Tuesday, 20-02-2024
Hukum

Pemilik Ayuterra Resort Polisikan Kontraktor “Lift Maut”

Foto: Pemilik Ayuterra Resort Linggawati Utomo (tengah) didampingi suaminya Vincent Juwono (kanan) dan keluarganya Heri (kiri) usai menunjukkan surat laporan ke Polda Bali saat konferensi pers di Denpasar, Minggu (10/9/2023). (Sumber: Ngurah Dibia).

Denpasar | barometerbali – Merasa ditipu dan hasil pekerjaan tak sesuai yang dijanjikan, Pemilik Ayuterra Resort Linggawati Utomo akhirnya melaporkan kontraktor lift Mujiana (terlapor) ke Polda Bali. Pelaporan ini dilakukan pascatragedi lift inklinator (lift miring, red) maut yang menewaskan lima orang karyawan Ayuterra Resort, Desa Kedewatan, Ubud, Gianyar, Bali, pada Jumat (1/9/2023).

Linggawati menyatakan suaminya Vincent Juwono selaku pelapor sekaligus pemilik melapor ke Polda Bali pada Minggu (10/9/2023) dengan nomor laporan STTLP/B/501/IX/2023/SPKT/Polda Bali.

“Mujiana saya laporkan atas dugaan tindak pidana penipuan sebagaimana diatur dalam Pasal 378 KUHP. Lift di resort saya semula memiliki tiga tali sling baja. Saya minta kepada Pak Muji (Mujiana, red) lift di-upgrade (ditingkatkan, red). Jadi awalnya, dari kontraktor pertama Pak Eko, terdapat tiga sling, tapi modelnya counterweight (beban imbang, pengimbang, red). Ada naik, ada turun. Lalu, karena bertambahnya kamar pada waktu itu saya minta lift dapat mengangkut delapan orang,” ungkap Linggawati didampingi suaminya Vincent Juwono dan keluarganya Heri saat konferensi pers di Denpasar, Minggu (10/9/2023).

Dengan penjelasan dan janji meyakinkan, sebagai kontraktor terpilih menggarap pengerjaan lift akhirnya Mujiana menyanggupi permintaan Linggawati. Bahkan, Mujiana menjamin bisa mengangkut lebih dari yang diminta Linggawati dan bahkan sesumbar menyatakan jiwanya sebagai taruhannya.

“Dia (Mujiana, red) mengusulkan konsep lift di salah satu resort di daerah Ubud yang menggunakan satu sling dengan menunjukkan videonya,” tandas Linggawati.

Ketika itu Linggawati tidak mengecek kebenaran pengerjaan lift oleh kontraktor walaupun sempat ada rasa khawatir akan kekuatannya. Namun akhirnya ia mengaku percaya atas saran menggunakan satu sling karena merasa kontraktor memiliki lisensi pengerjaan lift inklinator dan menyebut punya sertifikat kompeten.

“Sebetulnya saya sendiri waktu itu merasa kuatir, apa iya dengan satu sling bisa membawa delapan atau sembilan orang sekaligus, padahal lift sebelumnya menggunakan tiga sling. Tapi karena saya bukan orang teknik, ditambah dengan portofolio yang ditunjukkan Mujiana yang katanya ahli di bidangnya, akhirnya kami serahkan pengerjaannya sama dia. Pernah saat itu ke bapak (suami Linggawati, red) mengaku pernah bekerja di perusahaan lift besar di Jakarta, akhirnya dari beberapa bukti yang ditunjukkan kami, yakin dia (kontraktor) seorang yang profesional,” tutur Linggawati.

Setelah sepakat dengan nilai kontrak kerja, Mujiana mulai mengerjakan proyek peningkatan kapasitas lift pada bulan Maret 2023. Bahkan hingga muncul insiden putusnya tali sling, sebelum dilakukan serah terima pekerjaan.

Dengan adanya tragedi putusnya tali sling baja lift inklinator di Ayuterra Resort membuat dirinya shock (terkejut, red) secara mental karena kehilangan karyawan kesayangan yang sudah dianggap sebagai anak sendiri.

“Kerugiannya, saya sangat kehilangan kelima karyawan saya. Karyawan yang sangat dekat dengan saya. Kalau materi umpamanya, saya harus tutup itu tidak jadi persoalan. Tapi kalau tentang nyawa itu tidak bisa dihitung, tidak bisa dinilai,” tutur Linggawati dengan nada suara terbata-bata berlinang air mata menahan kesedihan.

Kejadian ini juga membuat Linggawati merasa kecewa karena nama baiknya tercemar yang berimbas besar pada usahanya. Apalagi pascainsiden yang mengenaskan tersebut Mujiana berkali-kali tak bisa dihubungi melalui selulernya.

Pada kesempatan itu Linggawati pun menepis pernyataan kontraktor dalam pemberitaan yang menyebutkan dirinyalah yang meminta menggantikan tali sling baja lift dari 3 utas ke 1 utas.

“Boleh ada buktinya? Buktinya saya menyarankan satu sling? Atau baru saja saya baca, dengar, kalau ada penyusutan sepuluh persen. Saya malah belum tahu kalau penyusutan sepuluh persen itu kayak gimana bentuknya saja saya belum tahu. Dan itu akan saya tuntut siapa yang menyatakan tersebut,” ancam Linggawati.

Awak media pun mencoba melakukan konfirmasi dan meminta keterangan dari Mujiana selaku terlapor. Namun, hingga berita ini diterbitkan, tidak bisa dihubungi (tidak aktif, red). Begitu juga saat menghubungi nomor telepon asistennya, tak mau mengangkat telepon dari wartawan.

Diberitakan sebelumnya, Kepolisian Resor (Polres) Gianyar mengungkap hasil pemeriksaan sejumlah saksi terkait insiden lift maut yang menewaskan lima karyawan di Ayuterra Resort, Ubud, Gianyar, Bali.

Kelima korban bernama Sang Putu Bayu Adi Krisna (19) asal Kota Denpasar, Ni Luh Superningsih (20) asal Kabupaten Gianyar, I Wayan Aries Setiawan (23) asal Kota Denpasar, Kadek Hardiyanti (24) asal Kabupaten Bangli dan Kadek Yanti Pradewi (19) asal Kabupaten Buleleng.

Dalam keterangannya Kapolres Gianyar AKBP I Ketut Widiada membenarkan bahwa pada 2019 lift outdoor di Ayuterra Resort menggunakan lebih dari satu tali sling. Foto kondisi lift dengan lebih dari satu tali sling itu sempat viral di media sosial.

“Jika dilihat yang beredar di medsos, memang kita lihat di TKP pada tahun 2019 (lift di Ayuterra Resort) lebih dari satu tali sling dan saat kejadian hanya satu tali sling,” kata Widiada, kepada wartawan Rabu (6/9/2023).

Menurut keterangan teknisi lift, Widiana melanjutkan, per tali sling dapat mengangkat beban 400 kilogram. Jadi, dengan tiga tali sling, lift tersebut seharusnya mampu mengangkat beban mencapai 1,2 ton.

Namun, saksi menyebut pemilik resort meminta agar lift tersebut tidak menggunakan terlalu banyak tali sling. Akhirnya, teknisi pun memasang hanya satu tali sling sesuai permintaan pemilik resort. Adapun, kekuatan satu tali sling itu diklaim sudah setara dengan beban 1,8 ton.

“Belum bisa dipastikan juga satu tali sling yang diklaim dapat menahan beban 1,8 ton itu tak menjadi pemicu kecelakaan lift,” pungkas Widiana.

Sejauh ini Polres Gianyar telah meminta keterangan sejumlah saksi dan memeriksa pihak yang diduga terlibat dalam kasus ini sejumlah 13 orang.

Terkait perkembangan kasus ini Kabid Humas Polda Bali Kombes Pol Avitus Jansen Panjaitan menyatakan pihaknya juga telah meminta bantuan pihak Mabes Polri.

“Masih menunggu hasil uji Labfor Polda Bali yang akan minta Backup Labfor Mabes Polri, sementara masih berproses,” tulis Kabid Humas Panjaitan kepada wartawan melalui pesan WhatsApp (WA), Senin (11/9/2023).

Editor: Ngurah Dibia

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button