Kolase foto: Minyak Gemuk Litium (lithium grease) dari olahan Crude Palm Oil (CPO) atau minyak kotor hasil penelitian Dr. Mohammad Khotib, S.Si., M.Si dan Tim Peneliti. (barometerbali/213)
Badung | barometerbali – Crude Palm Oil (CPO) atau minyak kotor dapat dijadikan minyak gemuk litium (lithium grease) dengan menggunakan Teknologi Mikrogelombang. Demikian terungkap dalam pemaparan hasil riset dengan agenda Biomaterial Sawit Mendukung Ekonomi Kreatif oleh Peneliti Dr. Mohammad Khotib, S.Si., M.Si dan Tim Peneliti pada acara Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) ke-8 yang digelar Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Nusa Dua, Bali, berlangsung tanggal 3 – 4 Oktober 2024.
Dr. Mohammad Khotib menjelaskan minyak gemuk litium (lithium grease) adalah pelumas yang menggunakan sabun litium sebagai pengental. Minyak gemuk ini memiliki keunggulan dalam ketahanan terhadap tekanan, suhu tinggi, serta stabilitas termal yang baik.
“Menurut data BPS 2018, kebutuhan
minyak gemuk di Indonesia mencapai 30 ribu ton per tahun, dengan sektor otomotif dan industri menyerap kebutuhan terbesar senilai 44 juta dolar AS. Pasokan minyak
gemuk sebagian besar berasal dari impor, terutama dari Cina, yang merupakan produsen terbesar dunia berdasarkan survei NLGI 2020, dengan 70% pemakaian berupa minyak gemuk litium,” papar Dr Mohammad, Kamis (3/10/2024).
Lebih lanjut Dr Mohammad menerangkan, komponen utama minyak gemuk terdiri dari minyak dasar, pengental, dan aditif, yang umumnya berbahan dasar minyak mineral atau petroleum.
“Penelitian penggunaan minyak nabati, seperti minyak sawit, untuk bio-pelumas telah dilakukan. Beberapa bahan seperti RBDPO, PFAD, PKO, dan CPO dimodifikasi menjadi minyak dasar dan pengental, dengan konversi menghasilkan produk seperti diester, triester, oligoester, dan osteloid,” rinci Dr Mohammad.
Minyak gemuk kata dia, berbasis sawit dibuat dengan pengental kalsium dan aluminium melalui pemanasan konvensional pada suhu 160-180°C dalam waktu 3-6 jam.
“Penelitian baru diusulkan untuk memanfaatkan minyak kotor (MIKO) atau Palm Acid Oil (PAO), yang merupakan hasil sampingan proses penyulingan kelapa
sawit dengan kandungan FFA hingga 90%, sebagai bahan baku minyak dasar, pengental, dan aditif dalam minyak gemuk litium dengan teknik mikrogelombang yang dapat mempercepat waktu produksi,” urainya.

Dikatakan, penelitian ini bertujuan meningkatkan nilai tambah MIKO dan mendukung ekonomi sirkular, dengan tahapan penelitian berupa (1) desain dan pembuatan reaktor mikrogelombang skala 50 liter, (2) pembuatan minyak dasar dari MIKO melalui 14 konversi menjadi oligoester berbantuan reaktor mikrogelombang, (3) pembuatan sabun litium, (4) pembuatan aditif pemodifikasi friksi dari MIKO melalui amidasi, (5) pembuatan anti korosi melalui pembentukan heterosiklik, (6) optimasi formula “lithium grease” dengan response surface method, (7) uji kinerja sebagai minyak gemuk, (8) uji coba produk di industri, dan (9) kajian kelayakan secara teknik dan ekonomi dalam rangka komersialisai produk.
“Parameter uji untuk produk minyak gemuk
didasarkan pada SNI, mencakup beberapa aspek seperti penetrasi (NLGI), titik leleh (dropping point), pencucian air (water washout), pemisahan minyak (oil separation), perlindungan terhadap karat (rust protection), uji keausan bola empat (4-four ball wear), dan uji beban ekstrem bola empat (4-four ball EP). Penetrasi atau konsistensi minyak gemuk diukur menggunakan One Quarter Scale Cone
Equipment, yang menunjukkan tingkat kekerasan produk,” terangnya.

Penggolongan penetrasi diatur oleh NLGI, di mana nilai NLGI yang lebih kecil menandakan minyak gemuk yang lebih lunak. Selain itu, parameter dropping point menunjukkan suhu di mana minyak gemuk mulai mencair, yang berguna untuk kontrol kualitas dan identifikasi minyak gemuk. Berdasarkan hasil pengujian kualitas, produk termasuk dalam kategori NLGI 0, NLGI 1, dan NLGI 1-2 dengan dropping point berkisar antara 54 °C hingga 146 °C.
“Dari analisis ekonomi, bisnis minyak gemuk litium dinilai layak dijalankan. Pertumbuhan industri yang terus meningkat setiap tahun menciptakan peluang untuk ekspansi pasar, sekaligus mendukung program pemerintah
dalam membangun ekonomi sirkular melalui penggunaan biogrease di Indonesia,” tutup Dr Mohammad. (213)
Editor: Ngurah Dibia











