Menurut Psikologi Ucapkan Selamat Tinggal pada 7 Perilaku Ini Jika Ingin Sukses dalam Hidup

BARO MEI F 5A
Ilustrasi seseorang yang sukses dalam hidup. (barometerbali/dok.magnific/The Yuri Arcurs Collection)

Barometerbali.com | Denpasar – Kesuksesan sering kali terlihat seperti sesuatu yang rumit—penuh strategi, kerja keras tanpa henti, dan keberuntungan.

Namun, dari sudut pandang psikologi, kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh apa yang Anda lakukan, tetapi juga oleh apa yang Anda berhenti lakukan.

Banyak orang gagal berkembang bukan karena kurang potensi, melainkan karena mempertahankan kebiasaan mental dan perilaku yang menghambat.

Dilansir dari Expert Editor, jika Anda serius ingin mencapai versi terbaik dari diri Anda, berikut adalah tujuh perilaku yang perlu Anda tinggalkan—berdasarkan pemahaman psikologis tentang pola pikir dan perilaku manusia.

1. Terlalu Takut Gagal

Ketakutan terhadap kegagalan adalah salah satu penghambat terbesar kesuksesan.

Secara psikologis, ini sering berkaitan dengan fixed mindset—keyakinan bahwa kemampuan kita bersifat tetap dan tidak bisa berkembang.

Akibatnya, Anda cenderung menghindari risiko, menunda tindakan, atau bahkan tidak mencoba sama sekali.

Padahal, kegagalan adalah bagian alami dari proses belajar.

Orang yang sukses biasanya melihat kegagalan sebagai umpan balik, bukan sebagai akhir.

Ganti dengan: pola pikir berkembang (growth mindset)—melihat setiap kesalahan sebagai kesempatan untuk belajar.

Berita Terkait:  Dulu Terjangkau, Kini Terkesan Mewah: 11 Hal yang Sekarang Hanya Bisa Dinikmati Orang Kaya

2. Terlalu Bergantung pada Validasi Orang Lain

Jika Anda selalu menunggu persetujuan orang lain sebelum bertindak, Anda sedang menyerahkan kendali hidup Anda kepada orang lain.

Psikologi menyebut ini sebagai external locus of control—keyakinan bahwa hidup Anda ditentukan oleh faktor luar.

Orang yang sukses cenderung memiliki internal locus of control.

Mereka percaya bahwa keputusan dan tindakan mereka sendiri adalah penentu utama hasil.

Ganti dengan: kepercayaan diri yang sehat dan kemampuan mengambil keputusan secara mandiri.

3. Menunda-nunda (Prokrastinasi)

Prokrastinasi bukan sekadar soal malas—ini sering berkaitan dengan penghindaran emosi negatif seperti kecemasan atau rasa tidak mampu.

Otak kita cenderung memilih kenyamanan jangka pendek daripada manfaat jangka panjang.

Masalahnya, kebiasaan ini menciptakan siklus stres dan penyesalan.

Ganti dengan: disiplin kecil yang konsisten.

Mulai dari langkah kecil sering kali lebih efektif daripada menunggu motivasi besar.

4. Perfeksionisme Berlebihan

Mengejar kualitas tinggi itu baik, tetapi perfeksionisme ekstrem justru bisa melumpuhkan.

Berita Terkait:  8 Kebiasaan Kelas Menengah yang Sering Dikira Berkelas Padahal Penuh Ketidakamanan

Anda menjadi terlalu fokus pada kesempurnaan hingga sulit menyelesaikan sesuatu.

Dalam psikologi, ini sering dikaitkan dengan rasa takut dihakimi atau rendahnya harga diri.

Ganti dengan: prinsip “cukup baik untuk maju” (progress over perfection).

Kemajuan lebih penting daripada kesempurnaan.

5. Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Di era media sosial, membandingkan diri menjadi sangat mudah—dan berbahaya. Anda hanya melihat “highlight” kehidupan orang lain, bukan keseluruhan cerita.

Psikologi menyebut ini sebagai social comparison theory.

Terlalu sering membandingkan diri dapat menurunkan kepuasan hidup dan motivasi.

Ganti dengan: fokus pada perjalanan pribadi Anda.

Bandingkan diri Anda hari ini dengan diri Anda kemarin, bukan dengan orang lain.

6. Menghindari Ketidaknyamanan

Pertumbuhan selalu terjadi di luar zona nyaman.

Namun secara alami, otak kita dirancang untuk menghindari ketidaknyamanan karena dianggap sebagai ancaman.

Akibatnya, Anda mungkin tetap berada di situasi yang “aman” tetapi tidak berkembang.

Ganti dengan: keberanian menghadapi ketidaknyamanan secara bertahap. Semakin sering Anda melakukannya, semakin kuat mental Anda.

Berita Terkait:  6 Kebiasaan Orang Menengah yang Menikmati Hidupnya Meski Punya Gaji Rata-rata

7. Berpikir Negatif Secara Berlebihan

Pola pikir negatif yang terus-menerus dapat membentuk realitas Anda.

Dalam psikologi kognitif, ini dikenal sebagai cognitive distortion—cara berpikir yang tidak akurat dan merugikan.

Jika Anda terus berkata “saya tidak bisa”, “ini terlalu sulit”, atau “saya pasti gagal”, otak Anda akan mempercayainya.

Ganti dengan: kesadaran terhadap pikiran sendiri (self-awareness) dan latihan mengganti pikiran negatif dengan yang lebih realistis dan konstruktif.

Penutup

Kesuksesan bukan hanya soal menambah kebiasaan baru, tetapi juga tentang berani melepaskan yang lama.

Tujuh perilaku di atas mungkin terasa “normal”, bahkan nyaman, tetapi dalam jangka panjang bisa menjadi penghalang besar.

Perubahan tidak harus drastis.

Mulailah dari satu perilaku, kenali polanya, dan perlahan ubah respons Anda.

Psikologi menunjukkan bahwa perubahan kecil yang konsisten dapat menghasilkan transformasi besar dalam hidup.

Pada akhirnya, kesuksesan adalah hasil dari keputusan yang Anda ambil setiap hari—termasuk keputusan untuk meninggalkan hal-hal yang tidak lagi membawa Anda maju. (ari)

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI