Monday, 22-07-2024
Peristiwa

Walikota Jaya Negara “Nyangging” di Metatah Massal PHDI Denpasar

Foto: Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara “nyangging” saat Upacara Metatah Massal di Kantor PHDI Kota Denpasar Jalan Ratna No. 71 Denpasar, Minggu (30/10/2022). (wr/phdi/dps)

Denpasar | barometerbali – Spirit Vasudhaiva Kutumbakam, semangat kebersamaan ternyata menjadi sebuah filosofi hidup yang meringankan dan memberi solusi di tengah kompleksitas kehidupan masyarakat kota.

“Pasca-Covid-19 perekonomian Bali secara umum belum pulih benar dan dampaknya juga dirasakan oleh umat Hindu di Kota Denpasar sehingga pelaksanaan Manusa Yadnya secara bersama-sama menjadi sebuah solusi yang meringankan umat,” jelas Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Denpasar I Made Arka S.Pd, M.PD I sela-sela pelaksanaan Manusa Yadnya, Metatah, Menek Kelih dan Pawintenan Saraswati Massal pada Minggu (30/10/2022) di Kantor PHDI Kota Denpasar Jalan Ratna No. 71 Denpasar.

Tampak hadir Sekretaris Daerah Kota Denpasar IB Alit Wiradana bersama perwakilan Forkompimda Kota Denpasar, Majelis Desa Adat Kota Denpasar, jajaran OPD di Kota Denpasar.

Walikota Denpasar IGN Jaya Negara pin hadir dan nyangging peserta metatah yang diikuti 200 warga. Sulinggih yang terlibat sebanyak 7 sulinggih yaitu, Ida Rsi Agung Yoga Siddhi Bang Pinatih, Ida Pedanda Gede Kompyang Beji, Ida Pandita Mpu Jaya Ashita Santi Yoga, Ida Pandita Dukuh Budha Celagi Dhaksa Dharma Kirti, Ida Sire Empu Dharma Sunu, Ida Rsi Bujangga Waisnawa Putra Wirya Ardhanareswara dan Ida Bhagawan Viveka Dharma.

Di sela-sela upacara Wali Kota IGN Jaya Negara mengatakan, metatah ini merupakan upacara Manusa Yadnya yang wajib dilakukan umat Hindu dalam hal ini para orang tua kepada anak khususnya yang akan menginjak usia remaja atau dewasa.

“Upacara ini merupakan upaya menetralisir sifat buruk pada diri manusia atau Sad Ripu yang meliputi Kama (sifat penuh nafsu indria), Lobha (sifat loba dan serakah), Krodha (sifat kejam dan pemarah), Mada (sifat mabuk atau kemabukan), Matsarya (sifat dengki dan iri hati), dan Moha merupakan (sifat kebingungan atau susah menentukan sesuatu).

Ditambahkannya Metatah Massal merupakan wujud bhakti kepada Sang Pencipta.

“Walaupun dalam kondisi pandemi Covid-19 kita harus tetap ber-yadnya, sehingga tercipta hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, begitupun manusia dengan alam lingkungan harus tetap dijaga sebagaimana mestinya, sehingga kehidupan tetap harmonis tetapi dengan catatan untuk selalu mematuhi protokol kesehatan agar kita semua terhindar dari bahaya penularan virus Covid-19,” kata Jaya Negara.

Lebih jauh Ketua PHDI Kota Denpasar Made Arka menyatakan di tengah situasi perekonomian pasca Covid-19 seperti ini, jangan sampai pelaksanaan upacara yadnya menjadi beban bagi umat sehingga perlu gerakan bersama dan saling berbagi dalam pelaksanaan sebuah yadnya. Kegiatan ini juga sebagai bentuk pelayanan kepada umat serta untuk mewujudkan spirit vasudhaiwa kutumbhakam, semangat kebersamaan dan gotong royong.

“Upacara manusa yadnya bersama ini sebagai upaya mengukuhkan PHDI sebagai lembaga pelayan dan pengayom umat,” jelas mantan aktifis mahasiswa ini.
Menurutnya PHDI merupakan lembaga umat yang bertugas memberikan solusi bagi permasalahan umat serta memberikan pelayanan untuk memenuhi kebutuhan umat khususnya terkait pelaksanaan ajaran agama. Pihaknya berharap dengan berbagai inovasi dan peningkatan pelayanan kepada umat, keberadaan PHDI akan semakin dirasakan dan dicintai umat.

Selama ini PHDI telah memberikan pelayanan dalam berbagai hal antara lain edukasi dan sosialisasi ajaran-ajaran agama dalam berbagai kesempatan, melakukan kursus kepemangkuan, penetapan pinandita dalam proses Diksa Pariksa, pelaksanaan sudhi wadhani serta berbagai bentuk pelayanan umat.

“Lembaga Parisada bersama Majelis Desa Adat juga hadir dalam memberikan solusi bagi permasalahan agama dan adat serta sengketa dan permasalahan umat lainnya” ujar penekun bela diri pencak silat ini.

Ketua Panitia Karya Dr. AA. Ngurah Agung Wira Bima Wikrama menambahkan bahwa kegiatan manusa yadnya bersama juga sebagai upaya edukasi untuk menepis anggapan yang muncul bahwa yadnya menjadi beban umat karena mahal dan repot.

“Karena digelar dengan balutan spirit kebersamaan dan gotong royong tentu akan jauh lebih mudah, murah dan praktis,” ujar Tokoh Puri Satria ini. Panitia Karya yang diwakili Turah Bima juga mengapresiasi Walikota Denpasar IGN Jaya Negara yang mendukung kegiatan ini.

“Walikota Jaya Negara bahkan bersedia turut ngayah nyangging dalam kegiatan yang melibatkan warga Kota Denpasar dari berbagai kalangan ini,” jelas Wakil Ketua DPRD Kota Denpasar periode 2009 -2014 ini.

Dalam kesempatan ini pihaknya juga mengapresiasi para donatur yang telah berpartisipasi dan mendukung kegiatan yang menyasar kepada para generasi muda di Kota Denpasar ini.

“Ini semua sebagai perwujudan dari spirit Kota Denpasar, Vasudhaiwa Kutumbakam sekaligus sebagai simbol bhakti umat dan donatur kepada Ida Hyang Widhi dan kepedulian kepada sesama,” ujar Wira Bima lagi.

“Selain punia dari donatur, para peserta juga mapunia dana dengan besaran sukarela,” ucap Ketua Panitia Wira Bima.

Termasuk para panitia dan pengurus PHDI Kota Denpasar juga mapunia dana seikhlasnya sebagai wujud kebersamaan dan kepedulian kepada umat.

“Harapannya acara Manusa Yadnya ini dapat berjalan lancar dan memberikan manfaat yang dapat dirasakan umat,” pungkas Wira Bima lagi. (BB/501).

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button