Monday, 22-07-2024
Info

Paman Disebut Kuras Tabungan 2 Anak Yatim

Foto: Johanes Gazali (kiri) dan adiknya Abraham Gazali (kanan) saat menyampaikan pengaduannya kepada awak media di Kuta Utara, Badung, Rabu (30/11/2022). (BB/db/ag)

Denpasar | barometerbali – Betapa prihatin nasib yang dialami Johanes P Gazali dan adiknya Abraham P Gazali karena ratusan juta uang tabungan mereka dikuras habis oleh pamannya sendiri. Hal tersebut dituturkan Johanes Gazali saat ditemui awak media, di kontrakannya kawasan Kuta Utara, Badung, Rabu (30/11/2022).

Saat itu masih mereka masih dalam keadaan berduka karena sang ayah, Herman Gazali, pemilik UD Putra Tehnik Denpasar baru saja menghembuskan nafas terakhirnya. Mereka mengaku mengalami tekanan mental dan dibentak dengan kata-kata kasar oleh sang paman inisial HG, adik dari alm Herman Gazali dipaksa menandatangani pemindahbukuan tabungan di rekening atas nama Johanes P Gazali (17 th) dan adiknya yang masih di bawah umur, Abraham P Gazali (15 th) ke rekening atas nama pamannya itu di ruang prioritas Gedung BCA KCU, Jl. Hasanudin, Denpasar.

“Awal kejadian, pagi itu di tanggal 23 Januari tahun 2017, saya menjaga jenazah ayah saya di Rumah Duka Kerta Semadi Denpasar dan tiba-tiba saya dijemput pegawai toko, untuk menemui paman saya. Ternyata saya dibawa ke BCA KCU Hasanudin. Di sana saya menjumpai adik saya. Kami kemudian digiring ke satu ruangan dengan diikuti paman saya, teman-temannya dan 3 pegawai toko Putra Tehnik. Di tempat itu kami dicaci maki, dibentak dan mengatakan akan membunuh mama sehingga adik saya menangis ketakutan. Tujuan sebenarnya adalah paman ingin memindahkan uang di rekening kami ke rekening dia yang jauh lebih besar dengan alasan memudahkan dia mengoperasionalkan toko Putra Tehnik,” papar Johanes Gazali.

“Karena kami awalnya tidak mau, dia naik pitam. Karena ketakutan, terpaksa kami menandatangani apa yang diingini paman sehingga saat itu juga kami kehilangan tabungan sebesar Rp900 juta tersisa Rp65 ribu di rekening saya dan Rp51 ribu di rekening adik saya,” sambungnya.

Pamannya beralasan mutasi dana tersebut dilakukan untuk keperluan toko. Tapi, pada saat itu kedua rekening miliknya dan adik (Abraham Gazali) tiba-tiba statusnya terblokir. Johanes Gazali dan adiknya saat itu dipaksa untuk menandatangani surat pembukaan blokir rekening, tapi dirinya tidak mau.

“Karena kejadian ini, kami berdua tidak dapat melanjutkan pendidikan, karena sampai saat ini kami tidak mendapatkan hasil sepeserpun dari keuntungan toko ayah kami. Dan semua aset ayah kami dirampas oleh adik ayah kami termasuk uang di rekening ayah kami di Bank Maspion Denpasar yang juga bisa dikeluarkan oleh paman kami di tanggal (23/1/2017) juga. Sedangkan alm ayah kami meninggal tanggal (21/1/2017),” ungkapnya.

“Yang menjadi pertanyaan kami, bagaimana bank bisa mendebet uang di rekening almarhum sebesar Rp1.174.833,812 tanpa konfirmasi ke ayah dan kami selaku ahli waris? Dan yang lucu bagi kami, saat itu saldo almarhum sebesar Rp1.175.844,812. Dan bagaimana almarhum bisa menandatangani RTGS di tanggal yang sama dengan nominal yang dikeluarkan tadi? Sejumlah kejanggalan kami temukan di rekening koran ayah kami di Bank Maspion,” lanjutnya.

Johanes mengaku sudah melaporkan permasalahan ini ke Ditkrimsus Polda Bali, tetapi penangananya masih berjalan di tempat. Dirinya dan adiknya sudah berjuang selama 5 tahun agar mendapatkan haknya kembali.

“Saya dan adik saya berharap Polda Bali khususnya para penyidik Ditkrimsus dapat segera mengusut tuntas masalah ini. Kami berharap segera mendapatkan keadilan,” harap Johanes.

Adanya pengaduan kedua kakak beradik ini pihak BCA dan Bank Maspion dan pihak sang paman inisial HG dan kuasa hukumnya hingga kini belum dapat dimintai tanggapannya. (BB/501)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button