Ket foto: Made Satria (kanan) dan Ketut Leo (kiri) saat upacara persembahyangan serangkaian Upacara Ngenteg Linggih di Pura Dalem Sental Kangin di Nusa Penida (barometerbali/tangkapan layar Bali TV)
Klungkung | barometerbali – Masyarakat Nusa Penida dan Klungkung jauh hari sebelum terjun ke dunia politik nama anggota DPRD Kabupaten Klungkung I Made Satria dari Fraksi PDI Perjuangan bersama adiknya, seorang pengusaha properti Ketut Leo dikenal sebagai keluarga dermawan dalam urusan membantu meringankan beban krama (warga) terutama upacara yadnya dan masalah sosial kemanusiaan.
Sejak usia 19 tahun Ketut Leo bersama kakaknya Made Satria memprakarsai berbagai proyek renovasi dan pembangunan puluhan pura dan merajan serta fasilitas umum dengan uang pribadi tanpa terputus di Nusa Penida dan juga di Klungkung daratan.
Apa yang telah mereka lakukan sebagai wujud kontribusi nyata yang tak hanya memperkuat nilai-nilai keagamaan, tetapi juga memperkokoh ikatan sosial masyarakat setempat, adat dan budayanya.
Pemangku Pura Dalem Sental Kangin, Jero Mangku Made Arta mengungkap bukan pura umum saja dibantu tapi juga pura kecil-kecil seperti merajan. Kalau di Banjar Adat Sental Kangin ada tiga Paiketan atau Kelan. Seperti contoh Pangeran Tangkas Puri Agung dan lainnya semua secara pribadi dibantu dengan uang pribadi.
“Ini bantuan tulus dari beliau berdua, dari sejak muda belum kawin itu. Jadi pada waktu itu beliau tidak mau di dunia politik, jadi itu keberadaan beliau di Banjar Adat Sental Kangin. Terus terang bukan karena kebetulan, sangat luar biasa, seumur saya sudah 65 tahun belum pernah ada (tokoh tokoh di Klungkung, red) seperti beliau berdua, itulah keberadaan beliau berdua di Banjar Adat Sental Kangin sampai saat ini,” ungkap Jero Mangku Made Arta di Nusa Penida, Klungkung pekan lalu.
Jero Mangku Made Arta mencontohkan, dalam pembangunan Pura Dalem dan Praja Pati serta pura-pura lain yang ada di Banjar Adat Sental Kangin, kontribusi mereka berikan dari mulai peletakan batu pertama, membangun hingga melaspas agung atau ngenteg linggih.
“Saya masih ingat diminta jadi Panglingsir Pemangku Puri Dalem tersebut. Itu bangunan fisik hampir menghabiskan dana Rp1,8 miliar. Belum lagi biaya untuk Pamlaspas Agung mencapai Rp700 juta. Itu uang pribadi, sepeser pun tidak ada biaya dari urunan kami,” bebernya.
Jero Mangku Made Arta juga mengungkap, bahwasannya Ketut Leo dengan latar belakangnya sebagai seorang pengusaha sukses, menggunakan keahliannya dalam manajemen proyek dan menyisihkan dana pribadi untuk memastikan setiap proyek pembangunan pura berjalan lancar.
Kegiatan ini tidak hanya membantu menjaga warisan budaya Bali, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Klungkung. (213)
Editor: Ngurah Dibia











