10 Tradisi Unik Sambut Ramadan di Indonesia, Apa Saja?

BB FEB F 16
Warga berebut kue apem di Masjid Al Akbar Surabaya, Jawa Timur. (barometerbali/net)

Denpasar | barometerbali – Umat Islam sebentar lagi akan menyambut bulan Ramadan 1446 Hijriah yang penuh berkah.

Merujuk pada kelender Hijriah 2025 yang diterbitkan Kementerian Agama (Kemenag), awal bulan suci ini diperkirakan akan ditetapkan pada Sabtu, 1 Maret 2025.

Sebagai negara dengan penduduk beragama Islam terbesar di dunia, banyak masyarakat yang antusias menyambut Ramadan.

Sejumlah daerah biasanya memiliki tradisi unik yang digelar sebelum bulan puasa.

Lantas, apa saja tradisi menjelang Ramadan di Indonesia?

Sejumlah masyarakat di beberapa daerah di Tanah Air rutin menggelar tradisi menyambut Ramadan.

Di mana saja dan apa bentuknya?

1. Meugong (Aceh)

Aceh memiliki tradisi menarik jelang bulan Ramadan.

Dikutip dari laman Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, masyarakat Aceh mengenal tradisi Meugang atau Haghi mamagang.

Meugang adalah kegiatan memasak daging sapi, kambing, atau kerbau sebelum bulan puasa.

Olahan daging itu lalu dimakan bersama dengan seluruh anggota keluarga, kerabat, atau yatim piatu.

2. Nyorog (Jakarta)

Suku Betawi di Jakarta memiliki sejumlah tradisi menyambut puasa, salah satunya Nyorog.

Tradisi ini semula dikenalkan oleh para wali penyebar agama Islam, dan telah dilakukan sejak 1800-an.

Berita Terkait:  Hentikan Tragedi Bunuh Diri, Upacara Parisudha Jagat Digelar di Jembatan Tukad Bangkung

Nyorog adalah kegiatan memberikan bingkisan makanan kepada anggota keluarga yang lebih tua, baik orangtua maupun mertua.

3. Cucuruk (Jawa Barat)

Dalam bahasa Sunda, Cucuruk memiliki arti bersenang-senang dan berkumpul bersama keluarga besar untuk menyambut bulan Ramadan.

Selain berkumpul bersama, biasanya Cucuruk diisi dengan kegiatan makan bersama beralaskan daun pisang sambil duduk lesehan.

Menu yang disajikan beragam, salah satunya adalah nasi liwet.

4. Padusan (Yogyakarta)

Masyarkat Yogyakarta mengenal tradisi Padusan yang dalam bahasa Jawa berarti mandi (padus). 

Tradisi ini dilakukan dengan tujuan menyucikan diri, membersihkan jiwa dan raga sebelum datang bulan puasa.

Selain itu, padusan juga diartikan sebagai momen untuk introspeksi diri atas segala kesalahan yang diperbuat.

5. Megibung (Bali)

Meski kental dengan budaya Hindu, tetapi di Bali juga terdapat tradisi sebelum puasa Ramadan. 

Umat Islam di Bali mengenal tradisi Megibung, yaitu kegiatan memasak dan makan bersama sambil duduk melingkar.

Berita Terkait:  Jegog Spirit Festival 2025: 75 Sekaa Jegog Bergemuruh, Tiga Tokoh Legendaris Raih Lifetime Achievement

Saat melakukan Megibung, biasanya nasi akan diletakkan di wadah yang disebut dengan gibungan, sedangkan lauk pauknya disajikan di sebuah alas karangan.

6. Mattunu Solong (Sulawesi Barat)

Tradisi menyambut Ramadan berikutnya adalah Mattunu Solong dari Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Biasanya masyarakat setempat memeriahkan Ramadhan dengan menyelakan pelita tradisional yang terbuat dari buah kemiri dan ditumpuk dengan kapuk, lalu dililitkan pada potongan bambu.

Pelita tersebut kemudian ditempel di pagar, halaman, anak tangga, pintu masuk, atau dapur. Mattunu Solong dilakukan dengan tujuan untuk meminta kesehaatan dan umur panjang.

7. Baratan (Jepara, Jawa Tengah)

Baratan adalah tradisi Ramadan yang dilakukan oleh masyarakat Desa Kriyan, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

Tradisi ini berupa kirab pada bulan Sya’ban dalam kalender Hijriah.

Nama Baratan sendiri berasal dari bahasa Arab, barakatan yang artinya keselamatan.

8. Megengan (Jawa Timur)

Megengan adalah tradisi yang dilakukan dengan kenduri atau selamatan di masjid maupun mushola. 

Biasanya, masyarakat di Jawa Timur membawa makanan untuk dibagi dan dimakan bersama setelah selamatan.

Berita Terkait:  Beach Club Family-Friendly, Flamingo Family Beach Club: Nyaman untuk Bermain Bersama si Kecil

Makanan utama yang tak pernah absen saat Megengan adalah kue apem.

Kue ini merupakan simbol permohonan ampun kepada Allah SWT karena nama apem berasal dari kata bahasa Arab, yaitu afwan yang berarti maaaf.

9. Malamang (Padang, Sumatera Barat)

Tradisi Malamang umumnya dilakukan oleh masyarakat Kecamatan Pauh, Padang, Sumatera Barat jelang Ramadan.

Malamang adalah kegiatan membuat lamang, yaitu makanan khas Minang yang terbuat dari beras ketan.

Cara memasaknya cukup unik, yakni lamang dimasukkan ke dalam bambu panjang kemudian dibakar dengan dilapisi daun pisang.

10. Mohibadaa (Gorontalo)

Menjelang bulan suci Ramadan, masyarakat Gorontalo biasanya menggelar Mohibadaa untuk menyambut bulan suci Ramadan.

Mohibadaa merupakan tradisi membalurkan ramuan rempah-rempah tradisional sebagai masker wajah. 

Racikan rempah itu terbuat dari tepung beras, humopoto (kencur), bungale (bangle), dan alawahu (kunyit).

Tradisi ini bertujuan untuk menjaga kondisi kulit, karena saat puasa kulit biasanya terasa kering apalagi cuaca di Gorontalo sangat panas. (ari)

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI