Wednesday, 12-06-2024
Seminar

Peduli Bahaya Rokok, Milenial Diharapkan jadi Agen Penegak Perda KTR

Ket foto: Teguh Bahari Utama, S.KM, selaku narasumber dari Dinas Kesehatan Kota Denpasar dalam workshop terkait penguatan program Denpasar Sehat tanpa Asap Rokok di Denpasar beberapa waktu lalu (ist/rmt)

Denpasar | barometerbali – Kaum milenial diharapkan membentuk komunitas atau perkumpulan remaja peduli bahaya rokok dan menjadi agen penegak Perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) di sekolah maupun kampusnya masing-masing. Teguh Bahari Utama, S.KM, selaku narasumber dari Dinas Kesehatan Kota Denpasar, menyampaikan hal itu dalam workshop yang digelar Pemerintah Kota Denpasar melalui Dinas Kesehatan Kota Denpasar bersama Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (IAKMI) Bali menghadirkan siswa dan mahasiswa dari sekolah dan kampus di Kota Denpasar belum lama ini.

“Di dalam Perda Kota Denpasar No 7 Tahun 2013, sekolah atau kampus termasuk dalam kategori tempat yang harus menerapkan 100% KTR. Tidak hanya di dalam gedung saja, tetapi batasannya adalah sampai batas pagar terluar. Ada beberapa indikator yang harus dipatuhi, diantaranya adalah tidak ada orang merokok, tidak ada puntung rokok, tidak tercium bau asap rokok, tidak tersedia asbak, tidak ada tempat khusus merokok, harus ada tanda KTR, tidak ada sponsor dan iklan rokok, serta tidak ada yang menjual rokok,” beber Teguh.

Penurunan prevalensi perokok remaja menjadi salah satu target RPJMN, yaitu dari 9,1% di tahun 2018 menjadi 8,7% di akhir tahun 2024.

Dengan dilaksanakannya workshop bertemakan “Youth Voices for Healthy Choices: Lead to Smoke-Free Generation”, Teguh berharap generasi muda dapat bebas dari belenggu rokok dan berkesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara optimal serta dapat terhindar dari berbagai penyakit di masa depan.

“Di tengah gempuran promosi dan iklan rokok di sekitar kita, remaja berperan penting sebagai peer educator (pendidik sebaya) sekaligus peer influencer (pemberi pengaruh sebaya) bagi teman sebaya dan lingkungannya untuk bersama-sama sadar akan bahaya rokok dan menghindari kebiasaan merokok. Saya harap peserta yang datang hari ini bisa menyebarkan pengaruh positif untuk tidak merokok bagi teman-temannya,” paparnya.

Bernadette Fellarika Nussarrivera dari The Union menyampaikan bahwa iklan rokok yang masih mudah ditemukan di warung-warung atau toko modern dengan kata-kata yang menarik menjadi pemicu rasa penasaran kalangan remaja untuk mencoba rokok. Iklan rokok juga menampilkan “image” bahwa perilaku merokok adalah hal yang lumrah dan wajar.

Hal yang dapat dilakukan remaja untuk mengurangi jumlah perokok tegasnya adalah untuk berhenti merokok dan tidak memulai merokok, mengajak semua anggota keluarga untuk hidup sehat tanpa rokok, dan memastikan pelaksanaan Perda KTR di sekolah/kampusnya masing-masing. Kami juga berharap agar peserta bisa berperan aktif untuk melaporkan pelanggaran Perda KTR di kawasan lainnya.

“Apabila mereka menemukan orang merokok di taman kota, rumah sakit atau kawasan lainnya, hal ini dapat dilaporkan ke website Pengaduan Rakyat Online Kota Denpasar (Pro Denpasar),” jelas Bernadette.

Dalam workshop ini, Ketua Kelompok Mahasiswa Peduli Bahaya Tembakau (KMPT) Universitas Udayana, Luh Putu Sintya Devi Agustin juga turut hadir dan menceritakan berbagai upaya yang telah dilakukan oleh komunitasnya.

“Komunitas memiliki power atau impact yang besar dan dapat memainkan peran sebagai garda terdepan menghadai isu-isu tertentu dan menggerakkan orang lain/masyarakat. Remaja dapat berekspresi dan menyuarakan hal-hal positif, salah satunya adalah untuk tidak merokok, tentunya dengan cara-cara yang kreatif dan kekinian untuk menggaet lebih banyak audiens,” ujarnya menyampaikan pentingnya komunitas remaja dalam menangkis isu bahaya tembakau.

“KMPT sendiri merupakan Komunitas Mahasiswa Peduli Bahaya Tembakau di bawah naungan HMKM FK Unud. KMPT tidak hanya berorientasi pada kegiatan organisasi dan kampus namun juga memiliki program pengabdian kepada masyarakat,” tambahnya

KMPT menurutnya secara konsisten dan terus-menerus berusaha mengkampanyekan bahaya tembakau serta mengawal pelaksanaan KTR di lingkungan sekolah atau kampus.

“Menjadi seorang remaja merupakan kesempatan yang berharga sebagai agent of change dan menolak menjadi bagian dari target industri rokok dan mengawal pelaksanaan program pengendalian rokok,” tandas Sintya. (BB/501/rmt)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button