Barometer Bali | Gianyar – Turnamen catur bergengsi Bali Rapid Open Tournament (BROT) 2026 resmi dibuka di kawasan Blangsinga, Kabupaten Gianyar, Minggu (10/5/2026). Ajang kolaborasi antara Percasi Bali dan Krisna Oleh-Oleh ini diikuti 416 pecatur dari dalam maupun luar negeri.
Ketua Percasi Bali, I Nyoman Parta, mengatakan tingginya partisipasi peserta muda menjadi sinyal positif bagi perkembangan olahraga catur di Bali. Dari total peserta, sebanyak 248 orang berasal dari kalangan pelajar tingkat SD hingga SMA, sedangkan 168 lainnya berasal dari kategori umum.
Menurutnya, catur bukan sekadar olahraga adu strategi, tetapi juga media pembentukan karakter dan penguatan mental generasi muda di tengah derasnya pengaruh teknologi digital.
“Catur menjadi salah satu filter bagi generasi muda dari dampak negatif penggunaan gadget berlebihan. Bermain catur secara langsung dengan papan fisik membantu mengurangi ketergantungan layar sekaligus meningkatkan interaksi sosial dan kemampuan berpikir,” ujar Parta.
Turnamen BROT 2026 diikuti pecatur dari 10 provinsi di Indonesia serta empat negara, yakni Indonesia, Inggris, Rusia, dan Ukraina. Peserta yang tampil berasal dari berbagai level kemampuan, mulai pemula hingga grandmaster, termasuk sejumlah atlet nasional.
Parta menilai catur memiliki pola pembinaan yang jelas dan berjenjang hingga level internasional. Ia optimistis antusiasme tinggi terhadap turnamen ini akan melahirkan atlet-atlet berprestasi dari Bali.
“Saya yakin dari semangat ini akan lahir pecatur hebat di masa depan, bahkan tidak menutup kemungkinan menjadi grandmaster,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa permainan catur membentuk pola pikir yang lebih tenang, rasional, dan terukur dalam mengambil keputusan. Seorang pecatur, kata dia, terbiasa memperhitungkan risiko sebelum menentukan langkah.
“Pecatur terbiasa memprediksi risiko dan konsekuensi dari setiap langkah. Ini membuat mereka lebih bijaksana dan tidak mudah reaktif dalam menghadapi persoalan hidup,” jelasnya.
Menurut Parta, nilai-nilai logika dan pengendalian diri dalam catur relevan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam menghadapi tekanan mental maupun persoalan sosial.
“Catur mengajarkan pengelolaan stres dengan lebih baik. Ini penting untuk menjawab berbagai persoalan sosial, termasuk fenomena bunuh diri yang belakangan menjadi perhatian di Bali,” pungkasnya. (rian)











