Thursday, 25-07-2024
Peristiwa

Yayasan Cakra Mukya Wanantara Tanam Pohon Upakara di Pura Luhur Batu Lumbung

Eksplorasi potensi energi baru terbarukan di kawasan hutan lindung dan sumber mata air

Ketua Umum Yayasan Cakra Mukya Wanantara, Dr. I Made Pria Dharsana, S.H, M.Hum (tengah kanan) didampingi pengurus menyerahkan secara simbolis bibit pohon upakara kepada Jero Bandesa Adat Soka I Wayan Esiawan (tengah kiri) di Pura Luhur Batu Lumbung, Tabanan, Sabtu (28/1/2023). Foto: BB/pd

Tabanan | barometerbali – Menandai launching (peluncuran) Yayasan Cakra Mukya Wanantara para pengurusnya menggelar persembahyangan dirangkai aksi tanam berbagai bibit pohon upakara di kawasan hutan lindung Pura Luhur Batu Lumbung, Desa Adat Soka, Desa Senganan, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, pada Sabtu (28/1/2023) pagi.

Kegiatan ini digelar sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan alam dan pusat sumber air yang ada di bagian bawah areal pura selama ini dimanfaatkan dan didistribusikan oleh PDAM antara lain di wilayah Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan).

Persembahyangan bersama di jeroan Pura Luhur Batu Lumbung (BB/db)

Di sela-sela aksi penyerahan bibit dan penanaman pohon tersebut, Ketua Umum Yayasan Cakra Mukya Wanantara, Dr. I Made Pria Dharsana, S.H, M.Hum., menjelaskan, kegiatan ini dilaksanakan sebagai momentum peluncuran yayasan yang ditetapkan pada tanggal 22 Agustus 2022 sesuai akta Notaris Nomor 3 yang berkedudukan di Kota Denpasar, di mana acara dihadiri oleh puluhan anggota pengurus serta masyarakat sekitar.

Ditegaskan kembali, aksi hijaukan Bali yang dimotori oleh Yayasan Cakra Mukya Wanantara yang bermakna pelindung hutan yang utama, merupakan bentuk kepedulian lingkungan dengan segala sesuatu yang ada di sekitarnya, mencakup sumber daya alam seperti air, tanah, flora dan fauna. Dalam kegiatan kali ini, setidaknya ada sebanyak 55 bibit pohon yang ditanam dalam kegiatan kali ini, terdiri Nagasari, Cemara Gunung, Cendana, Gaharu, Majegau, Kemiri, Pinang, Sandat Bali, Pala, Tigaron, dan Pohon Bodi.

Ini merupakan langkah awal yang dilakukan oleh Yayasan Cakra Mukya Wanantara, untuk menjadikannya tanggung jawab bersama demi kelestarian alam Bali di masa yang akan datang. Selain itu, upaya untuk menggali adanya potensi sumber-sumber energi bersih terbarukan di berbagai pelosok wilayah di Bali.

Lokasi penanaman bibit pohon di kawasan hutan lindung (BB/pd)

Hal ini menjadi tantangan terbesar yayasan yang melatarbelakangi dilakukannya kegiatan kali ini sebagai pemicu untuk membangkitkan kepedulian dan minat, dengan mengolah serta memanfaatkan semua potensi secara bersama-sama.

Tak ketinggalan pula mengidentifikasi dan memahami sumber-sumber energi bersih dalam lingkungan kehidupan masyarakat setempat, baik potensi dalam wujud sungai atau mata air, sinar matahari hingga angin.

“Ini merupakan momentum launching Yayasan Cakra Mukya Wanantara, di mana hari ini kita pilih secara bersama-sama untuk diisi dengan agenda penanaman pohon bersama Jero Bandesa, Jero Mangku dan beberapa tempek (kelompok warga) di sini. Jadi memang yayasan yang kita dirikan ini, secara khusus bergerak di bidang lingkungan hidup dan sumber energi terbarukan, yang beranggotakan para praktisi dan ahli yang ada di Provinsi Bali. Jadi kita harapkan sinergi ini bisa menjadi hal yang positif bagi lingkungan, serta mampu mewujudkan Bali mandiri energi ke depannya,” papar Made Pria.

Antusiasme krama adat setempat saat menanam bibit pohon upakara (BB/pd)

Prof. Ida Ayu Giriantari selaku ahli bidang Sumber Daya Energi Terbarukan yang juga Wakil Ketua Pengurus Yayasan Cakra Mukya Wanantara menambahkan transisi energi di Bali hendaknya mampu lebih ditingkatkan.

“Saat ini makna tentang transisi energi baru sedikit didengar dan dipahami oleh kalangan masyarakat,” cetusnya.

Karena itu, Yayasan Cakra Mukya Wanantara mengambil inisiatif melalui kajian dengan menginformasikan kepada masyarakat akan makna transisi energi dengan segala agenda, program hingga targetnya di Desa Adat Soka.

“Saya kira kalau melihat kondisi di sini (Desa Adat Soka, red) ya, kemungkinan sumber air di sini bisa dijadikan sumber energi terbarukan, karena cukup besar. Tapi yang jelas, surya (tenaga matahari) sudah pasti bisa menjadi sumber terbarukan disini. Apalagi, Pura Luhur Batu Lumbung setiap perayaan pujawali kelistrikannya kan selalu terbatas, jadi bisa memanfaatkan tenaga matahari untuk energi alternatif,” tuturnya.

Prof Ida Ayu Giri Antari (dua dari kanan) di sela-sela penanaman bibit pohon upakara. (BB/db)

“Selain lebih ramah lingkungan, perawatannya juga lebih mudah. Ini kita akan kaji dulu, bagaimana ke depannya Desa Adat Soka bisa memiliki sumber energi terbarukan,” sambung Prof Dayu panggilan akrabnya.

Selain Dr. Made Pria dan Prof. Dayu, kegiatan yayasan yang didirikan oleh Dr. I Gusti Putu Anindya Putra, MSi ini juga turut dihadiri oleh para pakar dan ilmuwan lainnya yang tergabung di Yayasan Cakra Mukya Wanantara, seperti Drs. Komang Paramartha, Ms., Dr. Ir. Oka Suardi, Ir. Putu Dana, Ir. Bali Santono, Ni Luh Wihartini, Guntur AP, SH., Amik, dan Anjarini, SH, MKN, termasuk Staf Ahli Bupati Tabanan Ida Bagus Wiratmaja.

Dengan memperbesar skala informasi yang intensif, ke depan diyakini akan semakin banyak daerah di Bali yang mau peduli dan berminat merealisasikan sumber energi terbarukan. Tentu sebagai hal yang relatif baru bagi kebanyakan masyarakat desa di Bali, untuk melakoni transisi energi tentu bukan aktivitas yang mudah. Maka, penting adanya peran pendampingan dari para ahli dan praktisi dari Yayasan Cakra Mukya Wanantara jelas sangat dibutuhkan oleh masyarakat.

Bandesa Adat Soka I Wayan Esiawan yang didampingi Jero Mangku Wayan Mariasa selaku Mangku Gede Pura Batu Lumbung menyampaikan ucapan terima kasih atas kehadiran pengurus yayasan yang peduli terhadap lingkungan alam di sekitar kawasan pura dengan aksi penanaman pohon pinang ini.

Tityang (saya) mengucapkan terima kasih banyak kepada para pengurus Yayasan Cakra Mukya Wanantara yang sudah menanam bibit pohon sebagai sarana upakara pujawali Ida Bhatara Pura Batu Lumbung,” ungkap Bandesa Esiawan.

Kiri-kanan: Ketua Yayasan Cakra Mukya Wanantara Made Pria Dharsana, Jero Bandesa Adat Soka Wayan Esiawan, Sekretaris Yayasan Ni Luh Wihartini bersama Pendiri Yayasan IGP Anindya Putra dan para Jero Mangku Pura Luhur Batu Lumbung (BB/db)

Lebih lanjut ia menuturkan keberadaan pura ini sudah dikenal sebagai pusatnya sumber mata air Gembrong untuk dialirkan ke sebagian wilayah Bali sehingga patut mendapat perhatian dari semua pihak termasuk pemerintah daerah.

“Akan tetapi kami memohon kepada pemerintah seluruh Bali turut membantu menutupi kekurangan yang ada terutama untuk menjaga hutan lindung yang ada di areal Pura Baru Lumbung sebagai Gedong Simpen Sri Rambut Sedana,” tandas Bandesa Esiawan. (BB/501)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button