Nyoman Parta Tolak PPN Sembako: Jangan Bebani Meja Makan Rakyat

Screenshot_20260513_174137_ChatGPT
Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, I Nyoman Parta, menolak tegas rencana pengenaan PPN pada bahan pokok atau sembako karena menekan kehidupan masyarakat kecil yang kini dalam kondisi susah. (barometerbali/ilustrasi/ai)

Barometer Bali | Jakarta – Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, I Nyoman Parta, menyatakan penolakan tegas terhadap rencana pengenaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) pada bahan pokok atau sembako. Menurutnya, kebijakan tersebut justru berpotensi semakin menekan kehidupan masyarakat kecil yang saat ini sudah terbebani kenaikan harga pangan.

Pernyataan itu disampaikan Parta di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (11/5/2026). Ia menilai kondisi ekonomi masyarakat belum sepenuhnya pulih, sementara harga kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, gula, hingga cabai terus mengalami kenaikan.

Berita Terkait:  Ratusan Pecatur Ramaikan BROT 2026, Nyoman Parta Soroti Manfaat Catur bagi Generasi Muda

“Tanpa pajak saja rakyat sudah susah makan, apalagi kalau sembako dikenakan pajak. Ini akan makin memberatkan masyarakat kecil,” tegasnya seperti ditayangkan tv parlemen, Rabu (13/5/2026).

Legislator asal Desa Guwang, Gianyar, Bali tersebut menekankan bahwa sembako bukan barang mewah, melainkan kebutuhan dasar yang menyangkut kehidupan sehari-hari masyarakat. Karena itu, negara dinilai seharusnya hadir menjaga daya beli rakyat, bukan justru membebani kebutuhan primer dengan pungutan pajak.

Berita Terkait:  Ratusan Pecatur Ramaikan BROT 2026, Nyoman Parta Soroti Manfaat Catur bagi Generasi Muda

Menurut Parta, penerapan PPN pada sembako juga berisiko memicu efek domino terhadap kenaikan harga di tingkat pedagang hingga distributor. Dampaknya, masyarakat menjadi pihak yang paling merasakan tekanan ekonomi.

Ia juga mengingatkan bahwa lonjakan harga pangan dapat menimbulkan persoalan sosial serius, mulai dari meningkatnya angka kemiskinan hingga ancaman stunting akibat menurunnya kualitas konsumsi keluarga.

“Kalau harga kebutuhan pokok makin mahal, yang dikorbankan biasanya kualitas makanan keluarga. Ini bisa berdampak buruk pada gizi anak-anak,” tegasnya.

Berita Terkait:  Ratusan Pecatur Ramaikan BROT 2026, Nyoman Parta Soroti Manfaat Catur bagi Generasi Muda

Parta meminta pemerintah mencari sumber penerimaan negara dari sektor lain yang tidak membebani masyarakat kecil, seperti optimalisasi pajak korporasi besar, sektor sumber daya alam, serta pengetatan kebocoran anggaran.

Ia memastikan akan terus mengawal isu tersebut di parlemen agar sembako tetap bebas dari pengenaan PPN.

“Rakyat membutuhkan harga pangan yang terjangkau, bukan kebijakan baru yang membuat hidup makin berat,” pungkas Parta. (red)

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI