Saturday, 20-07-2024
Hukrim

Kasus “Paman Kuras Tabungan Ponakan”, Terduga Pelaku Bungkam

Foto: Pegawai HG bernama Rahmat saat ditemui awak media terkait kebenaran berita dan mengkonfirmasi keberadaan HG di UD Putra Teknik, Denpasar, pada Selasa (30/5/2023) lalu. (BB/DS)

Denpasar | barometerbali – Pihak pegawai UD Putera Teknik bernama Rahmat mengaku tak tahu menahu terkait kasus dugaan “Paman Kuras Tabungan Ponakan” yang melibatkan terduga HG selaku bos-nya. Saat dihubungi melalui sambungan telepon, HG yang berada di Surabaya enggan memberikan tanggapan atas pertanyaan awak media yang menyanggongi Toko Putera Teknik, Denpasar pada Selasa (30/5/2023).

Keberlanjutan kasus dua orang anak yatim bernama Abraham P Gazali dan Johanes P Gazali, dua orang putra dari almarhum (alm) Herman Gazali yang tabungannya diduga dikuras oleh sang paman HG mulai menemukan titik terang. Pasalnya, pihak Kepolisian dalam hal ini Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Bali mulai memberikan sinyal terkait proses Penyidikan untuk segera menetapkan tersangkanya, yang sempat tertunda selama hampir satu tahun.

Hal tersebut diungkapkan langsung oleh Johanes P Gazali selaku kakak dari Abraham P Gazali, saat dikonfirmasi melalui pesawat telepon, pada Kamis (2/6/2023) dini hari, dirinya menyebut bahwa pihak Polda Bali sudah melayangkan surat kepada adiknya Abraham P Gazali selaku pelapor, nomor B/79/V/RES.2.2/2023/DITRESKRIMSUS per tanggal 30 Mei 2023, perihal laporan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dan Penggelapan atas nama terlapor Hermes Gazali (HG), di mana dirinya diminta hadir dalam waktu dekat ini untuk kepentingan proses Penyidikan yang dilakukan pihak Kepolisian.

“Benar pak sudah direspon, kemarin diwakilin beliau (ibunya, red) di Polda untuk mengambil SP2HP-nya. Semoga Polisi segera menetapkan tersangkanya, hampir setahun menunggu semoga ada hasil,” ungkap Jo panggilan akrabnya.

Untuk dapat diketahui, kakak beradik tersebut yang saat itu masih dalam keadaan berduka karena sang ayah, Herman Gazali, pemilik UD Putra Tehnik Denpasar, Jalan Mahendradatta No. 168, baru saja meninggal dunia, mengaku mengalami penekanan dan dimaki-maki oleh sang paman HG adik dari (alm) Herman Gazali untuk menandatangani pemindahbukuan tabungan di rekeningnya atas nama Johanes P Gazali dan adiknya Abraham P Gazali di ruang prioritas Gedung BCA KCU Hasanudin, Denpasar.

“Awal kejadian, pagi itu di tanggal (23/1/2017) saya menjaga jenazah ayah saya di Rumah Duka Kertha Semadi Denpasar dan tiba-tiba saya dijemput pegawai toko, untuk menemui paman saya. Ternyata saya dibawa ke BCA KCU Hasanudin, di sana saya menjumpai adik saya. Kami kemudian digiring ke satu ruangan dengan diikuti paman saya, teman-temannya dan 3 pegawai Toko Putra Tehnik. Di tempat itu kami dicaci maki, dibentak dan mengatakan akan membunuh mama sehingga adik saya menangis ketakutan. Tujuan sebenarnya adalah paman ingin memindahkan uang di rekening kami ke rekening dia yang jauh lebih besar dengan alasan memudahkan dia mengoperasionalkan Toko Putra Tehnik. Karena kami awalnya tidak mau, dia naik pitam. Karena ketakutan, terpaksa kami menandatangani apa yang diingini paman sehingga saat itu juga kami kehilangan tabungan sebesar Rp900 juta tersisa hanya Rp65 ribu di rekening saya dan Rp51 ribu di rekening adik saya,” jelas Abraham, Rabu (30/11/2022) lalu.

“Karena kejadian ini, kami berdua tidak dapat melanjutkan pendidikan, karena sampai saat ini kami tidak mendapatkan hasil sepeserpun dari keuntungan toko ayah kami. Dan semua aset ayah kami dirampas oleh adik ayah kami termasuk uang di rekening ayah kami di Bank Maspion Denpasar yang juga bisa dikeluarkan oleh paman kami di tanggal 23 Januari 2017 juga, sedangkan almarhum ayah kami meninggal tanggal 21 Januari 2017. Yang menjadi pertanyaan kami, bagaimana bank bisa mendebet uang di rekening almarhum sebesar Rp1.174.833,812 tanpa konfirmasi ke ayah dan kami selaku ahli waris? Dan yang lucu bagi kami, saat itu saldo almarhum sebesar Rp1.175.844,812. Dan bagaimana almarhum bisa menandatangani RTGS di tanggal yang sama dengan nominal yang dikeluarkan tadi? Sejumlah kejanggalan kami temukan di rekening koran ayah kami di Bank Maspion,” paparnya.

Dirinya mengaku sudah melaporkan permasalahan ini ke Ditkrimsus Polda Bali, tetapi penanganannya masih berjalan di tempat hingga saat ini. Diketahui, berdasarkan Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan (SP2HP) nomor B/284/IX/RES.2.2/2022/Ditreskrimsus, telah diterapkan persangkaan dugaan tindak pidana penggelapan dan tindak pidana pencucian uang (TPPU) dari (alm) Herman Gazali yang diduga dilakukan oleh HSG, sebagaimana dimaksud dalam pasal 372 KUHP dan pasal 3 Undang-undang Republik Indonesia nomor 8 tahun 2010 tentang TPPU.

Saat disinggung terkait hal tersebut, Direktur Reserse Kriminal Khusus (Direskrimsus) Polda Bali, Kombes Pol. Roy Hutton Marulamrata Sihombing saat dihubungi langsung oleh wartawan melalui pesan singkat WhatsApp (WA) pada Rabu (24/5/2023) kemarin menyebut, bahwa kasus tersebut masih dalam proses untuk menentukan ada tidaknya perbuatan pidana yang diduga dilakukan oleh tersangka HG.

“Lidik itu masih menuntukan ada tidaknya peristiwa pidana. Sedangkan sidik, baru ada tidaknya perbuatan pidana yang diduga dilakukan oleh tersangka. Masih proses,” jelasnya.

Sementara itu, saat awak media mencoba mengkonfirmasi kebenaran kasus tersebut dan mencari keberadaan Sang Paman HG , diketahui saat ini menguasai UD Putra Tehnik peninggalan (alm) Herman Gazali, pada Rabu (30/5/2023) lalu, awak media hanya bertemu pegawai kepercayaannya bernama Rahmat. Saat dihubungi oleh pegawainya, dirinya enggan menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan awak media melalui telepon yang dilakukan oleh Rahmat pegawainya, dan seakan-akan bungkam.

“Pak Hermes ga mau memberikan jawaban. Yang jelas kami hanya pegawai di sini, ga tahu menahu. Biar yang bersangkutan menjelaskan, tapi saat ini dia di Surabaya,” jelas Rahmat pegawai kepercayaannya HG. (AK/WB)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button