Asal usul Nama Renon di Bali: Warisan Sakral, Kisah Perang Blanjong dan Baris Cina

BARO OKTO F 24 A
Monumen Bajra Sandhi yang terletak di kawasan Renon, merupakan simbol pengingat perjuangan rakyat Bali mengusir penjajah. (barometerbali/dok.net)

Barometer Bali | Denpasar –  selalu diidentikkan dengan lapangan besar di pusat pemerintahan Bali, namun sebenarnya, nama Renon adalah sebuah desa yang terletak di selatan Lapangan Puputan Niti Mandala.

Desa ini menyimpa sejarah yang belum banyak diketahui, namun memiliki daya tarik tersendiri.

Berdasarkan prasasti Blanjong desa ini sudah ada sejak tahun 913 Masehi ketika Sri Kesari Warmadewa berkuasa.

Konon, Desa Renon, Denpasar, muncul setelah perang Blanjong, di mana penduduk setempat mengungsi ke daerah-daerah seperti Sukawati, Kesiman, hingga Renon.

Awalnya, mereka adalah nelayan, namun setelah menetap di Renon, mereka harus beralih profesi menjadi petani.

Berita Terkait:  Surga Cita Rasa Premium, Ini 5 Restoran Wajib Dikunjungi di Petitenget Bali

“Kami harus beradaptasi, dari nelayan menjadi petani. Namun, justru hal itu membawa kemakmuran,” ungkap I Made Sutama, Tokoh Adat Renon.

Kemakmuran itu diabadikan dalam sebutan “Rnam,” yang kemudian berkembang menjadi “Renon.”

Hingga kini, kata “Rnam” masih digunakan sebagai maskot desa dengan slogan “Rnam Raharja.”

Selain kisah perang, Prasasti Blanjong juga mengungkap penemuan Gong Beri dan terompet kuno yang terbuat dari batu karang.

Hingga kini, terompet tersebut masih digunakan dalam upacara sakral seperti Tari Baris Cina tarian sakral khas Desa Renon yang memiliki nilai sejarah tinggi.

Berita Terkait:  Beach Cleaning Company Bersihkan Pantai Segara – Sanur, Dukung Kompetisi Surfing Magic Shootout 2026

Uniknya, meskipun Pura Blanjong terletak di Desa Sanur, pura tersebut dianggap sebagai sesuhunan utama Desa Renon.

Tari Baris Cina selalu dipentaskan saat piodalan di Pura Khayangan Tiga Desa Adat Renon, serta di pura-pura penting lain yang berhubungan dengan perjalanan Dang Hyang Niratha.

Menurut Sutama, tarian ini melambangkan kesiapsiagaan prajurit sebelum berperang.

Kostumnya sebagian besar berasal dari luar negeri, seperti topi dari Australia dan pedang dari Cina.

Namun, para penari tidak perlu waktu lama untuk menguasai gerakannya.

Berita Terkait:  Penglipuran: Sinergi Adat dan Modernisasi dalam Pengembangan Desa Wisata Berkelanjutan

“Ini adalah anugerah dari sesuhunan Baris Cina,” tambah Sutama.

Bendesa berharap agar kesakralan Tari Baris Cina tetap terjaga melalui pementasan yang berfokus pada upacara keagamaan.

Sebagai langkah untuk menjaga tradisi ini, pihak desa juga sedang mengembangkan tarian profan yang terinspirasi dari Baris Cina, yakni Legong Sudamala.

Desa Renon bukan sekadar nama, melainkan sebuah kisah sejarah yang panjang dan sakral, dari perang Blanjong hingga tradisi yang terus hidup dalam bentuk seni dan tarian. (ari)

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI