Kolase Foto: Wayan Koster dan Cok Ace disambut gembira dan antusias oleh MUI Bali beserta jajaran dan puluhan ormas Islam (kiri) di sela-sela acara Silaturahmi dan Buka Puasa Bersama Wayan Koster dan Direktur Bali Open Mind Institute Umar Ibnu Alkhatab (kanan) di Hotel Harris, Jl. Cokroaminoto Denpasar, Kamis (4/4/2024). (Sumber: BB/213)
Denpasar | barometerbali – Umar Ibnu Alkathab selaku Direktur Bali Open Mind Institute menyebut kepemimpinan Wayan Koster-Tjokorda Oka Artha Sukawati (Koster-Ace) selama menjabat Gubernur dan Wakil Gubernur Bali periode 2018-2023 sangat mengayomi umat Islam tanpa membeda-bedakan antara satu dengan lainnya.

Demikian dilontarkan Umar di sela-sela acara Silahturahmi dan Buka Bersama bersama Wayan Koster yang diinisiasi oleh Bali Open Mind Institute, bertempat di Hotel Harris, Denpasar, Kamis (4/4/2024).
Umar menegaskan umat muslim yang tinggal di Bali sangat nyaman dengan pasangan Koster-Ace saat memimpin dan sangat memperhatikan dan membantu kondisi umat Islam di Bali untuk bangkit, terutama ketika Pandemi Covid-19 yang memporakporandakan ekonomi Bali khususnya dan dunia pada umumnya.
“Itulah yang membuat umat Islam sangat nyaman dengan Koster-Ace. Mereka mampu menjadi pengayom umat dan hadir menjadi bapak umat Islam,” tandas Umar.

Sedangkan dalam sambutannya Wayan Koster mengucapkan terima kasih atas dukungan umat Islam selama ini dalam membangun Bali. Ia pun meminta maaf karena baru bisa menemui umat Islam secara langsung dalam suasana buka puasa.
“Mohon maaf ketika saya jadi Gubernur suasana seperti ini (buka puasa bersama, red) tidak bisa saya lakukan. Karena saya harus bekerja keras memimpin agenda pembangunan Bali, terlebih ketika Covid-19”, jelasnya.

Kendati demikian ia bersyukur hari ini di tengah Bulan Suci Ramadan, dapat menemui umat Islam sekaligus juga berterima kasih karena telah bersama-sama menjaga alam Bali, manusia Bali, budaya Bali.
“Sehingga kita bisa terus menjaga eksistensi Bali ditengah perkembangan nasional dan global karena Bali merupakan tujuan wisata dunia yang banyak sekali kepentingan masuk Bali sehingga kita perlu jaga,” tegasnya.

“Agar Bali tetap menjadi pulau yang dapat memberikan sumber penghidupan bagi kita semua. Tanpa memandang agama, asal-usul sehingga kita bisa hidup harmonis di Bali,” pungkas Koster. (213)
Editor: Ngurah Dibia











