Amankan Desa Adat Jelang Nyepi, Gubernur Koster Jadi Manggala Utama Gelar Agung Belasan Ribu Pecalang

IMG-20260307-WA0049
Pecalang se-Bali saat mengikuti Gelar Agung di Lapangan Puputan Margarana Niti Mandala Renon, Denpasar, Sabtu (7/3/2026)(Barometerbali/rian)

Barometer Bali | Denpasar – Belasan ribu pecalang dari sekitar 1.500 desa adat di Bali mengikuti Gelar Agung Pecalang menjelang perayaan Hari Raya Nyepi 2026. Kegiatan yang berlangsung di Lapangan Puputan Margarana Niti Mandala Renon, Sabtu (7/3/2026), menjadi momentum penting untuk memperkuat konsolidasi pecalang dalam menjaga keamanan dan keharmonisan Bali.

Dengan mengusung tema “Sarana Nincapang Kasukretan Jagat Bali Niskala-Sakala”, kegiatan ini menegaskan peran pecalang tidak hanya dalam menjaga keamanan secara fisik (sekala), tetapi juga menjaga keseimbangan spiritual (niskala) yang menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Bali.

Gubernur Bali, Wayan Koster, yang bertindak sebagai Manggala Utama Gelar Agung Pecalang Bali, menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi ajang konsolidasi bagi pecalang di seluruh Bali untuk memperkuat peran dalam menjaga ketertiban dan kelancaran rangkaian perayaan Nyepi.

Berita Terkait:  Gubernur Koster Minta Perbekel 'Jengah' Kelola Sampah Berbasis Sumber

“Kegiatan ini menjadi momentum konsolidasi bagi para pecalang untuk memperkuat peran dalam menjaga ketertiban, keamanan, serta kelancaran rangkaian pelaksanaan Hari Raya Nyepi di seluruh Bali,” ujar Koster.

Ia menekankan bahwa pecalang di setiap desa adat diharapkan tetap solid dalam menjalankan tugas ngayah dengan penuh disiplin, tanggung jawab, dan dedikasi demi menjaga wilayah adat masing-masing.

“Supaya Bali ini kondusif dan citra pariwisata Bali juga baik,” katanya.

Berita Terkait:  Tahun Baru Imlek 2026, 1 Warga Binaan Lapas Kerobokan Dapat Remisi

Pengamanan tahun ini menjadi perhatian khusus karena perayaan Hari Raya Nyepi berdekatan dengan Hari Raya Idul Fitri. Kondisi tersebut menuntut kesiapsiagaan dan koordinasi yang lebih baik agar kedua momentum keagamaan dapat berlangsung dengan aman, tertib, dan penuh toleransi.

“Momentum ini sekaligus memperkuat tekad pecalang untuk menjaga adat, tradisi, seni, budaya, dan kearifan lokal Bali serta merawat kerukunan antarumat beragama,” tegasnya.

Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi Bali, mulai dari persoalan sampah, ketersediaan air bersih, kemacetan hingga ancaman sosial seperti narkotika dan radikalisme, sistem keamanan berbasis desa adat dinilai semakin penting.

Berita Terkait:  Lapas Kerobokan Ikut Aksi Bersih Sampah Laut di Pantai Kedonganan Bersama Forkopimda

Melalui Peraturan Gubernur Bali Nomor 58 Tahun 2025 tentang Sistem Keamanan Lingkungan Terpadu Berbasis Desa Adat (Sipandu Beradat), pecalang menjadi bagian penting dari sistem pengamanan swakarsa yang terintegrasi dengan aparat negara.

“Keamanan Bali bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau aparat, tetapi tanggung jawab bersama seluruh masyarakat,” ujar Koster.

Ia pun menyampaikan apresiasi kepada seluruh pecalang atas dedikasi mereka menjaga ketertiban dan keamanan desa adat di Bali. Pemerintah berharap pecalang terus meningkatkan kapasitas serta memperkuat sinergi dengan berbagai pihak agar Bali tetap aman, harmonis, dan kondusif, terutama dalam menyambut rangkaian perayaan Nyepi tahun ini.(rian)

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI