Monday, 22-07-2024
Hukrim

Made Sutrisna Ngotot Tolak Eksekusi, Juru Sita: Perintah Pengadilan

EKSEKUSI: Juru Sita/Panitera Eksekutor PN Tabanan Nyoman Windia melakukan eksekusi tempat tinggal Made Sutrisna di Jalan Pulau Menjangan, Dauh Peken, Tabanan, pada Jumat (27/1/2023) pagi. Foto: BB/db

Tabanan | barometerbali – Walaupun termohon eksekusi Made Sutrisna menolak keras eksekusi namun Juru Sita/Panitera Eksekutor tetap tegas mengeksekusi rumah yang disebut sebagai “Griya Taban Sari”, di Jalan Pulau Menjangan, Dauh Peken, Tabanan, pada Jumat (27/1/2023) pagi.

Sebelumnya telah dilakukan pertemuan alot dan perdebatan sengit di Kantor Perbekel Dauh Peken, Tabanan antara pihak termohon eksekusi Made Sutrisna dengan Panitera PN Tabanan Nyoman Windia , SH, MH saat membacakan berita acara penetapan eksekusi.

Panitera PN Tabanan Nyoman Windia , SH, MH (dua dari kanan)

Made Sutrisna mengaku keberatan atas eksekusi yang dilakukan dan meminta pihak PN Tabanan untuk menunda proses tersebut hingga 5 April 2023 mendatang dikarenakan pihaknya bersama keluarga besar akan melaksanakan Upacara Piodalan dan Ngenteg Linggih di lahan sengketa tersebut.

“Saya sebagai masyarakat kecil merasa sangat dizalimi. Padahal saya sudah nyatakan menolak namun proses tetap dilaksanakan. Saya ini masih ada upacara pada April 2023 mendatang dan memohon eksekusinya diundur sampe tanggal 5. Saya kecewa sekali sebagai rakyat sudah tidak mendapatkan keadilan di tanah leluhur saya,” keluh Made Sutrisna yang sudah sepuh ini.

Akan tetapi rupanya hal itu tak mengurungkan niat dan upaya Juru Sita PN Tabanan Nyoman Windia mengeksekusi rumah milik keluarga besar I Made Sutrisna tersebut setelah adanya putusan per tanggal 2 Februari 2022 Nomor 2/Pdt Eks/2020/PN Tab, atas nama pemohon eksekusi Sagung Antari (SA) selaku pemenang lelang SHM No. 407/Dauh Peken (Griya Taban Sari), terhadap I Made Sutrisna yang merupakan pemilik sebelumnya.

Termohon eksekusi Made Sutrisna (pakaian adat putih kuning) saat pertemuan di Kantor Perbekel Dauh Peken, Tabanan (BB/dd)

Tim eksekutor PN Tabanan yang dipimpin langsung oleh I Nyoman Windia akhirnya bergerak menuju lokasi dan tetap melakukan eksekusi terhadap tempat tinggal termohon.

Saat dimintai konfirmasi di sela-sela pelaksanaan eksekusi, Windia kembali menegaskan proses eksekusi yang dilakukan pihaknya memiliki kekuatan hukum yang tetap, sehingga harus tetap dilakukan setelah sebelumnya sempat ditunda sebanyak 2 (dua) kali dari tahun 2020.

“Kami juga sudah memberikan teguran tertulis kepada pihak I Made Sutrisna selaku termohon untuk melakukannya secara sukarela,” jelasnya.

Terkait dengan adanya permintaan penundaan eksekusi oleh pihak termohon dengan alasan akan melakukan upacara keagamaan di tempat tersebut, pihak PN Tabanan menegaskan tidak ada alasan apapun yang menunda proses hukum yang dilakukan.

Ia menambahkan pihak pemohon (SA) sebagai pemilik SHM No. 407/Dauh Peken yang baru melalui hasil lelang oleh Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Lestari, telah memberikan banyak kelonggaran kepada pihak termohon (I Made Sutrisna) pemilik sebelumnya, dan mengizinkan pihak termohon untuk melakukan prosesi keagamaan di lahan sengketa tersebut hingga batas waktu yang ditentukan.

“Tidak ada alasan apapun yang dapat menunda proses eksekusi kita hari ini. Terkait prosesi keagamaan yang akan dilakukan oleh keluarga besar termohon (Made Sutrisna), kami tidak akan menghalangi, silahkan saja. Pihak pemohon (SA) juga sudah mengabulkan permintaan tersebut. Kita sudah jembatani dan pihak pemohon juga sudah bersurat ke kami bahwa tidak akan mengusik prosesi tersebut. Termohon juga sudah kami sampaikan, jika nanti hingga prosesi upacara dimulai ada pihak-pihak yang mengusik, bisa dilaporkan secara hukum pidana dan buktinya kami ada semua,” tutur Windia.

Made Sutrisna (kiri) menyampaikan pesan kepada Kuasa Hukum pemohon eksekusi Dr. I Made Sari, S.H., M.H., C.L.A (kanan) (BB/db)

Dimintai tanggapannya pihak pemohon eksekusi atas SHM No. 407/Dauh Peken dari hasil lelang BPR Lestari, SA, melalui kuasa hukum Dr. I Made Sari, S.H., M.H., C.L.A, menyebut bahwa pihaknya tidak akan mengganggu dan mengusik kegiatan upacara agama yang akan dilakukan oleh keluarga besar termohon hingga tanggal yang telah ditentukan oleh pengadilan.

“Kita hormati keputusan pengadilan. Kita juga sudah kasih izin untuk upacara. Kami tidak akan menghalangi,” kata pengacara BPR Lestari tersebut.

Dimintai tanggapan atas kehadiran Jero Bima yang bernama asli Ketut Putra Ismaya Jaya pada kesempatan tersebut, didasari isu bahwa proses eksekusi yang dilakukan PN Tabanan akan mengganggu dan menghambat kegiatan keagamaan yang akan dilakukan. Selaku tokoh masyarakat akhirnya bersama rekan di yayasan hadir untuk mengawal proses eksekusi yang dilakukan.

Usai mendengar adanya wacana dari PN Tabanan dan pihak pemohon bahwa akan memberikan izin untuk keluarga termohon bisa tetap melakukan prosesi keagamaan, Jero Bima mengaku bersyukur bahwa ada kebijakan agar kegiatan yang menyangkut agama dan adat tetap bisa dijalankan oleh keluarga termohon.

Lokasi “Griya Taban Sari” yang dieksekusi (BB/db)

Dirinya juga menegaskan, bahwa tidak akan terlibat jauh terkait permasalahan sengketa kedua belah pihak, tetapi pihaknya akan merasa terus terpanggil jika ada masyarakat Bali yang hak bergama dan beradatnya di kebiri.

“Kami dari Yayasan Kesatria Keris Bali intinya tidak akan mencampuri urusan sengketanya terlalu jauh. Yang penting kami hadir disini untuk memastikan, bahwa upacara agama yang akan dilakukan oleh keluarga Pak Made ini bisa tetap dijalankan. Jadi kami bersyukur ada kebijakan, dan saya harapkan upacara agama bisa berjalan tanpa ada gangguan,” tambah Jero Bima.

Nampak hadir sebagai saksi dalam proses eksekusi tersebut Sekretaris Desa Dauh Peken I Gede Darmawan, Kelian Dinas Br. Tegal Baleran I Gusti Bagus Surya.

Tampak depan bangunan yang dieksekusi oleh Juru Sita PN Tabanan (BB/db)

Babinsa Kodim 1619/Tabanan bersama pihak Kepolisian dari Polres Tabanan yang dipimpin Kabag Ops Polres Tabanan, Kompol I Nyoman Sukadana, SH, MH, dan sejumlah personel lainnya memastikan suasana Kamtibmas di tempat eksekusi berlangsung kondusif kendati sebelumnya sempat terjadi sedikit ketegangan akibat adu pendapat dan diwarnai walk out dari pihak Made Sutrisna saat pengumuman penetapan eksekusi di kantor desa. (BB/501)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button