Foto: Paslon Ambara-Adi saat Diwawancarai Usai Debat Terakhir Pilwalkot Denpasar, Rabu (6/11/24). (barometerbali/213)
Denpasar | barometerbali – Paslon nomor urut 1 di Pilwalkot Denpasar, Gede Ngurah Ambara Putra-I Nengah Yasa Adi Susanto (Ambara-Adi) kritisi soal tidak adanya rumah aman di Ibu Kota Provinsi Bali tersebut.
Pihaknya mengatakan, hingga saat ini, Denpasar belum memiliki rumah aman untuk menampung perempuan dan anak yang menjadi korban kekerasan.
“Banyak kasus-kasus KDRT yang saya tangani. kan mereka tidak mungkin kembali ke rumah suaminya, nah kalau mereka tidak punya tempat tinggal bagaimana?” ujar Adi Susanto yang dalam kesehariannya juga dikenal sebagai pengacara, Rabu (6/11/24) di Denpasar.
Lebih lanjut, pihaknya mengaku berkomitmen untuk membentuk rumah aman bagi warga Kota Denpasar.
“Nanti ada psikolog di sana, ada pekerja sosial, dan ada pekerja kesejahteraan sosial. Kita fasilitasi mereka, kita siapkan juga pengacara-pengacara di Kota Denpasar,” terangnya.
Sementara itu, paslon 2, I Gusti Ngurah Jaya Negara-Kadek Agus Arya Wibawa (Jaya-Wibawa) menyebutkan Denpasar saat ini telah memiliki rumah singgah.
“Kami luruskan sedikit, sebenarnya Denpasar memiliki rumah singgah dan sekarang di tahun 2025 sudah ditetapkan dalam APBD kita membangun rumah terpadu anggarannya hampir Rp2,5 Miliar,” ujar Jaya Negara.
Paslon petahana ini menambahkan, pihaknya telah menjalankan sejumlah program untuk merespon isu kekerasan terhadap perempuan dan anak di Denpasar.
“Terkait dengan program, kami mempunyai program pusat pembelajaran keluarga (puspaga) yang memberikan layanan konseling secara gratis terkait kesehatan mental anak. Kemudian, kami punya program Nayaka Prana bahwa kalau nanti ada masyarakat kami mengalami kekerasan akan dilayani dalam bentuk pengaduan, pengelolaan kasus, mediasi, dan pendampingan korban,” tambah Agus Wibawa.











