Wednesday, 12-06-2024
Kamtibmas

Pembuka Portal saat Nyepi Minta Maaf, Desa Adat Sumberkelampok Segera Parum

Warga Desa Sumberkelampok Muhamad Rasyad (kiri) dan Achmad Zaini (kanan, saat kejadian berbaju kaus loreng tentara-red) pelaku yang membuka paksa portal di pintu masuk Taman Nasional Bali Barat (TNBB) menuju Pantai Segara Rupek, Desa Sumberkelampok, Buleleng pada saat umat Hindu melaksanakan Penyepian akhirnya meminta maaf dalam pertemuan mediasi di Mapolsek Grokgak, Buleleng, Kamis (23/3/2023) pukul 12.30 Wita. (Tangkapan layar video/Polsek Grokgak)

Buleleng | barometerbali – Warga Desa Sumberkelampok yang memaksa membuka portal saat dijaga pacalang di pintu masuk Taman Nasional Bali Barat (TNBB) saat Hari Suci Nyepi Saka 1945/2023 akhirnya meminta maaf. Warga yang tidak menuruti perintah pacalang saat melarang kerumunan warga menuju Pantai Segara Rupek itu diketahui bernama Achmad Zaini (yang saat kejadian berbaju kaus loreng tentara, bercelana pendek biru-red) dan Muhamad Rasyad terungkap saat dilakukan mediasi di aula Mapolsek Gerokgak, Buleleng, Kamis (23/3/2023) pukul 12.30 Wita.

Kapolsek Gerokgak Kompol I Gusti Nyoman Sudarsana memberikan tempat untuk melakukan pertemuan, terkait peristiwa yang menodai keheningan pelaksanaan Catur Berata Penyepian tersebut.

“Tujuan dilakukannya mediasi disebutkan untuk mencari jalan keluar terbaik dan juga untuk tetap bisa mempertahankan toleransi kerukunan beragama,” kata Sudarsana.

Diharapkan juga menciptakan kedamaian serta rasa kekeluargaan dalam penyelesaiannya dan tentunya tidak terulang kembali peristiwa yang sama.

Dalam pertemuan tersebut Zaini menyampaikan permohonan maaf atas kesalahannya dengan dalih sebagai orang awam dan hanya tamat SD.

“Saya mohon maaf, beribu-ribu maaf atas kesalahan kemarin. Kalau ga gitu wih permasalahannya masyarakat masih banyak di sana. Makanya saya berinisiatif dibukalah portal itu, supaya ngga ada kerumunan. Sebagai orang biasa, orang awam, tidak tahu apa-apa, saya lulusan SD, karena tidak pegang ijazah, karena hilang ijazah. Saya mohon maaf kepada jero bandesa, semua masyarakat, termasuk pak mekel, saya mohon maaf. Itu terima kasih,” ungkap Zaini sembari mencakupkan tangannya di dasa didampingi Muhamad Rasyad.

Hadir dalam mediasi dari unsur Forkompincam Gerokgak serta MUI Kabupaten Buleleng, Ketua FKUB Kabupaten Buleleng , Perbekel Desa Sumberkelampok, Kelian Adat Desa Sumberkelampok, Ketua PHDI Kecamatan Gerokgak, Kesbangpol Kabupaten Buleleng, KUA Kecamatan Gerokgak dan perwakilan pacalang Desa Adat Sumberkelampok serta oknum masyarakat atas nama Zaini dan Muhamad Rasyad.

Kapolsek Grokgak Kompol I Gusti Nyoman Sudarsana memimpin pertemuan mediasi di Mapolsek Grokgak, Buleleng, Kamis (23/3/2023) (HMS Polres Buleleng/Smj)

Ketua MUI Kabupaten Buleleng H. Ali mengharapkan permasalahan ini dapat diselesaikan dengan kekeluargaan, untuk menjaga persatuan dan kesatuan dan bisa dimaafkan.

“Mewakili umat Islam, memohon maaf atas kejadian tersebut,” ucap H. Ali.

Begitu juga terhadap warga masyarakat yang diduga tidak menuruti perintah pacalang saat itu atas nama Zaini dan Mumahad Rasyad menyampaikan permohonan maaf atas tindakan yang telah dilakukan dan sebenarnya tidak bermaksud untuk mengganggu pelaksanaan hari raya Nyepi.

Dengan adanya permintaan maaf dari Ketua MUI dan juga dari Zaini dan Muhamad Rasyad, Bandesa Adat Sumberkelampok Jro Putu Artana belum bisa untuk memberikan keputusan perdamaian karena masih menunggu rapat dengan prajuru adat dan Kerta Desa, yang akan dilaksanakan pada Jumat (24/3/2023) pukul 19.30 Wita.

“Nanti hasil paruman akan disampaikan ke pihak Kepolisian dan FKUB Kabupaten Buleleng, dan kami jamin toleransi beragama di Desa Sumberkelampok tetap terjalin dengan baik,” harap Jro Putu Artana.

Sebelumnya diberitakan, keheningan umat Hindu melaksanakan Catur Brata Panyepian di Hari Raya Suci Saka 1945/2023 tercoreng ulah puluhan warga Desa Sumberklampok, Kecamatan Gerokgak melawan pacalang dan memaksa masuk ke Pantai Segara Rupek yang berada di Kawasan Taman Nasional Bali Barat (TNBB. Bahkan seorang warga dengan mengunakan kaos loreng memaksa membuka portal pintu masuk menuju Pantai Segara Rupek yang dijaga sejumlah pacalang dengan membuka langsung ikatan tali dan mempersilakan puluhan orang dengan sepeda motor dan mobil masuk ke Kawasan TNBB, Rabu (22/3/2023).

Dalam potongan video yang beredar di media sosial aksi buka paksa portal oleh warga yang dijaga pacalang, diawali dengan ketegangan di Dusun Tegal Bunder kawasan TNBB pintu masuk Segara Rupek. Pacalang adat yang melakukan penjagaan di pintu tersebut melarang warga untuk masuk karena melanggar aturan pelaksanaan Nyepi, hingga warga terus bertambah. Imbauan yang disampaikan pacalang pun tidak digubris oleh mereka.

“Mohon dengan hormat saling toleransi, saya mengharap kegiatan-kegiatan yang semacam ini memang dari dulu. Sekarang ada penegasan tidak boleh, mohon kesadarannya. Kalau besok tidak masalah,” tegas seorang pacalang adat Sumberklampok dalam video tersebut.

Meski diimbau dan diharapkan untuk kembali ke rumah masing-masing mengingat masih dilakukan rangkaian Hari Suci Nyepi, namun warga tetap bertahan, bahkan seorang warga membuka portal yang dijaga pacalang itu.

“Saya mau mencoba buka, ini kayak mau demo. Karena tidak musim lagi demo hargailah masyarakat, ayo satu per satu masuk tidak ada yang melarang walau bapak Kapolda, bapak polisi ke sini, biar tidak ramai di sini,” ujar warga berpakaian celana pendek biru dan berkaos loreng tentara.

Bahkan dengan jumawa pria ini juga menantang Kapolda untuk datang ke tempat itu.

Perbekel Desa Sumberklampok I Wayan Sawitra Yasa saat dikonfirmasi media melalui pesan singkat membenarkan terjadinya warga yang membuka paksa portal di pintu masuk Segara Rupek saat pelaksanaan Hari Suci Nyepi, bahkan pihaknya juga telah memberikan seruan bersama dalam toleransi beragama.

“Saya akan panggil warga, kronologi kejadian belum tahu, tadi pak jro bandesa telpon, belum aktif. Mungkin Sumberklampok harus selalu viral setiap hari raya Suci Nyepi. Warga bawa sepeda motor sudah pasti salah. Kami sudah berupaya menyampaikan seruan bersama terkait hari raya Suci Nyepi dan bulan puasa, akan tetapi masih ada pelanggaran yang dilakukan,“ ungkap Sawitra.

Pascadibukanya portal masuk tersebut, sejumlah aparat desa dan aparat keamanan langsung turun tangan untuk meredam peristiwa yang terjadi, bahkan sejumlah warga telah kembali ke rumah masing-masing termasuk warga yang telah berada di pesisir Pantai Segara Rupek.

Perbekel Sumberklampok juga menegaskan, kedatangan sejumlah warga masuk ke Kawasan TNBB, khususnya ke pantai tersebut bukan merupakan tradisi yang harus dilakukan saat umat Hindu melaksanakan Catur Brata Panyepian.

“Tidak tradisi, cuma masyarakat yang agak bengkung (bandel), kita sudah berupaya agar tidak ada aktifitas namun sudah seperti itu kejadiannya. Kita sebagai pemerintah desa dengan desa adat sudah merapatkan seluruh tokoh dan desa adat Sumberklampok untuk sama-sama menjaga ketertiban serta keamanan perayaan Hari Suci Nyepi dan bulan puasa sesuai seruan FKUB Kabupaten Buleleng. Sangat disayangkan Sumberklampok ada hal yang dilanggar,” keluhnya. (BB/501/BJ)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button