Di Balik Sorotan Sampah Pantai, Bali Tak Tinggal Diam

Screenshot_20260203_110752_WhatsApp
Dalam kurun 26 sampai 31 Januari 2026, pembersihan dilakukan di 12 zona pesisir Pantai Cemagi, Seseh di barat sampai Nusa Dua di selatan. (barometerbali/iustrasi/ai)

SOROTAN terhadap sampah di pantai Bali memang keras. Foto-foto tumpukan limbah di pesisir cepat menyebar, disertai komentar pedas yang menyederhanakan persoalan seolah-olah tak ada yang bekerja. Padahal di balik gambar yang viral itu, ada operasi besar yang berjalan nyaris tanpa sorotan.

Dalam kurun 26 sampai 31 Januari 2026, pembersihan dilakukan di sedikitnya 12 zona pesisir utama Bali. Dari Cemagi sampai Seseh di barat hingga Nusa Dua di selatan. Kawasan wisata padat seperti Batu Bolong, Petitenget, Double Six, Legian, Kuta, Jimbaran, sampai Tanjung Benoa masuk dalam daftar penanganan intensif. Ini bukan titik terpencil. Ini etalase pariwisata Bali.

Data pengangkutan menunjukkan skala persoalan sekaligus skala kerja yang dilakukan. Dalam periode itu, total 5.590 ton sampah berhasil diangkut. Sebagian besar merupakan akumulasi kiriman gelombang sebelumnya yang mencapai 5.544 ton, ditambah 46 ton pada pekan berjalan.

Berita Terkait:  PLN Unit Induk Distribusi Bali Raih Penghargaan Indonesia Green Awards 2026 Berkat Program Lingkungan dan Sosial Berkelanjutan

Di sejumlah titik, volume sangat besar tercatat, ada zona dengan beban hingga 1.672 ton, 1.490 ton, dan 684 ton. Angka-angka ini bukan simbolik, ini kerja fisik, ritase truk tanpa henti, alat berat di garis pantai, dan petugas yang bekerja sejak pagi buta.

Fakta ini menunjukkan satu hal penting, persoalan sampah pesisir bukan peristiwa insidental, melainkan fenomena musiman yang dipengaruhi arus laut, kiriman dari hulu, dan intensitas hujan. Pantai sering kali menjadi titik akhir dari rantai panjang masalah yang terjadi jauh dari garis ombak. Ketika publik hanya melihat hasil akhirnya, kerja di lapangan luput dari perhatian.

Berita Terkait:  Putri Koster Pimpin Sinkronisasi Posyandu 2026

Respons pemerintah daerah pun bukan reaktif semata. Pola penanganan kini bergeser menjadi lebih siaga, dengan pembersihan rutin bahkan sebelum tumpukan terlihat masif. Ini menandakan pendekatan yang mulai mengarah pada mitigasi, bukan sekadar respons darurat.

Namun data pesisir juga menyampaikan pesan lebih dalam, membersihkan pantai saja tidak cukup. Selama aliran sampah dari darat tak dikendalikan, laut akan terus menjadi muara. Di sinilah pentingnya penguatan pengelolaan sampah berbasis sumber dari rumah tangga, pasar, hotel, restoran, hingga pusat kegiatan ekonomi lain. Tanpa disiplin dari hulu, beban di hilir akan selalu berulang.

Berita Terkait:  Rekomendasi 9 Favorit Kuliner Malam di Bali: Murah Meriah, Dijamin Nagih!

Kritik memang perlu, tapi harus disertai pemahaman bahwa penanganan sampah adalah kerja lintas wilayah, lintas sektor, dan lintas perilaku masyarakat. Tidak ada satu pihak yang bisa menyelesaikannya sendirian.

Di balik sorotan keras soal sampah pantai, Bali sebenarnya sedang berjibaku setiap hari. Truk terus bergerak, alat berat terus bekerja, petugas terus menyisir garis pantai. Masalahnya nyata. Tapi upayanya juga nyata. Dan di situlah titik pentingnya, perbaikan sistem harus dipercepat, bukan sekadar memperbesar gema tudingan.
Karena menjaga Bali bukan hanya soal membersihkan yang terlihat, melainkan membenahi yang tak terlihat, dari hulu sampai ke laut. (red)

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI