Belajar dari Singapura dan Australia dalam Pengelolaan Sampah

Screenshot_20251218_201542_InCollage - Collage Maker
Sisa abu pembakaran sampah di Singapura dikelola di Semakau Landfill (kiri) dan instalasi pabrik waste to energy di Australia (kanan). (barometerbali/kwinana/red)

Barometer Bali | Denpasar – Keberhasilan Singapura dan Australia dalam mengelola sampah menjadi rujukan penting bagi daerah-daerah yang masih bergelut dengan persoalan sampah, termasuk Provinsi Bali. Kedua negara tersebut dinilai sukses karena mampu menggabungkan kebijakan tegas, teknologi, serta perubahan perilaku masyarakat secara konsisten.

Pakar lingkungan menilai Singapura unggul dalam pengelolaan sampah di hilir melalui teknologi waste-to-energy (WTE). Hampir 90 persen sampah diolah melalui insinerator modern yang tidak hanya mengurangi volume sampah secara signifikan, tetapi juga menghasilkan energi listrik. Sisa abu pembakaran dikelola di Semakau Landfill, landfill lepas pantai yang dirancang ramah lingkungan.

Berita Terkait:  Polres Badung Temukan Studio Produksi Film Dewasa di Canggu, 18 WNA Diamankan

Singapura menunjukkan bahwa keterbatasan lahan bisa diatasi dengan teknologi dan tata kelola yang disiplin. Namun kuncinya bukan hanya mesin, melainkan penegakan hukum dan sistem yang konsisten.

Selain teknologi, Singapura menerapkan penegakan hukum yang ketat terhadap pelanggaran kebersihan serta skema Extended Producer Responsibility (EPR) yang mewajibkan produsen bertanggung jawab atas limbah produknya. Edukasi publik dilakukan sejak dini dan menjadi bagian dari budaya nasional.

Sementara itu, Australia dinilai berhasil menekan volume sampah dari hulu. Pemilahan sampah diwajibkan sejak rumah tangga melalui sistem tong terpisah untuk sampah organik, daur ulang, dan residu. Pemerintah juga memberlakukan pajak tinggi untuk TPA (landfill levy), sehingga membuang sampah ke TPA menjadi pilihan paling mahal.

Berita Terkait:  Kritik Media dari Banjir Sumatera hingga Cerpen Konoha

Australia menggunakan instrumen ekonomi untuk mengubah perilaku. Ketika menimbun sampah lebih mahal daripada mendaur ulang, maka sistem akan berjalan dengan sendirinya.

Pendekatan ini diperkuat dengan pelarangan plastik sekali pakai di berbagai negara bagian serta peran aktif pemerintah lokal yang memiliki target kinerja pengelolaan sampah yang jelas.

Untuk Bali, para pengamat menilai pendekatan Singapura dan Australia dapat dikombinasikan. Pemilahan sampah berbasis desa adat dan banjar dinilai relevan untuk diterapkan, sementara teknologi pengolahan seperti RDF atau insinerator skala regional diperlukan untuk menangani sampah residu.

Berita Terkait:  Demokrasi Menyimpang dan Kekuasaan yang Menghalalkan Segala Cara

Bali tidak bisa hanya mengandalkan TPA. Diperlukan regulasi tegas, insentif ekonomi, serta kepemimpinan yang konsisten agar perubahan perilaku masyarakat bisa terwujud.

Dengan tekanan sektor pariwisata dan keterbatasan lahan, Bali dinilai perlu segera beralih dari pendekatan buang dan angkut menuju sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi dan berkelanjutan sebagaimana telah dilakukan Singapura dan Australia. (red)

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI