Barometerbali.com | Denpasar – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah menuai sorotan setelah sebagian menu yang disajikan ternyata termasuk kategori makanan ultra-proses.
Makanan ultra-proses adalah produk olahan yang umumnya mengandung lebih dari satu bahan yang dikenal dengan produk olahan industri.
Makanan ini cenderung mengandung sejumlah zat aditif dan bahan pengawet, pengemulsi, pemanis, pewarna, serta perasa buatan.
Dari beberapa bahan yang ditambahkan itu, membuat makanan ultra-proses biasanya memiliki masa simpan yang panjang.
Dilansir dari Science Daily, Sabtu 27 September 2025, makanan yang termasuk produk makanan ultra-proses, yakni:
- Daging sosis
- Roti produksi massal, sereal sarapan, sup instan
- Keripik dan biskuit
- Es krim dan yogurt rasa buah
- Permen
- Kue kering
- Minuman berkarbonasi.
Lantas, apa sebenarnya yang akan terjadi pada tubuh jika kita kebanyakan makan makanan ultra-proses?
Dampak kebanyakan konsumsi makanan ultra-proses
Dikutip dari British Heart Foundation (24/3/2025), makanan ultra-proses sering kali mengandung kadar lemak jenuh, garam, dan gula yang tinggi.
Saat kita mengonsumsinya, kita menyisakan hanya sedikit ruang dalam pola makan kita untuk makanan yang lebih bergizi.
Zat aditif dalam makanan ini dipercaya dapat menyebabkan dampak negatif bagi kesehatan.
Selain itu, proses pengolahan makanan juga dapat memengaruhi respons tubuh kita.
Penelitian menunjukkan, saat makanan seperti kacang-kacangan dimakan utuh, tubuh menyerap lebih sedikit lemak dibandingkan ketika kacang digiling dan minyaknya dilepaskan.
Dilansir dari Stanford Medicine (15/7/2025), ahli gizi peneliti di Stanford Prevention Research Center, Dalia Perelman mengatakan, makanan ultra-proses minim nutrisi.
“Makanan-makanan ini cenderung rendah serat, mikronutrien, dan fitokimia, di mana tubuh kita membutuhkan itu semua,” kata Perelman.
Konsumsi makanan ultra-proses secara berlebihan dikaitkan dengan berbagai hasil kesehatan yang merugikan, seperti obesitas, sindrom metabolik, penyakit jantung, penyakit serebrovaskular, depresi, kecemasan, kanker, dan kematian.
Sebuah tinjauan pada 2024 terhadap 45 analisis dengan hampir 10 juta partisipan menemukan bukti kuat bahwa konsumsi tinggi makanan ultra-proses meningkatkan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular hingga 50 persen dan kecemasan 48 persen.
Studi itu juga menunjukkan bukti sangat sugestif bahwa makanan ultra-proses meningkatkan risiko kematian akibat penyakit jantung sebesar 66 persen, obesitas 55 persen, gangguan tidur 41 persen, serta diabetes tipe 2 sebesar 40 persen.
Efek jangka panjang pada usus
“Penelitian telah menunjukkan bahwa mengonsumsi makanan ultra-proses, yang umumnya rendah serat, merugikan kesehatan usus,” ujar Perelman.
“Hal ini karena makanan tersebut cenderung mudah dicerna, dan komponen-komponennya diserap dengan cepat ke dalam aliran darah,” lanjut dia.
Selain itu, zat aditif juga dapat membahayakan kesehatan usus.
Perelman menyampaikan, pengemulsi yang digunakan dalam produksi makanan untuk menggabungkan zat-zat yang biasanya terpisah, dapat mengganggu mikrobioma usus dan melemahkan penghalang usus.
Sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Gastroenterology (2022) menemukan bahwa konsumsi makanan dengan pengemulsi karboksimetilselulosa dapat memengaruhi kesehatan usus.
Para partisipan mengalami perubahan pada mikrobiota usus, penurunan molekul kecil bermanfaat dalam metabolom feses, serta peningkatan rasa tidak nyaman di perut setelah makan.
Lebih lanjut, pada dua partisipan, mikrobiota bahkan menembus lapisan lendir bagian dalam usus besar yang biasanya steril.
Kondisi ini disebut sebagai tanda utama peradangan usus, sehingga menimbulkan kekhawatiran terkait dampak jangka panjang konsumsi pengemulsi tersebut terhadap kesehatan pencernaan. (ari)










