Tuesday, 20-02-2024
Seremonial

Jangan Tanya Agama dan Suku, Semuanya Boleh Beraktivitas di Pasraman Ini

Kolase: Pamelaspasan Pasraman Satyam Eva Jayate serta Padma Candi Nusantara di Hari Raya Saraswati dan Hari Kebangkitan Nasional, di Jalan Trengguli Gang IV D3, Penatih, Denpasar Timur, Sabtu (20/5/2023). (BB/KMHDI)

Denpasar | barometerbali – Bertepatan dengan Hari Suci Saraswati dan Hari Kebangkitan Nasional, Rumah Kebangsaan dan Kebhinnekaan Pasraman Satyam Eva Jayate menggelar upacara melaspas (upacara peresmian secara agama Hindu) pada Sabtu (20/5/2023). Pelaksanaan melaspas ini sekaligus diresmikan dan dibukanya Rumah KaKek untuk segala aktivitas bagi generasi muda tanpa membedakan ras, suku, dan agama.

Menariknya, pada melaspas yang dipuput oleh Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Gandha Kesuma dari Griya Giri Gandha Madana Penatih ini menggunakan tirta (air suci) yang berasal dari 45 pura di seluruh Nusantara. Jumlah ini juga sama dengan air yang dituangkan di kolam Lingga Yoni.

Ketua Panitia Melaspas, I Ketut Sae Tanju mengungkapkan upacara ini melibatkan sebanyak 45 orang pengayah (pembantu). Masing-masing mendapat bagian untuk membawa dan ngetisin (memerciki) tirta dari berbagai daerah ini.

“Kami libatkan anggota KMHDI (Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia) se-Bali termasuk para alumni sebagai pengayah untuk ngetisin tirta. Memang sengaja tidak dicampur, biar tetap sesuai asal dan jumlah aslinya,” terang Tanju usai acara melaspas.

Sebagai tempat dan wadah berkreativitas, Tandju menambahkan berbagai acara dan kegiatan terus dilaksanakan. Tak perlu menunggu lama, kegiatan sudah terjadwal hingga 1 Juni mendatang. Di antaranya kelas yoga dan meditasi, pembuatan biopori dan eco-enzyme, orasi kebangsaan, donor darah, hingga pentas seni.

“Acara hingga nanti pada saat tanggal 1 Juni. Kenapa hingga tanggal 1, karena kita ingin menjadikan kelahiran Pancasila sebagai puncak acara,” tandas Ketua Forum Alumni (FA) KMHDI Bali ini.

Sementara, Ketua Yayasan Rumah Kebangsaan Kebhinekaan Ketut Udi Prayudi menjelaskan momen melaspas ini dinilai sangat spesial. Bertepatan dengan hari suci Saraswati dan Hari Kebangkitan Nasional menandakan spirit pasraman Satyam Eva Jayate yang teguh terhadap dharma negara dan dharma agama.

“Harapannya momentum hari turunnya ilmu pengetahuan ini bisa membangkitkan semangat generasi muda untuk berbuat bagi negara,” ungkap Udi.

Mantan Komisioner KPU RI ini juga menjelaskan Rumah Kakek memiliki konsep kebangsaan dan nasionalisme. Pondasi bangunan dibangun dari batu seluruh Nusantara dari Sabang sampai Papua, dari Miangas sampai Pulau Rote Ndao.

Di pasraman ini, lanjut Udi, tidak terlepas dari angka atau simbol 17-8-45 atau tanggal proklamasi kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945.

“Boleh percaya boleh tidak dan bisa diukur sendiri bangunan ini ada tiang dan tangga. Ukurannya 17 cm untuk anak tangga, 8 buah tiang atau pilar utama dan lebar anak tangga 45 cm. Di sini juga ada biopori sebanyak 178 buah, simbol 17 bulan 8,” ulas dia sembari menjelaskan dalam room tour.

Untuk ruangan yang ada di beri nama-nama pahlawan dari seluruh Nusantara dari berbagai suku dan agama, seperti Ruang Bung Karno (Jawa), Ruang Bung Hatta (Sumatra), Ruang Gus Dur (Jawa), Ruang Tjilik Riwut (Kalimantan), Ruang Tut Nyak Dien (Aceh), Ruang John Lie (Sulawesi), Ruang Frans Kasiepo (Papua), Ruang Mr Ida Anak Agung Gede Agung (Bali), Ruang Christina Martha Tiahahu (Maluku) & Ruang Ida I Dewa Istri Kanya (Bali).

“Kami juga punya holly wall yang berisikan 17 kata-kata bahasa daerah tentang persaudaraan dari seluruh Nusantara. Holly wall ini mengapit Padma Candi Nusantara,” jelasnya lagi.

Mengusung jargon kebangsaan dan kebhinekaan Rumah KaKek ini dibangun untuk mewadahi beragam kegiatan pengembangan dan pembangunan generasi muda. Termasuk kegiatan kreatif, seni budaya dan kegiatan lainnya.

“Yang terpenting Pasraman Satyam Eva Jayate ini terbuka untuk siapapun tanpa membedakan suku dan agama. Dari kelompok manapun, agama apapun silakan kalau berkegiatan di sini. Asalkan positif dan membangun Indonesia,” tegas aktivis dan pegiat eco-enzyme ini.

Udi menambahkan jika pasraman ini menjadi yang pertama di Indonesia yang menerapkam spirit, narasi hingga Bangunan Berkebangsaan.

Acara melaspas ini juga dihadiri oleh Gubernur Bali yang diwakili Asisten III, anggota DPR dan DPD RI, anggota DPRD Bali, Wali Kota Denpasar, Kapolresta Denpasar, serta sejumlah anggota FA KMHDI dari berbagai daerah di tanah air.

Editor: Ngurah Dibia

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button