Barometer Bali | Denpasar – Madyapadma Journalistic Park SMA Negeri 3 Denpasar kembali menggelar Apresiasi Sineas dan Jurnalist (Presslist ke-16). Tahun ini, rangkaian kegiatan mengangkat isu kemanusiaan dan keadilan melalui sejumlah karya jurnalistik dan audiovisual.
Ketua Panitia Presslist 16, Ida Bagus Putra Arka Diwangkara (18), mengatakan tema kegiatan tahun ini diangkat dari berbagai persoalan yang masih terjadi di Indonesia, khususnya kesenjangan sosial dan isu kemanusiaan. Menurutnya, tema tersebut juga merupakan kelanjutan dari Presslist 15 yang mengangkat tema Memanusiakan Keindonesiaan, Menumbuhkan Kesadaran Berkeadilan.
Arka mengatakan keberlanjutan tema tersebut muncul dari pandangan panitia bahwa persoalan kemanusiaan dan kesenjangan masih belum selesai. Setelah sebelumnya mengangkat gagasan memanusiakan keindonesiaan dan kesadaran akan keadilan, Presslist 16 mencoba melihat kembali persoalan yang masih berada di sekitar masyarakat.
“Kami melihat masih banyak isu di sekitar kita yang tidak kita sadari dan terkadang tidak kita pedulikan. Karena itu, kami ingin membuka mata masyarakat dan generasi muda melalui Presslist ini,” ujar Arka.
Steering Committee kegiatan pameran, Ni Nyoman Ayu Winna Trigita (17), mengatakan tema tersebut pada awalnya diambil dari tema lomba foto jurnalistik. Pemilihan tema yang sama dilakukan agar karya peserta dapat dipamerkan tanpa harus menyesuaikan kembali dengan tema yang berbeda. Namun, menurut Winna, pemilihan tema juga didasari oleh persoalan kemanusiaan yang masih ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Karya dalam pameran tidak hanya berupa fotografi. Sejumlah bentuk karya seperti lukisan, karikatur, buku, dan infografis turut digunakan untuk menyampaikan persoalan yang berkaitan dengan tema. Winna mengatakan penggunaan media dalam bentuk visual memungkinkan persoalan ditampilkan melalui gambaran yang dapat dilihat langsung oleh pengunjung.
“Semuanya jelas bercerita secara visual. Ketika orang-orang melihat secara langsung bukti yang ada di masyarakat, masyarakat jadi makin aware,” ujar Winna.
Pameran tersebut juga menjadi salah satu kegiatan awal yang menggunakan Paondopo sebagai ruang bertutur. Winna mengatakan Paondopo dirancang untuk menjadi ruang edukatif yang dapat digunakan untuk kegiatan tertentu sesuai dengan tujuan tempat tersebut.
“Paondopo itu menaungi banyak harapan orang-orang dan kami berharap Paondopo menjadi rumah bertutur, rumah yang bisa menjadi ruang edukatif untuk banyak orang,” papar Winna.
Selain pameran, Paondopo menjadi lokasi pemutaran Bioskop Madyapadma Trisma atau BISMA. Steering Committee BISMA. Made Chaitanya Puterining Dias (18), mengatakan film yang diputar merupakan karya anak muda yang sebelumnya telah melalui proses kurasi dan masuk nominasi dalam kegiatan perfilman Madyapadma.
“Film di BISMA ini merupakan karya anak muda, jadi salah satu hal yang ingin disampaikan adalah bahwa film-film anak muda juga berkualitas dan bisa diputar di khalayak ramai,” ungkap Chaitanya.
Sebanyak enam film ditampilkan dalam dua sesi. Dua film pada sesi pertama mengangkat persoalan keadilan, sedangkan empat film pada sesi kedua berkaitan dengan tradisi. Chaitanya mengatakan pembagian tersebut dilakukan berdasarkan topik dari film-film yang tersedia.
“Untuk kali ini aku bagi menjadi dua, yakni tentang tradisi dan tentang keadilan. Film-film yang diputar juga merupakan film yang sudah lolos kurasi dan masuk nominasi pada saat event film di Madyapadma,” kata Chaitanya. BISMA juga direncanakan memiliki sesi diskusi yang sasarannya adalah anak muda.
Dari pemutaran film tersebut, rangkaian kegiatan kemudian berlanjut melalui lomba resensi film. Steering Committee lomba resensi film. Kiraniakasih Kameswari Tanama Putra (16), mengatakan lomba tersebut dibuat untuk memberikan ruang bagi peserta yang memiliki kemampuan jurnalistik, khususnya dalam menulis resensi.
“Kami ingin memberikan ruang bagi orang-orang yang memiliki kemampuan di bidang jurnalistik, khususnya dalam menulis resensi, sekaligus mengapresiasi karya-karya film yang berkualitas,” pungkas Kirania.
Film dokumenter “Hak Tak Berpihak” menjadi film yang akan diresensi oleh peserta. Kirania mengatakan peserta tidak hanya diharapkan mampu menulis resensi, tetapi juga memahami isi dan pesan yang disampaikan melalui film.
“Harapannya, peserta tidak cuma menonton dan meresensi film, tetapi juga bisa memahami isi dan makna yang disampaikan di film tersebut,” tutur Kirania. Menurutnya, film tersebut juga dapat menjadi sumber inspirasi bagi orang lain yang ingin menghasilkan karya audiovisual.
Dari sisi pelaksanaan, lomba resensi film masih menghadapi persoalan dalam menjaring peserta. Organizing Committee lomba resensi film, Made Nanda Calya (16), mengatakan respons peserta sejauh ini berada pada tingkat sedang.
“Kalau antusiasme dan respons dari peserta, jujur saja sedang. Ada beberapa peserta yang excited banget karena biaya pendaftaran gratis, ada yang biasa saja,” ungkap Nanda. (yulius/rah)











