Barometer Bali | Denpasar – Gerakan Pemuda Bukan Pemula kembali membuka program kursus bahasa gratis bagi masyarakat. Komunitas yang berbasis di Kota Denpasar ini kini memperluas program dengan membuka kelas bahasa Jepang yang dapat diikuti tanpa dipungut biaya.
Ketua Gerakan Pemuda Bukan Pemula, Yonathan Andre Baskoro, mengatakan penambahan kelas bahasa Jepang merupakan upaya memberikan lebih banyak pilihan keterampilan bahasa asing yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
“Hari ini kembali dibuka program khusus kursus bahasa Inggris dan bahasa Jepang karena peminatnya paling banyak, sekaligus pembagian sertifikat bagi mereka yang sudah mengikuti pelatihan selama kurang lebih tiga bulan,” ujar Yonathan saat ditemui di kediamannya di Denpasar Selatan, Minggu (2/8/2026).
Menurut Yonathan, program tersebut terbuka bagi seluruh kalangan, mulai dari anak-anak hingga lanjut usia. Peserta baru juga tetap diberikan kesempatan untuk bergabung dengan melakukan pendaftaran ulang.
“Dan program hari ini juga terbuka bagi yang baru-baru mau ikut, mereka juga daftar ulang hari ini,” jelas Anggota DPRD Kota Denpasar tersebut.
Politisi muda Partai Golkar Denpasar itu menyebut mayoritas peserta berasal dari wilayah Denpasar Selatan. Namun, program tersebut terbuka bagi seluruh masyarakat Indonesia yang ingin meningkatkan kemampuan bahasa asing.
Yonathan berharap sertifikat yang diperoleh peserta setelah menyelesaikan pelatihan dapat menjadi bekal tambahan, terutama ketika mereka memasuki dunia kerja.
“Ke depan ketika mereka sudah mendapatkan sertifikat, harapannya itu bisa dipakai untuk bekal mereka, diperlukan saat melamar kerja, mungkin menjadi salah satu bahan pertimbangan di kantornya nanti,” jelasnya.
Ia menjelaskan, sejak komunitas Gerakan Pemuda Bukan Pemula dibentuk pada 2016, tercatat sekitar 2.500 peserta telah mengikuti berbagai program pelatihan yang diselenggarakan secara gratis.
Kegiatan belajar mengajar dipusatkan di sekretariat komunitas dan rutin digelar setiap akhir pekan, yakni Sabtu dan Minggu. Khusus kelas bahasa Jepang, kegiatan juga dilaksanakan pada hari kerja dengan jadwal tiga kali dalam sepekan.
“Semua kita laksanakan di sini setiap akhir pekan, Sabtu dan Minggu. Termasuk Bahasa Jepang. Tapi Bahasa Jepang ada hari kerjanya, tapi seminggu tiga kali,” jelasnya.
Sementara itu, para pengajar berasal dari berbagai latar belakang profesional, termasuk guru yang telah memasuki masa purnabakti. Yonathan juga sesekali turun langsung untuk memberikan materi kepada peserta.
“Dan kadang-kadang saya juga turun langsung ikut mengajari,” kata dia. (rian)










