Foto: Endek Bali ditampilkan dalam peragaan busana musim semi (summer, red) di ibukota rumah mode dan barometer fashion tersohor di dunia, Christion Dior, Paris, Perancis tahun 2021 (Sumber: Dok KBRI di Perancis)
Jembrana | barometerbali – Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 04 Tahun 2021 tentang Penggunaan Kain Tenun Endek Bali/Kain Tenun Tradisional Bali di era pemerintahan Gubernur Bali Wayan Koster telah mampu memacu peningkatan ekonomi pengerajin kain ikat tradisional Bali, endek didukung Dekranasda Bali melalui ketuanya Ny Putri Suastini Koster sehingga geliat industri endek makin produktif dan dikenal hingga merambah ke ibukota rumah mode dan barometer fashion tersohor di dunia, Christion Dior, Paris.
Untuk diketahui kain ikat tradisional Bali, endek telah sah menjadi Hak Intelektual Komunal Masyarakat Bali. Menjadi warisan budaya dan sosial bagi anak cucu Bali kelak. Endek juga telah terbukti meningkatkan perekonomian rakyat sewaktu menghadapi krisis ekonomi yang dilanda pandemi Covid-19. Semua ini terjadi karena adanya tindakan nyata Wayan Koster ketika menjadi Gubernur Bali dengan menerbitkan Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 04 Tahun 2021, dimotori oleh Dewa Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Bali diketuai Ny Putri Suastini Koster memperkuat endek sebagai geliat industri tenun tradisional Bali sekaligus pelestarian nilai sosial budaya Bali.
Pengerajin endek atau tenun cagcag di Mendoyo, Kabupaten Jembrana, Sayu Ketut Seniasih kepada media menuturkan dengan menenun endek dirinya sangat terbantu dalam meningkatkan pendapatan dan perekonomian keluarga.
“Hasil tenun niki (ini, red) membantu ekonomi keluarga tiyang (saya, red). Semoga masyarakat Bali, makeh nganggen (banyak yang mengenakan, red) Tenun Cagcag Bali. Sehingga kami sebagai pengerajin menjadi lebih semangat bekerja,” ungkap Seniasih.
Sejalan dengan Surat Edaran No 04 Tahun 2021, Gubernur Bali mengimbau kepada instansi vertikal, perguruan tinggi, Pemda, BUMN/BUMD, perusahaan swasta untuk menggunakan pakaian berbahan kain tenun endek Bali/kain tenun tradisional Bali setiap hari Selasa. (213)
Editor: Ngurah Dibia











