Saturday, 22-06-2024
Hukrim

Dilaporkan ke Polda Bali, Buntut RSUD Wangaya dan RSU Manuaba Tolak Pasien

Ket foto: Penasihat Hukum I Wayan Gede Mardika, S.H., M.H., (kanan) dan Dewa Nyoman Wiesdya Danabrata Parsana, S.H., S.E., (kiri) dari LBH Paiketan Krama Bali mendampingi putra korban Made Alit Putra (tengah) saat memberikan keterangan pers, di Denpasar, Minggu (16/10/2022). (BB/db)

Denpasar | barometerbali – Meninggalnya seorang ibu Nengah Sariani (44) akibat ditolak dan tak diberikan pertolongan pertama oleh pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wangaya dan Rumah Sakit Umum (RSU) Manuaba Denpasar, akhirnya berbuntut panjang. Sang suami, Kadek Suastama tetap bersikukuh membawa masalah kehilangan nyawa istri tercinta ke ranah hukum dengan membuat laporan ke Polda Bali.

“Ya benar dilaporkan tanggal 4 Oktober lalu. Pihak keluarga korban telah sepakat membawa kasus ini ke jalur hukum. Bahkan, untuk RSUD Wangaya telah diatensi pihak yang berwajib dengan Nomor Registrasi Dumas/827/x/2022/SPKT/Polda Bali,” ungkap I Wayan Gede Mardika, S.H., M.H., didampingi Dewa Nyoman Wiesdya Danabrata Parsana, S.H., S.E., selaku Advokat/Penasihat Hukum korban dari LBH Paiketan Krama Bali saat memberikan keterangan pers, di Denpasar, Minggu (16/10/2022).

Dengan peristiwa yang mengenaskan dan memantik reaksi keras publik ini, Mardika yang juga didampingi putra korban, Made Alit Putra (20), mengingatkan agar di masa mendatang insiden yang miris ini tidak terjadi lagi di kemudian hari. Ia berharap kasus meninggalnya ibu yang sebelumnya sehari-hari berjualan ceper (bahan sesajen-red) di Pasar Kumbasari ini, ke depannya tidak menjadi preseden buruk kinerja layanan kesehatan publik kepada masyarakat.

Terkait dasar melaporkan Pimpinan Rumah Sakit dan dokter ke Polda Bali atas dugaan melanggar Undang Undang kesehatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 32, pasal 190 ayat 1 dan ayat 2 Undang-Undang no 36 tahun 2009 tentang kesehatan yang mana ayat 2 dan Pasal 59 ayat 1 UU no 36 tahun 2014 tentang tenaga kesehatan serta KUHP mengakibatkan korban meninggal dunia.

“Ancaman pidananya paling lama 10 tahun dan denda paling banyak 1 miliar rupiah,” imbuh Dewa Wiesdya.

Lebih lanjut Made Alit Putra (20) putra dari Nengah Sariani menyampaikan, kronologis kejadian bermula dari sang ibu yang mengalami batuk berdarah. Lalu dia bersama kakak perempuannya Putu Eva Sopiani, berinisiatif melarikan ibunya segera ke RSUD Wangaya yang terdekat dari rumahnya (Jl. Wibisana Denpasar Barat-red) pada 24 September 2022 pukul 20.30 Wita dengan berbonceng bertiga.

“Sampai di RSUD Wangaya ada satpam, namun satpam bilang kenapa itu batuk berdarah. Kemudian memanggil dokter, namun tidak datang. Lalu saya masuk ke dalam suruh nunggu. Ada dokter perempuan datang bilang kalau ruangan penuh tidak ada bed (ranjang). Saya minta pertolongan pertama saja juga tidak bisa karena tidak ada bed terus disarankan ke Manuaba,” tutur Alit dengan raut muka sedih.

“Kami kemudian pinjam ambulans untuk ke Manuaba tidak dikasih juga. Akhirnya kami kembali naik sepeda motor bertiga langsung ke Manuaba. Tiba di Manuaba pas situasi masih di atas motor panggil dokter ke dalam, dipegang tangan ibu sama dokter laki-laki, dicek disarankan langsung ke Sanglah. Di Manuaba pinjam ambulans tidak dikasih juga karena alasannya takut menjadi masalah rumit,” sambungnya.

Pada saat itu juga dalam keadaan panik, dengan sepeda motor Alit dan kakak perempuannya bergegas mengendarai sepeda motor Scoopy-nya yang dipakai berbonceng (bertiga) ke RSUP Prof Ngoerah (Sanglah).

“Sampai kaki jempol kiri ibu saya lobang (luka terbuka-red) terseret aspal,” pungkasnya. (BB/501)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button