Selain pemandangan alam yang indah, agrowisata Jatiluwih menawarkan pengalaman aktivitas budidaya pertanian, budaya pertanian serta yang lainnya. Diakuinya, saat ini aktivitas kepariwisataan mulai pulih.

Mahasiswa yang mengikuti praktisi mengajar mengaku sangat berkesan karena banyak mendapatkan informasi baru yang akurat melengkapi teori dan konsep agrowisata yang sedang dipelajari sebelumnya. (BB/501)

Sumber: http://unud.ac.id

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button