Barometer Bali | Karangasem – Kabar duka menyelimuti Bumi Lahar, mantan Wakil Bupati Karangasem periode 2000-2005, I Gusti Putu Widjera, telah berpulang dalam usia 77 tahun ke hadapan Sang Pencipta pada Kamis (12/2/2026).
Tokoh dedikatif yang dikenal sebagai birokrat ulung dan politisi santun ini mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bali Mandara, Denpasar.
Kepergian sosok yang lahir di Desa Buyan, Kecamatan Rendang meninggalkan duka mendalam tidak hanya bagi keluarga besar, tetapi juga bagi masyarakat Karangasem yang pernah dipimpinnya.
I Gusti Putu Widjera dikenal sebagai salah satu putra terbaik daerah yang memiliki rekam jejak pengabdian yang panjang, mulai dari tingkat nasional hingga ke daerah asalnya.
Rekam Jejak Karier
Perjalanan hidup I Gusti Putu Widjera kelahiran 1949 ini adalah cermin dari loyalitas seorang abdi negara. Sebelum terjun ke dunia politik, dia membangun fondasi kariernya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Tak tanggung-tanggung, dedikasinya sempat membawa beliau berkarier di pusat pemerintahan, yakni di Departemen Penerangan, Jakarta.
Pengalaman di ibu kota inilah yang kemudian membentuk wawasan luas dan kemampuan komunikasi politiknya yang mumpuni.
Setelah purnatugas sebagai birokrat, pengabdiannya berlanjut ke ranah eksekutif. Ia terpilih menjabat sebagai Wakil Bupati Karangasem periode 2000-2005, mendampingi Bupati I Gede Sumantara.
Selama masa jabatannya, Widjera dikenal sebagai sosok yang tenang dan fokus pada penataan administrasi serta kesejahteraan masyarakat pedesaan.
Tak berhenti di sana, kiprah politiknya terus bersinar hingga ke tingkat provinsi. Beliau tercatat pernah menduduki kursi Anggota DPRD Provinsi Bali, dia vokal dalam menyuarakan aspirasi pembangunan infrastruktur di wilayah Bali Timur.
Sosok Ayah dan Panutan Keluarga
I Gusti Putu Widjera adalah sosok ayah yang hangat dan disiplin. Dia meninggalkan tiga orang putra yang dididiknya untuk menjadi pribadi yang mandiri dan bermanfaat bagi masyarakat. Meski memiliki kesibukan yang padat di dunia pemerintahan dan politik, almarhum dikenal tetap mengakar pada tanah kelahirannya di Desa Buyan, Rendang.
”Beliau adalah teladan bagi kami dalam hal kesabaran dan keteguhan prinsip. Pengabdiannya kepada masyarakat selalu menjadi prioritas utama,” ujar Ngurah Satria salah satu kerabat dekat almarhum.
Penghormatan Terakhir
Saat ini, jenazah almarhum masih disemayamkan sembari menunggu keputusan keluarga terkait jadwal upacara pengabenan dan prosesi adat lainnya.
Ucapan belasungkawa terus mengalir dari berbagai tokoh politik, pejabat di lingkungan Pemkab Karangasem, serta masyarakat luas yang merasa kehilangan sosok pemimpin yang rendah hati.
Kepergian I Gusti Putu Widjera menandai berakhirnya era salah satu saksi sejarah transisi kepemimpinan di Karangasem pasca-reformasi.
Namun, warisan pemikiran dan jasa-jasanya dalam membangun daerah akan tetap dikenang oleh generasi mendatang.
Selamat jalan, I Gusti Putu Widjera.
Dumogi Amor Ing Acintya. (red)










