Monday, 22-07-2024
Pendidikan

Prof Pitana Ranking 18 dari Top 100 Ilmuwan Sosial Indonesia

Sebut Unud selalu berikan atmosfer positif bagi akademisi

Foto: Prof. Dr. Ir. I Gde Pitana, M.Sc., yang juga seorang Sulinggih bergelar Ida Mpu Brahmananda berhasil meraih ranking 18 dari Top 100 Ilmuwan Sosial di Indonesia. (jb/unud)

Denpasar | barometerbali – Prestasi membanggakan ditorehkan oleh 2 dosen Universitas Udayana (Unud) yang berhasil masuk dalam jajaran Top 100 Ilmuwan Sosial di Indonesia. Mereka adalah Prof. Dr. Ir. I Gde Pitana, M.Sc., yang menempati peringkat 18, dan Prof. Dr. I Wayan Ardika, M.A., yang menduduki peringkat 47. 

Secara global maupun spesifik, perankingan Top 100 ini meliputi negara-negara seperti Afrika, Asia, Eropa, Amerika Utara, Oceania, Arab League, ECCA, BRICS, Amerika Latin dan COMESA, yang didasarkan pada total H-index tanpa merinci area subyeknya. 

Ranking Top 100 ini meliputi subjek Pertanian dan Kehutanan, Seni, Desain dan Arsitektur, Bisnis dan Manajemen, Ekonomi dan Ekonometrika, Pendidikan, Teknik dan Teknologi, Sejarah, Filosofi, Teologi, Hukum dan Ilmu Hukum, Kedokteran, IPA dan Ilmu Sosial. Yang menjadikan prestasi ini luar biasa adalah TOP 100 mempunyai kriteria yang sangat layak, karena perangkingannya berdasarkan H-indeks dan Citation, di mana kriteria sangat sulit untuk dimanipulasi.  

Prof. Dr. Ir. I Gde Pitana, M.Sc., ketika dihubungi menyatakan bahwa capaian ini adalah karena Universitas Udayana memberikan atmosfer yang bagus untuk para dosen untuk berkarya.

“Capaian ini sebenarnya bukan semata-mata saya sendiri, karena saya banyak menulis bersama dengan mahasiswa bimbingan saya. Jadi, kredit layak saya berikan kepada para mahasiswa, terutama bimbingan S3 saya,” ucap pria kelahiran Tabanan ini.

Prof Pitana saat ini tercatat sebagai salah satu dosen tetap pada Prodi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Udayana. Ia adalah salah satu profesor dengan pengalaman kerja yang luar biasa dan terkenal dengan produktif ditengah kesibukannya. 

Sejak 2001 dipercaya untuk berkarir di Kementerian Pariwisata, dimulai dengan menjabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Direktur Promosi Pariwisata Luar Negeri Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia, Deputi Menteri Pariwisata Bidang Pengembangan Pemasaran Mancanegara Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, dan sejak tahun 2020 dipercaya sebagai Tenaga Ahli Gubernur Bali bidang Pariwisata dan Festival Thematik. Di tengah beragam kesibukan, Prof Pitana ternyata memiliki rahasia membagi waktu dengan baik. 

“Saya banyak menulis di dalam perjalanan, terutama pada waktu menunggu pesawat di bandara, atau saat di dalam pesawat yang terbang berjam-jam. Itulah sebabnya, saya katakan tadi, saya selalu rajin mencatat data untuk bisa dituangkan menjadi tulisan. Kebetulan ilmu yang saya tekuni masih relatif muda (pariwisata), sehingga belum begitu banyak ada referensi.  Dengan demikian, apapun yang saya tulis, akan banyak dibaca dan dikutip”, ungkap pria yang pernah menjadi Guest Lecturer di Wageningen University, Wageningen, Belanda.

Prof Pitana yang kini menyandang sebagai seorang Sulinggih bergelar Ida Mpu Brahmananda ini menambahkan, seorang akademisi tentu saja dinilai dari capaian akademisnya, seperti tulisan atau sitasi. Salah satu hal yang Ia lakukan adalah dengan melakukan bimbingan yang sungguh-sungguh, baik untuk penulisan skripsi, thesis, maupun disertasi.

“Sehingga dari karya mahasiswa tersebut, ia melakukan penulisan bersama sehingga menghasilkan karya ilmiah yang baik,” tutup Prof Pitana. (BB/501)

Sumber: http://www.unud.ac. id

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button