Mengenal Roland, Anak Transmigran Yang Bertekad Bertarung Rebut Ketua PP PMKRI

IMG_20260609_170753
Alexandro Rolandi Calon Ketua Presidium Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia Sanctus Thomas Aquinas periode 2026-2028.

Barometer Bali | Denpasar – Nama Alexandro Rolandi cukup hangat diperbincangkan beberapa waktu belakangan. Dia disebut-sebut sebagai salah satu kandidat yang akan bertarung merebut kursi ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Republik Indonesia (PMKRI). Lantas Siapakah sebenarnya Roland?

‎Kisah mengenai Roland bermula pada 08 November 1998 silam, hari kelahirannya. Dia lahir di Kota Maumere, Sikka, Flores. Sulung lima bersaudara ini lahir dari pasangan Fransiskus Weli Tanus Asal Maumere – Flores  dan ibu Maria Krisnia Wati Tey, Berdarah Ndona, Ende – Flores.

‎”Waktu di Maumere kami tinggal di kompleks Misir, belakang Lorong Surya Agung. Kami tinggal bersama di rumah kakek,” kenangnya beberapa waktu lalu.

Belum genap setahun usianya ketika itu, sang ayah terpaksa meninggalkan Maumere. Lalu mengambil pilihan bertransmigrasi ke  Manokwari Papua dan bekerja sebagai buruh di kebun kelapa sawit.

‎”sejak kelahiran saya dan tuntutan ekonomi akhirnya bapa memutuskan merantau ke papua tahun 1999 di daerah transmigrasi Manokwari. Berkerja sebagai buruh kelapa sawit,” kenang Roland.

‎Tepat ketika berusia tiga tahun dan kondisi ekonomi keluarga mulai sedikit membaik, Roland bersama ibunya memutuskan menyusul sang ayah ke Manokwari pada tahun 2001. Mereka berangkat menumpang kapal laut dengan waktu tempuh lebih dari satu minggu. Kapal berangkat dari Maumere lalu berputar mengambil rute menuju Kupang – Makasar – Bau-bau – Ambon – Sorong, sebelum mengakhiri perjalanan di Manokwari.

‎Saat masih terpisah jarak, kedua, orang tua Roland berkomunikasi lewat telpon milik tetangga. Seperti lazimnya di tahun 90-an, perantau asal NTT selalu menghubungi keluarga lewat tetangga yang punya pesawat telpon. Jika ayahnya menelpon dari Papua biasanya orang rumah pemilik telfon akan menyuruh orang untuk memanggil. Tapi jika tidak ada orang yang lewat maka cara yg dilakukan ialah dengan teriakan pesan.

Berita Terkait:  WN Mesir Jadi Korban Jambret di Badung, iPhone 17 Pro Max Digasak Pelaku

“Tetangga sebelah rumah akan melanjutkan dengan cara dan pesan yg sama sampai pesan itu tersampaikan ke mama, kalau ada telpon dari Bapa,” ujar Roland.

‎Setibanya di Manokwari saat itu, Roland sempat mengenyam pendidikan di taman Kanak-kanak. Hingga pada tahun tahun 2004, Roland bersama mama dan adik yang masih bayi terpaksa harus kembali ke Maumere karena alasan ekonomi. Di saat yang sama sang ayah mengambil pilihan untuk pindah dari Manokwari ke kabupaten tetangga yaitu di  Sorong Selatan, tepatnya di kota Teminabuan. Di tempat ini, usaha yang dirintis berjalan cukup baik.

‎Sehingga pada tahun 2009, Roland bersama ibu dan adik kembali menempuh perjalanan laut menuju ke Teminabuan.

Berita Terkait:  Kolaborasi Pemkot Denpasar dan Udayana Central Dorong Generasi Bebas Rokok

“Pada waktu itu saya sdh duduk di bangku SD kelas 3. Dari tahun 2009 itu sampai dengan sekarang domisili saya dan keluarga masih sama yaitu di Teminabuan, Sorong selatan,” Ucap Roland.

‎Belajar Dialek Papua

‎Masa kecil Roland di Papua penuh warna. Awalnya suka berkelahi perkara dialek. Karena saat pindah dari Maumere Roland belum terbiasa dengan dialek lokal Papua. Sehingga sering jadi bahan tertawaan teman-teman.

‎”Waktu SD saya sering diejek karena logat Maumere saya. Ejekan itu yang membuat saya sering berkelahi. Makanya dari hari ke hari saya belajar menggunakan dialek Papua,” kenang Roland sambil tertawa.

Seiring berjalannya waktu Roland bisa beradaptasi dan membaur dengan anak-anak asli Papua. Bahkan dia masih ingat dengan jelas nama-nama sahabat akrabnya saat SEkolah Dasar (SD). Ada Manu, Yohan, Igin, dan Maikel. Setiap pulang sekolah selalu mandi di kali.

‎”Teman-teman ini ini maunya mandi lama-lama. Tapi saya tidak bisa. Takut kalau pulang lambat ke rumah maka perkara berat suda itu. Terkadang mereka mengerti dan pulang bersama saya tapi juga terkadang juga saya pulang sendirian sedangkan mereka lanjut mandi,” kenang Roland.

‎Didikan Orang Tua

‎Sebagai perantau yang hidup sederhana, Roland ditempa oleh kerasnya hidup dan didikan tegas orang tua. Salah satu pesan yang membekas dari orang tua adalah untuk tidak lelah membantu sesama. Tentu berangkat dari pengalaman, saat hidup susah banyak yang mengulurkan tangan untuk memberi bantuan.

‎”Bapa bilang begini ke saya Lebih baik kita kaya akan manusia daripada kaya akan harta benda. Ya, walaupun manusia itu terkadang lupa diri. Saat dia susah dulu dia datang kepada siapa? Tapi itu bukan masalah.  Menjadi masalah jika orang itu susah kita tdk  bantu. Kita bantu bukan karena kita mampu atau kaya tapi kita pernah susah dulu,” pungkas Roland. (rian)

Berita Terkait:  Audisi Mixologi Arak Bali Tampilkan Racikan Inovatif dengan Sentuhan Budaya Lokal

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI