Barometer Bali | Denpasar – Universitas Ngurah Rai (UNR) melalui Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (FISHUM) bekerja sama dengan Institut KAPAL Perempuan dan Yayasan Bali Sruti menyelenggarakan seminar nasional bertajuk “Masa Depan Kesetaraan Gender di Tengah Krisis”, Kamis (18/9/2025).
Acara ini menjadi wadah penting dalam menyoroti stagnasi pencapaian kesetaraan gender di tengah krisis global yang tengah melanda.
Seminar yang digelar di Kampus UNR ini menghadirkan lebih dari 200 peserta dari berbagai kalangan, termasuk mahasiswa, perwakilan pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, akademisi, hingga jurnalis. Turut hadir antara lain perwakilan dari Bappeda Provinsi Bali, Dinas Pendidikan Kabupaten Badung, Inspektorat Provinsi Bali, KPU dan Bawaslu Kabupaten Badung, serta sejumlah organisasi perempuan seperti LBH APIK, Anikalinden Center, dan Sekolah Perempuan.
Dalam kesempatan tersebut Rektor UNR, Prof. Dr. Ni Putu Tirka Widanti, M.M., M.Hum., menekankan pentingnya tema seminar ini, mengingat kesetaraan gender masih menjadi isu krusial di berbagai wilayah, termasuk Bali.
“Urgensi tema ini terlihat dari hasil-hasil penelitian dan pengabdian ke desa-desa yang kami lakukan. Sebagai perguruan tinggi, UNR mengembangkan strategi merespons situasi ini, salah satunya adalah pembentukan Satgas TPKS.
Secara khusus, FISHUM juga memperbarui kurikulum dengan menambahkan mata kuliah seperti Gender Dasar, Gender dalam Administrasi Publik, dan Pembangunan Responsif Gender dan Inklusif,” ujar Prof. Tirka.
Seminar ini dimoderatori oleh Wakil Rektor UNR, Dr. Gede Wirata, S.Sos., SH., MAP., dan menghadirkan tiga narasumber utama: Prof. Ni Putu Tirka Widanti, Ketua Dewan Eksekutif Institut KAPAL Perempuan Misiyah, M.Si, dan peneliti independen Justin Anthonie yang memaparkan data terbaru dari Indeks Gender SDGs 2024.
Dalam presentasinya, Justin Anthonie memaparkan data dari Koalisi Equal Measures 2030 (EM2030), yang menunjukkan bahwa dunia menghadapi tiga krisis utama yang memengaruhi pencapaian kesetaraan gender: krisis sumber daya, krisis demokrasi, dan krisis keselamatan serta keamanan.
“Jika tren saat ini terus berlanjut, tidak ada satu pun negara yang berada di jalur yang tepat untuk mencapai kesetaraan gender pada tahun 2030. Bahkan, seorang anak perempuan yang lahir hari ini diprediksi baru akan melihat dunia mencapai kesetaraan gender pada usia 97 tahun,” jelas Justin.
Sementara itu, Direktur Institut KAPAL Perempuan, Budhis Utami, menyatakan bahwa kesetaraan gender kini bukan hanya menjadi tujuan, tapi juga menjadi salah satu bentuk krisis yang harus segera ditangani.
“Data global menunjukkan hampir 40 persen negara mengalami stagnasi dalam hal kesetaraan gender. Padahal, pembangunan tidak bisa disebut berhasil jika kesetaraan gender tidak tercapai. Tanpa data gender yang akurat, kebijakan pembangunan hanya akan melihat separuh dari realitas,” tegas Budhis.
Ketua Dewan Eksekutif Institut KAPAL Perempuan, Misiyah, M.Si, menambahkan bahwa peran masyarakat sipil dan perguruan tinggi sangat penting dalam mendorong perubahan sistemik demi mencapai keadilan gender.
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UNR, Dr. Drs. I Wayan Astawa, SH., MAP., turut menegaskan bahwa kesetaraan gender bukanlah nilai asing, melainkan sejalan dengan kearifan lokal Bali, khususnya dalam konsep Tri Hita Karana.
“Dalam nilai Tri Hita Karana, aspek pawongan atau hubungan antar manusia sangat menjunjung tinggi keadilan. Di lingkungan kampus, kami memastikan tidak ada yang termarginalkan dan kami terus mendorong pendidikan gender yang inklusif,” kata Astawa.
Sebagai penanggap dalam seminar ini hadir Ida Bagus Gede Wesnawa Punia, ST., M.Si, Kepala Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia Bappeda Provinsi Bali; Nyoman Ayu Sukma Pramestisari, S.Sos., M.A dari Universitas Udayana; serta Dr. I Gusti Ayu Andani Pertiwi, S.S., M.Si dari Yayasan Bali Sruti. ***











