Monday, 22-07-2024
Orkes

RSUD Wangaya Olah Limbah Medis 125 Kg per Hari

Disebut satu satunya insinerator rumah sakit di Bali yang beroperasi berbasis regulasi

Bagian kiri foto: Direktur RSUD Wangaya dr Anak Agung Made Widiasa (kanan) mendampingi Wakil Direktur Penunjang dan Pengembangan SDM RSUD Wangaya, dr Ida Ayu Asweni Dewi (tengah) saat memberikan penjelasan kepada awak media Agustinus Apollonaris K. Daton (kiri) tentang pengelolaan limbah medis dengan insenerator (foto kanan) di RSUD Wangaya Denpasar, Rabu (18/01/2023). Kolase: poll/rsud wangaya

Denpasar | barometerbali – Polemik penolakan angkutan transportasi limbah medis oleh kapal feri di Pelabuhan Gilimanuk beberapa waktu lalu sesungguhnya tidak perlu berlarut-larut apabila semua rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) di Bali punya mesin pengolah limbah medis atau insinerator.

Pengertian insenerator adalah alat yang digunakan untuk membakar limbah dalam bentuk padat dan dioperasikan dengan memanfaatkan teknologi pembakaran pada suhu tertentu.

Terbukti RSUD Wangaya Denpasar punya mesin insenerator, dan satu-satunya di Bali beroperasional sejak awal tahun 2020. Dari sisi SDM dan biaya jauh lebih efisien ketimbang mengangkut limbah medis untuk di bawa ke tempat pengolah limbah medis yang kebanyakan berlokasi di Pulau Jawa.

Ketika ditemui di ruang kerjanya oleh awak media, Wakil Direktur Penunjang dan Pengembangan SDM RSUD Wangaya, dr Ida Ayu Asweni Dewi menceritakan, mesin pemusnah limbah medis (insinerator) di RSUD Wangaya itu diperoleh dari Badan Kerja Sama Internasional Jepang atau yang lebih dikenal dengan nama JICA.

“RSUD Wangaya mendapat hibah Insinerator dari Jepang di tahun 2017. Kemudian pengurusan izinnya setelah diuji coba dulu selama dua tahun. Karena tidak bisa langsung mengurus izin, diuji coba dulu selama dua tahun. Kemudian alatnya dibawa ke Kementerian Lingkungan Hidup untuk sertifikasi,” terang dr Dayu Asweni panggilan akrabnya didampingi Direktur RSUD Wangaya, dr Anak Agung Made Widiasa, Rabu (18/01/2023).

Setelah mendapat sertifikasi dari Kementerian Lingkungan Hidup pihak rumah sakit lalu mengurus izin operasional. Tahun 2019 mengajukan izin operasional berlaku sampai tahun 2025.

“Operasional insinerator ini hanya untuk mengolah sampah medis di RSUD Wangaya. Tidak boleh menerima sampah medis dari luar. Jika menerima sampah medis dari luar RS Wangaya, maka harus mengurus izin lagi. Kami hanya mengolah limbah medis di internal rumah sakit,” paparnya sembari menjelaskan mengurus sampah medis sendiri sudah kewalahan.

Ia mengatakan, dalam sehari mesin insinerator di RSUD Wangaya mengolah limbah medis 125 kg. Dan abu (residu) dimasukkan ke drum lalu disemen setelah tiga bulan baru boleh dibawa keluar dan diangkut oleh transporter limbah medis.

“Dalam sehari kami mengolah 125 kilogram limbah medis. Setelah diolah hasilnya (residu) hanya sekantong plastik. Residu itu dimasukan ke dalam drum, lalu disemen. Setelah tiga bulan baru diangkut oleh transporter limbah medis untuk dibawah ke PPLI (Prasadha Pamunah Limbah Industri) yang ada di Bogor, Jawa Barat,” ungkap dr Dayu Asweni.

Ketika ditanya bagaimana penanganan limbah medis di rumah sakit sebelum dan sesudah ada mesin insinerator? dr Dayu Asweni menjelaskan tentu ada perubahan dari sisi efisiensi dan SDM.

“Kalau dari biaya saya pastikan lebih efisiensi. Bisa hemat biaya 50 sampai 60 persen. Sebab kalau tidak ada insinerator biaya pengangkutan sampah limbah medis yang belum diolah lebih besar,” sebutnya.

Ia menjelaskan lagi, perbandingan efisiensi sebelum dan sesudah ada insinerator adalah sekitar 50 persen.

“Pengolahan dilakukan setiap hari, setelah itu abu atau residu dimasukkan ke drum. Setelah beberapa drum baru diangkut. Waktu pembakaran limbah medis tiap hari sekitar jam 9 – 10 pagi jam kerja,” ucapnya.

Jika ada kerusakan pada mesin insenerator, maka ada teknisi dari Bandung yang sudah kerja sama dengan Jepang sehingga lebih cepat tertangani.

“Dan jika ada kerusakan mesin maka limbah medis diangkut langsung oleh transporter. Untuk sementara kami tetap pakai satu mesin. Itu sudah cukup,” imbuhnya.

Ia menuturkan, waktu mengurus izin tidak ada kesulitan selama semua persyaratan dipenuhi. Dan selain itu selalu menjalin komunikasi dengan pihak Kementerian LHK di Jakarta.

“Karena kita mengurusnya tidak di sini, tapi di Jakarta. Sekaligus langsung presentasi. Setelah itu dianalisa lagi, jika ada kekurangan kita diminta melengkapi. Dulu setelah presentasi masih banyak kekurangan, lalu dipenuhi. Sebenarnya tidak susah, cuma ya memang harus kita bolak-balik. Dari pihak kementerian juga akan turun ke rumah sakit untuk visitasi, benar tidak seperti yang dipresentasikan,” tutup dr Dayu Asweni.

Pengolahan sampah medis di RSUD Wangaya sesunguhnnya sudah sejalan dengan Permen KLHK 56 Tahun 2015 tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis Pengolahan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun dari Fasilitas Layanan Kesehatan yang berdampak pada efisiensi dan efektif pada pengelolaan limbah. (BB/501/poll)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button