Sejarah Museum Le Mayeur: Saksi Pertemuan Bangsawan Belgia dan Gadis Penari Bali

BB APRIL F 12
Patung A. J. Le Mayeur De Merpres dan Ni Nyoman Pollok yang ada di Museum Le Mayeur, Denpasar, Bali. (barometerbali/net)

Denpasar | barometerbali – Menghabiskan liburan ke Bali, tak melulu harus mengunjungi pantai.

Bali bukan hanya terkenal dengan wisata pantai saja, tapi ada museum yang menarik untuk dikunjungi juga.

Seperti Museum La Mayeur yang berlokasi di Jalan Hang Tuah Sanur Kaja, Kecamatan Denpasar Selatan, Denpasar, Bali.

Museum Le Mayeur adalah museum yang menyimpan karya seni dari Adrien-Jean Le Mayeur, pelukis ternama asal Belgia yang berasal dari keluarga Bangsawan.

Le Mayeur lahir pada 9 Februari 1880 dan dikenal sebagai seorang seniman yang berkontribusi besar dalam dunia seni lukis, terutama dalam menggambarkan keindahan Bali dan budayanya.

Berbagai karya seni menakjubkan tersimpan di Museum La Mayeur dan bisa kamu lihat.

Koleksi seni tradisional Bali dan artefak lokal pun dapat kamu temukan di sana.

Sejarah Berdirinya Museum Le Meyeur

Museum yang buka setiap hari pukul 08.00-16.00 WITA ini menawarkan keindahan seni yang begitu menakjubkan.

Keindahan museum ini bukan hanya terletak pada karya seni yang dipamerkan, tetapi juga pada suasana yang memikat dan memancarkan aura klasik yang kuat.

Gedung utama museum, yang menjadi tempat hampir seluruh karya lukisan Le Mayeur dipajang, menyajikan perpaduan unik antara suasana, musik, dan seni rupa yang seolah membawa pengunjung kembali ke masa lalu.

Berita Terkait:  Nuanu Cultural Week Merayakan Keberagaman Indonesia di Momen Lebaran

Lukisan-lukisan Le Mayeur tidak hanya sekadar gambar di kanvas; mereka adalah jendela yang membuka kenangan dan kisah hidup sang seniman.

Setiap goresan kuas Le Mayeur mencerminkan kekagumannya terhadap Bali, terutama kecintaannya pada istrinya, Ni Nyoman Pollok.

Salah satu keistimewaan museum ini adalah adanya penjelasan mendetail yang menyertai setiap lukisan, memberikan konteks dan cerita di balik setiap karya.

Banyak dari lukisan-lukisan tersebut menampilkan Ni Nyoman Pollok, yang digambarkan dengan penuh cinta dan keindahan, terutama saat ia menari dengan anggun di halaman rumah mereka, di tengah pemandangan alam bali yang memukau.

Museum ini adalah destinasi yang sempurna tidak hanya bagi pecinta seni, tetapi juga bagi siapa saja yang ingin mendalami sejarah dan budaya Bali.

Pengunjung umum, pelajar, atau siapa pun yang tertarik pada sejarah seni dan budaya akan menemukan banyak hal menarik di sini.

Museum ini menyajikan pengalaman yang tidak hanya visual tetapi juga emosional, membawa pengunjung merasakan kehidupan dan cinta yang terjalin antara Le Mayeur dan Pollok.

I Made Darma, seorang pria berusia 52 tahun yang bertugas sebagai pengelola retribusi daerah untuk Museum La Mayeur berbagi cerita tentang sejarah singkat berdirinya museum ini.

Berita Terkait:  Dialog Kebijakan BASAibu Wiki: Solusi Kesehatan Mental Pemuda Bali

“Asal muasal berdirinya Museum La Mayeur ini dimulai dengan kedatangan Tuan Le Mayeur ke Bali melalui Singaraja pada tahun 1932.”

“Kemudian ia melanjutkan perjalanannya ke Denpasar tepatnya di Klandis, di sinilah ia bertemu dengan seorang penari Legong Kraton bernama Ni Nyoman Pollok.”

“Awalnya, Le Mayeur sangat terpesona dengan tarian Ni Nyoman Pollok, akhirnya ia menawari Ni Nyoman Pollok untuk menjadi model lukisannya, dan disepakati oleh Ni Nyoman Pollok.”

“Dengan visa yang hanya bertahan 8 bulan, Le Mayeur terus melukis Ni Nyoman Pollok dan akhirnya memperjualbelikan lukisan-lukisan tersebut di Singapura pada saat konferensi Inggris.”

“Ternyata, lukisan beliau banyak laku terjual, nah dari hasil menjual lukisan inilah Le Mayeur kemudian membeli sebidang tanah di Pantai Sanur pada tahun 1932.”

Le Mayeur kemudian melanjutkan karyanya bersama Ni Nyoman Pollok, dan hasil dari penjualan lukisan-lukisan mereka digunakan untuk membangun rumah yang kini menjadi Museum Le Mayeur.

Pada tahun 1935, setelah cukup lama bersama, Le Mayeur menikahi Ni Nyoman Pollok, dan keduanya hidup dengan tentram di rumah tersebut, sambil terus melanjutkan membuat karya seni yang kini abadi di museum ini.

Pada tahun 1957, Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno, berkunjung ke rumah Le Mayeur dan saat itulah Le Mayeur mengusulkan agar rumahnya kelak dijadikan museum.

Berita Terkait:  JNE Content Competition 2026 Dibuka, Hadiah Ratusan Juta hingga Umrah & Holy Land

Usulan ini disetujui, dan akta notaris yang mengesahkan rumah tersebut sebagai museum pun dikeluarkan.

Sayangnya, pada tahun 1958, Le Mayeur jatuh sakit dan harus kembali ke Belgia untuk berobat, ditemani oleh Ni Nyoman Pollok.

Tak lama setelah itu, Le Mayeur meninggal dunia pada usia 78 tahun.

Ni Nyoman Pollok kembali ke bali dan mengurus rumah yang telah menjadi museum ini hingga ia meninggal dunia pada tahun 1985.

Setelah itu, rumah tersebut sepenuhnya diserahkan kepada pemerintah dan terus dilestarikan hingga kini.

Museum Le Mayeur adalah bukti nyata cinta yang abadi, baik cinta pada seni maupun cinta sejati antara Le Mayeur dan Ni Nyoman Pollok.

Tempat ini bukan hanya sekadar destinasi wisata, tetapi juga saksi bisu dari kisah cinta yang abadi dan dedikasi seorang seniman terhadap kecantikan dan keindahan yang ia temukan di Bali.

Bagi siapa pun yang mengunjungi museum ini, mereka tidak hanya menyaksikan karya seni yang memukau, tetapi juga merasakan sentuhan dari sebuah kisah hidup yang penuh dengan warna dan keindahan. (ari)

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI