Sunday, 21-07-2024
OpiniPolitik

PDI Perjuangan-Gerindra Bersatu, Aliansi Epik Menggebrak Bali!

Kolase foto: Pengamat politik Universitas Udayana Efatha Filomeno Borromeu Duarte (kiri) dan pertemuan Ketua DPD PDI Perjuangan Bali Wayan Koster dengan Ketua DPD Partai Gerindra Bali Made Muliawan Arya (De Gadjah) belum lama ini di Denpasar. (Sumber: barometerbali.com/ist/rian)

Denpasar I barometerbali – Suhu politik jelang Pemilihan Kepada Daerah (Pilkada) Bali semakin hangat diperbincangkan di ruang publik. Pasalnya, ada wacana koalisi antara PDI Perjuangan dengan Partai Gerindra dalam perhelatan pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur (Pilgub) Bali pada 27 November 2024. Prediksi kuat itu terlihat dari makan siang bareng antara Ketua DPD PDI Perjuangan Bali Wayan Koster dengan Ketua DPD Partai Gerindra Bali Made Muliawan Arya (De Gadjah) belum lama ini di Denpasar.

Menanggapi hal tersebut, pengamat politik Universitas Udayana Efatha Filomeno Borromeu Duarte menjelaskan ini merupakan tontonan politik yang menarik karena ada upaya electoral bust (kenaikan elektoral) yang dilakukan dari komunikasi politik yang terbangun hari ini antara PDI Perjuangan dan Gerinda.

“Apabila itu terjadi maka efek electoral bust akan terjadi yaitu kenaikan elektabilitas dan dukungan publik. Selanjutnya saya melihat ada power shifthing yang terjadi di Bali, pergeseran kekuatan politik,” jelas Efatha kepada barometerbali.com, Rabu (10/7/2024).

Menurutnya, pergeseran kekuatan politik ini kalau sebagian besar akan berpikir bahwa Partai Gerindra harus diajak agar mendapatkan proyek-proyek strategis nasional atau bisa menjadi komunikator dari pemerintah pusat kepada daerah.

“Tetapi saya melihat justru malah ini akan membantu memperkuat koordinasi legislatif ke depannya yang kita ketahui bahwa akan ada perpaduan yang menarik dari kombinasi kedua partai tersebut dan malah akan menjadi sesuatu kekuatan yang kuat nanti ke depannya,” ungkap Efatha.

Selain itu, dia melihat hal ini harus dipandang dengan satu pendekatan strategi yang adaptif dan menurutnya apabila itu terjadi dan memang didorong terus oleh masyarakat. Maka imbuhnya, koalisi ini bukanlah koalisi yang bisa patah di tengah jalan akibat perbedaan ideologi atau akibat perbedaan kepentingan serta eksistensi yang sudah terbangun selama ini.

“Nah inlah yang perlu kita simak bersama apakah penggabungan visi dan misi nanti dapat benar-benar terealisasi dalam membangun Bali yang harmoni nantinya, ” tandasnya.

Lebih lanjut dikatakannya, maka harus ada komunikasi tingkat lanjut dan juga satu kesepakatan yang serius. Dan ini tentu akan memberikan banyak warna baru dan keberanian baru dari partai lain yang ingin berkompetisi secara bebas di Bali di masa yang akan datang.

Selain itu, ia juga menyampaikan dalam lima tahun ke depan atau nanti dalam pemilihan bupati dia melihat ini merupakan satu hal yang spektakuler untuk dilihat publik. Poin pentingnya hal ini tidak lepas karena public perception (tanggapan masyarakat), pengaruh pada persepsi publik yang berkembang di media sosial juga.

Hari ini permintaan politik masyarakat itu meningkat tajam dalam artian masyarakat menyampaikan suara nyaring dan sumbang mereka itu tidak lagi tanpa satu medium yang jelas.

“Jadi media sosial ini membantu komunikasi harapan besar sebagian masyarakat yang mereka tumpahkan dalam jejaring media sosial yang mereka miliki. Dan ini tentu akan dibaca oleh partai dan masyarakat lain juga yang melihat bagaimana kontestasi nanti ini akan berlangsung atau berhelat.

“Jadi hal-hal seperti inilah yang menarik dalam kondisi demokrasi hari ini yang tidak lepas dari demokrasi algoritmis. Inilah masa depan dari demokrasi Jadi semua bersuara dalam ruang -ruang gemanya masing-masing,” beber Efatha.

Dengan adanya dorongan-dorongan politik ini yang akhirnya menyebabkan peta politik hari ini semakin dinamis.

“Saya kira untuk PDI Perjuangan sendiri apakah masih sangat dominan? Ya sangat dominan, apakah PDI Perjuangan sendiri masih kuat? Ya masih kuat. Jadi itu hal yang perlu kita geris bawahi,” kata Efatha menekankan.

Tetapi dorongan-dorongan yang terjalin atau terbaca itu memang menarik untuk disimak karena sudah sampai pada kesempatan untuk mengkomunikasikan kembali dan membuka peluang koalisi ini bisa terbangun.

“Entah nanti koalisi ini terbangun bersama dengan Gerindra ataupun tidak dengan Gerindra tetap ini menjadi satu aspek yang menarik untuk kita lihat. Apakah nanti koalisi ini akan memberikan inspirasi juga untuk partai-partai lain untuk merapat ke koalisi yang kalau kita baca hari ini cukup menjanjikan,” tutup Efatha.

Reporter : Rian Ngari

Editor : Ngurah Dibia

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button