Barometer Bali | Gianyar – Di balik hiruk-pikuk wisata Ubud dan Tegallalang, Desa Pupuan di Kabupaten Gianyar menyimpan potensi besar sebagai desa agrowisata dan wisata budaya. Berada di ketinggian 650-750 mdpl dan berbatasan langsung dengan Sungai Petanu, desa ini memiliki tanah lempung berpasir yang subur, menjadikannya sentra budidaya manggis dan jeruk. Hampir 85% warganya berprofesi sebagai petani.
Potensi besar itu kini digarap serius oleh Tim KKN-PPM UGM Kembara Tegallalang. Mengusung tema “Pemberdayaan Masyarakat dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan dan Menghadapi Perubahan Iklim”, tim mahasiswa ini menjalankan berbagai program. Mulai dari penguatan ketahanan pangan, peningkatan literasi, pengelolaan sampah, pengembangan UMKM, hingga digitalisasi masyarakat.
Salah satu program unggulan adalah “TEMAN: Tegallalang Mengajar”. Program ini fokus pada pemerataan destinasi wisata dengan mengoptimalkan potensi desa. Tim KKN berkolaborasi dengan STT, Pemerintah Desa, dan Kelompok Sadar Wisata atau Pokdarwis untuk membenahi sistem pengelolaan wisata.
Kaya Budaya dan Destinasi Alam Tersembunyi
Desa Pupuan bukan hanya soal pertanian. Desa ini memiliki 7 Banjar Dinas, 7 Banjar Adat, dan 7 Desa Adat. Tradisi adatnya masih sangat kuat. Contohnya Upacara Pujawali di Pura Kahyangan Desa Puseh Desa Adat Timbul yang digelar setiap Purnamaning Kapat, paling lambat 5 tahun sekali. Rangkaian upacara dilanjutkan dengan tradisi “Plengkungan”, yaitu perang simbolis menggunakan cabang pohon kedukduk sebagai bentuk syukur kepada Ida Sanghyang Widhi.
Dari sisi wisata alam, Pupuan memiliki beberapa destinasi yang masih asri. Ada Goa Batu Lempeh di Banjar Calo yang saat ini sedang digencarkan pembangunannya. Goa ini menawarkan pengalaman petualangan, bermain air terjun, bersantai di pendopo, hingga melukat.
Selain itu ada Batu Belah Waterfall di Banjar Timbul dan Tangkup Waterfall di Banjar Tangkup. Kedua air terjun ini menawarkan panorama alam yang sejuk dengan trekking yang cukup menantang karena akses jalan masih berupa tanah dan batu.
Tantangan: Pengelolaan dan SDM
Meski potensinya besar, Desa Pupuan menghadapi tantangan dalam pengelolaan wisata. Eksistensi Pokdarwis memudar karena banyak pengelola lama yang memilih berkarir di sektor pariwisata kota. Hal ini berdampak pada kekosongan struktur STT dan tidak aktifnya media sosial resmi @desawisatapupuan.
Namun, informasi lengkap tentang desa wisata ini tetap bisa diakses publik melalui website resmi https://desawisatapupuan.com/activity/. Website ini menyediakan panduan wisata, paket, homestay, kuliner, hingga kontak reservasi dengan fitur dwibahasa.
“Memilih Desa Pupuan sebagai destinasi artinya ikut berkontribusi pada pemerataan wisata di Gianyar. Ini juga kisah transformasi dari desa tertinggal menjadi desa wisata rintisan yang layak dapat dukungan lebih luas,” jelas Asih Purnamasari, Koordinator Klaster Soshum sekaligus anggota Tim KKN-PPM UGM Kembara Tegallalang.
Dengan segala keasrian dan kekayaan budayanya, Desa Pupuan menjadi alternatif “best decision” bagi wisatawan yang ingin menghindari kemacetan dan menikmati suasana intimate dengan alam Bali. (red)










