SOROTAN terhadap sampah di pantai Bali memang keras. Foto-foto tumpukan limbah di pesisir cepat menyebar, disertai komentar pedas yang menyederhanakan persoalan seolah-olah tak ada yang bekerja. Padahal di balik gambar yang viral itu, ada operasi besar yang berjalan nyaris tanpa sorotan.
Dalam kurun 26 sampai 31 Januari 2026, pembersihan dilakukan di sedikitnya 12 zona pesisir utama Bali. Dari Cemagi sampai Seseh di barat hingga Nusa Dua di selatan. Kawasan wisata padat seperti Batu Bolong, Petitenget, Double Six, Legian, Kuta, Jimbaran, sampai Tanjung Benoa masuk dalam daftar penanganan intensif. Ini bukan titik terpencil. Ini etalase pariwisata Bali.
Data pengangkutan menunjukkan skala persoalan sekaligus skala kerja yang dilakukan. Dalam periode itu, total 5.590 ton sampah berhasil diangkut. Sebagian besar merupakan akumulasi kiriman gelombang sebelumnya yang mencapai 5.544 ton, ditambah 46 ton pada pekan berjalan.
Di sejumlah titik, volume sangat besar tercatat, ada zona dengan beban hingga 1.672 ton, 1.490 ton, dan 684 ton. Angka-angka ini bukan simbolik, ini kerja fisik, ritase truk tanpa henti, alat berat di garis pantai, dan petugas yang bekerja sejak pagi buta.
Fakta ini menunjukkan satu hal penting, persoalan sampah pesisir bukan peristiwa insidental, melainkan fenomena musiman yang dipengaruhi arus laut, kiriman dari hulu, dan intensitas hujan. Pantai sering kali menjadi titik akhir dari rantai panjang masalah yang terjadi jauh dari garis ombak. Ketika publik hanya melihat hasil akhirnya, kerja di lapangan luput dari perhatian.
Respons pemerintah daerah pun bukan reaktif semata. Pola penanganan kini bergeser menjadi lebih siaga, dengan pembersihan rutin bahkan sebelum tumpukan terlihat masif. Ini menandakan pendekatan yang mulai mengarah pada mitigasi, bukan sekadar respons darurat.
Namun data pesisir juga menyampaikan pesan lebih dalam, membersihkan pantai saja tidak cukup. Selama aliran sampah dari darat tak dikendalikan, laut akan terus menjadi muara. Di sinilah pentingnya penguatan pengelolaan sampah berbasis sumber dari rumah tangga, pasar, hotel, restoran, hingga pusat kegiatan ekonomi lain. Tanpa disiplin dari hulu, beban di hilir akan selalu berulang.
Kritik memang perlu, tapi harus disertai pemahaman bahwa penanganan sampah adalah kerja lintas wilayah, lintas sektor, dan lintas perilaku masyarakat. Tidak ada satu pihak yang bisa menyelesaikannya sendirian.
Di balik sorotan keras soal sampah pantai, Bali sebenarnya sedang berjibaku setiap hari. Truk terus bergerak, alat berat terus bekerja, petugas terus menyisir garis pantai. Masalahnya nyata. Tapi upayanya juga nyata. Dan di situlah titik pentingnya, perbaikan sistem harus dipercepat, bukan sekadar memperbesar gema tudingan.
Karena menjaga Bali bukan hanya soal membersihkan yang terlihat, melainkan membenahi yang tak terlihat, dari hulu sampai ke laut. (red)











