Barometer Bali | Denpasar- Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan komitmennya untuk mengembalikan sistem nilai dan jati diri masyarakat Bali melalui penguatan pendidikan karakter. Hal tersebut disampaikannya saat membuka Utsawa Dharmagita XXXIII Provinsi Bali Tahun 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Art Center, Jumat (11/9/2026).
Langkah nyata tersebut direalisasikan melalui pemberlakuan Peraturan Gubernur (Pergub) Bali Nomor 7 Tahun 2026. Regulasi ini mewajibkan penerapan nilai-nilai kearifan lokal warisan leluhur ke dalam kurikulum sekolah melalui mata pelajaran muatan lokal secara terarah.
Langkah ini diambil guna menyeimbangkan kompetensi peserta didik. Pendidikan formal saat ini dinilai terlalu berfokus pada ranah kognitif atau sains, seperti matematika, fisika, kimia, dan biologi, namun mengesampingkan penguatan afektif serta moralitas.
“Kita tidak merancang orang yang biasa-biasa, tapi orang yang luar biasa ke depan. Kalau matematika dapat nilai delapan, orang Bali yang kita desain ini tidak saja matematik delapan, tapi plus, plus, plus yang hanya ada di Bali,” ujar Koster.
Gubernur Koster memaparkan bahwa persaingan masa depan tidak lagi hanya mengandalkan eksekusi pekerjaan berbasis sains, melainkan juga karakter, integritas, dan etika. Mengutip ungkapan populer, Koster menekankan pentingnya moralitas dalam pembentukan SDM Bali Unggul.
“It’s good to be an important person, but it’s more important to be a good person. Bagus menjadi orang penting, tapi lebih penting lagi menjadi orang baik,” tuturnya.
Kebijakan ini juga menjadi instrumen penting dalam memulihkan alam kognitif dan perilaku masyarakat dari pergeseran nilai akibat perkembangan zaman. Gubernur Koster menyoroti fenomena degradasi moral seperti munculnya kasus korupsi dan kesombongan yang mulai mengikis kesujatian nak Bali. Padahal, berdasarkan temuan berbagai literatur peradaban Bali Kuno, sifat dasar (nature) orang Bali adalah ulet, jujur, rendah hati (undagi), santun, serta lebih mendahulukan kewajiban daripada hak.
Melalui sinergi antara Bulan Bahasa Bali dan Utsawa Dharmagita sebagai dua wahana utama pembentukan karakter, Pemerintah Provinsi Bali optimistis mampu mencetak SDM unggul yang berintegritas tinggi serta siap bersaing di tingkat global tanpa kehilangan akar budayanya. (red)










