Barometer Bali | Klungkung – Kepastian kelanjutan pembangunan Pusat Kebudayaan Bali (PKB) di Kabupaten Klungkung akhirnya terjawab. Setelah sempat diisukan akan mangkrak, proyek strategis Pemprov Bali tersebut kini memasuki fase lanjutan dan dipastikan akan berjalan sesuai rencana mulai 2026.
Kepastian itu ditegaskan langsung Gubernur Bali Wayan Koster saat pelaksanaan Upacara Tawur Agung Labuh Gentuh Ngeruak Bumi Penegteg Jagat di kawasan Pusat Kebudayaan Bali, Klungkung, Senin (29/12/2025). Upacara tersebut menjadi simbol kesiapan lahir dan batin sebelum pembangunan fisik kembali dilanjutkan.
Gubernur Koster menegaskan, pembangunan zona penunjang PKB yang difungsikan sebagai kawasan komersial akan dilakukan melalui skema kerja sama dengan pihak ketiga.
“Pembangunan zona penunjang sebagai kawasan komersial akan dikerjasamakan dengan pihak ketiga melalui Perseroda yang mengelola kawasan ini. Pemerintah Provinsi Bali sudah memiliki Perseroda khusus untuk mengelola kawasan Pusat Kebudayaan Bali,” katanya.
Ia menjelaskan, zona penyangga kawasan PKB bahkan sudah lebih dulu dibangun dan akan dilanjutkan pada tahap berikutnya. Berbagai tahapan pembangunan telah disiapkan secara sistematis mulai tahun 2026.
“Dengan berbagai tahapan yang akan dilaksanakan mulai tahun 2026, kami berharap semuanya dapat berjalan dengan lancar. Oleh karena itulah upacara ini dilaksanakan, agar benar-benar mendapatkan restu dari niskala, sehingga apa yang kita laksanakan di sini dapat memberi manfaat bagi masyarakat Bali,” ungkapnya.
Lebih jauh, Gubernur Koster menegaskan bahwa PKB tidak hanya dibangun sebagai pusat pelestarian budaya, tetapi juga dirancang sebagai kawasan terintegrasi yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi lintas wilayah.
“Selain untuk kepentingan pembangunan budaya Bali, kawasan ini juga akan menjadi kawasan terintegrasi. Kawasan ini dirancang sebagai destinasi wisata baru dan sekaligus pusat pertumbuhan ekonomi baru, tidak hanya bagi Kabupaten Klungkung, tetapi juga Gianyar, Bangli, dan Karangasem,” terangnya.
Dengan cakupan wilayah tersebut, Gubernur Koster memastikan setidaknya empat kabupaten akan merasakan dampak langsung pembangunan PKB.
“Jadi, ada empat kabupaten yang akan merasakan dampak langsung dari pembangunan kawasan ini,” tuturnya.
Ia menegaskan, pemilihan lokasi PKB di Klungkung bukan keputusan instan, melainkan melalui kajian panjang.
“Kawasan ini akan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di wilayah yang cukup luas. Dan ini bukan sesuatu yang terjadi begitu saja. Kawasan ini memang harus dimanfaatkan untuk kepentingan budaya, karena ketika dicari di tempat lain, tidak ada yang cocok,” tegasnya.
Gubernur Koster bahkan mengungkapkan bahwa pencarian lokasi PKB telah ia lakukan jauh sebelum menjabat sebagai gubernur.
“Sebelum saya dilantik, bahkan sebelum terpilih menjadi gubernur, saya sudah memikirkan dan mencari lokasi untuk kawasan besar budaya Bali,” ungkapnya.
Ia membeberkan berbagai alternatif lokasi yang sempat dikaji, mulai dari Padang Galak, Buleleng, Gerokgak hingga Jembrana, namun semuanya dinilai tidak memenuhi kriteria.
“Terakhir, barulah ditemukan kawasan ini,” imbuhnya.
Menurut Gubernur Koster, kawasan PKB juga memiliki keterkaitan kuat dengan sejarah kejayaan Bali.
“Dan kawasan ini rupanya tidak terlepas dari restu sejarah, berkaitan dengan Kabupaten Klungkung, Dalem Watu Renggong, dan Kerajaan Gelgel,” terangnya.
Dengan dukungan sejarah dan spiritual tersebut, proses pembebasan lahan berjalan lancar, termasuk dari sisi pendanaan.
“Kita mendapatkan pinjaman dari SMI sebesar Rp1,5 triliun tanpa bunga pada masa COVID-19. Dari jumlah itu, digunakan sekitar Rp1,4 triliun untuk pembebasan lahan dan pematangan lahan,” lanjut Koster.
Pembangunan fisik PKB akan dilanjutkan pada 2026–2027, dengan target menggandeng mitra swasta untuk mengembangkan kawasan komersial.
“Nantinya akan ada convention center, Bali Expo, hotel, kawasan UMKM, dan berbagai fasilitas lainnya,” jelasnya.
Dengan konsep nyegara gunung dan lokasi di jalur jalan nasional, Gubernur Koster optimistis PKB akan berkembang optimal dan menjadi warisan besar bagi Bali. (rah)











