Tuesday, 20-02-2024
Pendidikan

Bahas Kesejahteraan Petani Dalam Disertasinya, Gek Rani Sandang Gelar Doktor FEB Unud

Foto: Kupas Kesejahteraan Petani di Masa Covid-19, Gek Rani Jadi Doktor ke-210 FEB Unud, Jumat (16/6/2023). (BB/FEB/Unud)

Denpasar | barometerbali – Doktor adalah gelar akademik tertinggi yang diberikan sebuah perguruan tinggi kepada mahasiswa/i-nya. Umumnya, mahasiswa jenjang Strata 3 ini diincar oleh dosen guna menunjang jabatan akademiknya.

Namun berbeda dengan Desak Putu Putri Maharani. Pemilik sapaan karib Gek Rani, ini bukan dosen. Tapi seorang presenter, penyanyi, guru vokal, instruktur model hingga menjabat senior director di sebuah perusahaan besar.

Disertasinya pun tidak ada hubungan dengan salah satu profesinya. Bertema pertanian. Pada Sidang Terbuka Promosi Doktor Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana (FEB Unud), bertempat di Gedung FEB Kampus Unud Sudirman, Denpasar, pada Jumat (16/6/2023).

Gek Rani sukses mempertahankan disertasi berjudul “Determinan Kesejahteraan Petani Padi pada Masa Pandemi Covid-19 di Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali”.

“Menimbang; prestasi selama masa studi, keseriusan melakukan penelitian, cara mempertahankan disertasi, masa tempuh studi dan publikasi internasional, kami menyatakan promovenda lulus dengan predikat Memuaskan,” kata Ketua Sidang Prof. Dr. Ni Nyoman Yuliarmi, SE., MP., sambil mengetok palu tiga kali.

Gek Rani pun tercatat dalam tinta emas sebagai Doktor ke-105 Bidang Ilmu Ekonomi, serta Doktor ke 210 yang ditelurkan FEB Unud.

Gek Rani tampak sangat tenang menanggapi sanggahan/kritik dari penyanggah dan undangan akademik. Ketenangannya ini timbul dari rasa percaya diri karena sudah menguasai persoalan pada penelitiannya.

Masih dalam sidang terbukanya itu, promovenda Gek Rani menguak sejumlah fakta baru seputar dunia pertanian selama masa pandemi Covid-19.

Pandemi Covid-19, kata Gek Rani, menyebabkan terjadinya migrasi dari karyawan kantoran dan pekerja pariwisata yang terdampak, sehingga muncul petani “dadakan”. Luas tanam memang meningkat, tapi tidak mendongak produktivitas dan kesejahteraan petani. “Kondisi ini menjadi antitesa,” jelas istri dari I Made Agus Dwipayana.

Ibu dua putra ini melanjutkan, dari sisi perhatian pemerintah terhadap sektor pertanian masih perlu digenjot lagi, meskipun para petani sudah merasakan dampak positifnya.

Menurut hasil penelitiannya, 12 persen petani berpenghasilan di bawah Rp 2 juta sehingga sektor pertanian belum bisa diandalkan, padahal ke depan pertanian bakal dijadikan sektor alternatif agar Bali tidak tergantung pada pariwisata. Kesejahteraan petani pun menjadi isu strategis nasional dalam satu dekade terakhir.

“Jadi memang diperlukan peran pemerintah, inovasi, ide baru, kualitas SDM dan kinerja kelembagaan petani padi agar petani benar-benar sejahtera,” ungkap Gek Rani sembari berharap disertasinya bermanfaat bagi pemangku kebijakan guna merancang program di bidang pertanian.

Prof. Dr. Nyoman Djinar Setiawina, SE, MS., Promotor Gek Rani, memuji mahasiswinya ini karena dinilai pintar, pekerja keras dan percaya diri.

Gek Rani di mata Prof. Djinar bukan orang baru. Ia mengenal Gek Rani sejak Gek Rani duduk di bangku S1 Ekonomi Pembangunan (lulus 2013), S2 Magister Ilmu Ekonomi (lulus 2016) hingga mendaftar di Program Doktor Ilmu Ekonomi di FEB Unud 2017/2018. Dari S1 sampai S3 semua ditempuh di universitas yang sama.

“Gek Rani kalau ngomong cepat. Biasanya orang kalau ngomong dan makanannya cepat ciri orang pintar,” ucapnya disambut tawa hadirin.

Kesuksesan Gek Rani dalam karir dan akademik tak terlepas dari dukungan keluarga tercinta, khususnya ayah I Dewa Gede Agung Bagus, S.E.
dan sang ibu, Dr. (C) Fatikhah Kismilarsih, SH, MH.

Untuk memotivasi putri sulungnya itu, Fatikhah pun turut menempuh pendidikan Doktoral di Universitas Warmadewa bidang Ilmu Hukum. Kini, ibunya yang berprofesi sebagai advokat itu dalam persiapan ujian terbuka promosi doktor.

“Prinsip saya, wanita harus berpendidikan tinggi. Saya tahu banyak juga orang sukses hanya lulus SD misalnya, tapi saya memilih tetap sekolah setinggi-tingginya,” kata Fathikah.

Selain berguna bagi diri sendiri, lanjut Fathikah, pendidikan membuat wanita lebih dihargai di lingkungan keluarga barunya. Karenanya, ibu dua anak ini terus mendorong Gek Rani dalam perkuliahan secara estafet.

Sang ibunda membeberkan prestasi Gek Rani, khususnya di bidang non akademik muncul sejak usia tiga tahun. Bakat tarik suara dan musik sangat menonjol. Hal itulah yang mengantar Gek Rani sejak tahun 2003 sudah menjadi presenter TVRI Nasional dalam acara musik anak.

Sejak SD hingga SMA, Gek Rani juga menjadi bintang kelas bahkan juara umum. Ia menamatkan pendidikan menengah SMAN 2 Denpasar, sebelumnya di SMPN 2 Denpasar, SDK Santo Yoseph 2 Denpasar dan TKK Kembang Kuncup.

“Kalau ditotal, anak saya punya 700 piala dan piagam. Sebagai orangtua tentu terasa bangga,” pungkasnya. Adapun Ko Promotor 1 yakni Dr. I N. Mahaendra Yasa, SE, M.Si., Ko Promotor 2 Prof. Dr. Drs Made Kembar Sri Budhi, MP., Para Penyanggah Prof. Dr. Made Suyana Utama, SE., MS., Prof. Dr. Dra. Ida Ayu Nyoman Saskara, M.Si., Prof. Dr. Dra. AA Istri Ngurah Marhaeni, M.S. (BB/212)

Sumber: unud.ac.id

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button