Barometer Bali | Gianyar – Ribuan umat Hindu diperkirakan akan memadati kawasan Catuspatha Kota Gianyar pada Selasa, 28 Juli 2026, dalam pelaksanaan Pamendak Agung lan Pacepukan Patapakan Barong, sebuah tradisi sakral yang menjadi bagian dari rangkaian piodalan di Pura Dalem Serongga. Selain sebagai prosesi keagamaan, tradisi ini juga menjadi simbol eratnya persaudaraan antardesa adat di Kabupaten Gianyar dan Klungkung.
Jero Bandesa Adat Serongga, Pande Made Sudarsana, saat ditemui wartawan Rabu (22/7/2026), menjelaskan bahwa tahun ini sebanyak delapan Patapakan Barong akan tedun lunga menuju Pura Dalem Serongga.
Delapan Patapakan Barong tersebut berasal dari Jagat Serongga, Siangan, Lebih, dan Tedung di Kabupaten Gianyar, serta Desa Adat Tusan, Sarimertha, dan Tojan di Kabupaten Klungkung. Seluruh rombongan akan berjalan kaki dari desa masing-masing menuju Catuspatha Kota Gianyar untuk mengikuti prosesi Pacepukan dan Pamendak Agung, sebelum bersama-sama melanjutkan perjalanan menuju Pura Dalem Serongga.
“Kami memperkirakan sekitar 20 ribu krama, pamedek, serta para pengiring akan mengikuti prosesi ini,” ujar Sudarsana dikutip dari Nusa Bali.
Melihat besarnya jumlah peserta, masyarakat diimbau untuk menghindari kawasan Catuspatha Kota Gianyar pada pukul 07.00 hingga 09.00 Wita. Pengguna jalan juga disarankan memanfaatkan jalur alternatif guna mengurangi kepadatan lalu lintas sekaligus menghormati kelancaran jalannya prosesi adat.
Setelah prosesi Pacepukan dan Pamendak Agung selesai dilaksanakan, seluruh Patapakan Barong akan bergerak menuju Pura Dalem Serongga untuk mengikuti rangkaian pujawali yang berlangsung pada 29 Juli hingga 1 Agustus 2026, bertepatan dengan Purnama. Kegiatan dilanjutkan hingga Umanis Wali dengan pementasan penyalonarangan selama tiga hari berturut-turut, disertai tradisi katurang napak siwi dan masolah oleh seluruh Patapakan Barong.
Menurut Sudarsana, Pamendak Agung lan Pacepukan merupakan warisan leluhur yang memiliki makna lebih dari sekadar ritual keagamaan. Tradisi ini menjadi media mempererat ikatan pasemetonan antardesa adat yang telah terjalin turun-temurun.
Sementara itu, Pemangku Pura Dalem Serongga, Jro Mangku I Made Merta Nadi, menjelaskan bahwa piodalan di Pura Dalem Serongga memiliki kekhasan karena selalu dilaksanakan pada Nemu Purnama setelah Hari Raya Kuningan.
Pada piodalan kali ini juga digelar prosesi khusus berupa nuwur, yakni menjemput Patapakan Ida Bhatara dari sejumlah desa di Gianyar dan Klungkung. Tradisi yang merupakan dresta tersebut hanya dilaksanakan setiap lima tahun sekali.
Merta Nadi mengatakan, filosofi utama nuwur ketuwur dan Pacepukan adalah memperkuat rasa kebersamaan serta menjaga paiketan pasemetonan yang diwariskan para leluhur. Baginya, Tapakan Barong maupun Rangda menjadi simbol keyakinan yang menyatukan masyarakat lintas desa adat.
“Harapan kami, krama maupun yowana tetap mengetahui sejarah dan menjaga pasemetonan ini agar tetap rumaket dari generasi ke generasi,” ujarnya.
Selain mengemban tugas sebagai Pemangku Pura Dalem Serongga, Merta Nadi juga dikenal sebagai tokoh seni penyalonarangan, khususnya pemeran Matah Gede, serta dosen Program Studi Kriya, konsentrasi Seni Keramik, Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Denpasar.
Tradisi Pamendak Agung sendiri telah diwariskan secara turun-temurun. Dalam prosesi tersebut, Puri Agung Gianyar menghaturkan Pamendak Agung kepada Patapakan Barong sebagai manifestasi Ida Bhatara Sasuwunan dari sejumlah desa adat di Gianyar dan Klungkung, sebelum seluruh iring-iringan bersama-sama menuju Pura Dalem Serongga untuk mengikuti rangkaian pujawali. (red)










