Barometer Bali | Denpasar – Gubernur Bali, Wayan Koster, menegaskan bahwa penyelesaian persoalan sampah di Pulau Dewata harus dimulai dari hulu, bukan lagi berorientasi pada penanganan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Menurutnya, setiap sampah yang dihasilkan harus dapat diselesaikan di lokasi asalnya sebagai langkah strategis memperkuat implementasi Gerakan Bali Bersih Sampah.
Koster menjelaskan, pengelolaan sampah dari sumber mencakup seluruh sektor, mulai dari rumah tangga, desa dan kelurahan, desa adat, pasar, hotel, restoran, kafe, rumah ibadah, sekolah, hingga perkantoran. Kebijakan tersebut merupakan implementasi dari Peraturan Gubernur Bali Nomor 47 Tahun 2019 yang diperkuat melalui Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 9 Tahun 2025.
“Langkah paling awal dan paling menentukan dari rantai pengelolaan tersebut adalah memilah sampah. Pilah sampah dari sumber bukan sekadar memisahkan organik dan non-organik, ini adalah wujud nyata dari kesadaran, tanggung jawab, dan budaya baru bagi krama Bali dalam rangka menjaga alam dan budaya Bali beserta isinya,” papar Gubernur Koster saat mendampingi Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Zulkifli Hasan bersama Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq.
Menurutnya, gerakan memilah sampah sejak dari sumber menjadi fondasi penting dalam mewujudkan Bali yang bersih, lestari, dan berkelanjutan. Kebijakan tersebut juga selaras dengan visi pembangunan Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana dalam Bali Era Baru yang berlandaskan nilai-nilai kearifan lokal Sat Kerthi.
Melalui sistem pengelolaan yang dimulai dari sumber, sampah organik dapat diolah menjadi pupuk untuk mendukung kesuburan lahan pertanian, sejalan dengan arah kebijakan Kementerian Koordinator Bidang Pangan. Sementara itu, sampah non-organik dapat didaur ulang sehingga memiliki nilai ekonomis sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan.
Di akhir penyampaiannya, Koster mengajak seluruh komponen masyarakat untuk memperkuat komitmen, kolaborasi, dan semangat gotong royong dalam menyukseskan Gerakan Bali Bersih Sampah.
Menurutnya, keberhasilan gerakan tersebut membutuhkan sinergi seluruh pihak, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, krama banjar, desa adat, pegiat lingkungan, sektor swasta, TNI, Polri, hingga para pelajar sebagai generasi penerus yang memiliki peran strategis dalam membangun budaya hidup bersih sejak usia dini. (red)










