Ini Batas Aman Minum Kopi per Hari dan Risiko Jika Berlebihan Menurut Dokter

BARO MAR F 49
Ilustrasi Americano Coffee. (barometerbali/dok.©Unsplash/The Creative)

Barometerbali.com | Denpasar – Kopi merupakan salah satu minuman paling populer di dunia, termasuk di Indonesia.

Selama bertahun-tahun, kopi telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat, bahkan budaya minum kopi di Tanah Air sudah mengakar sejak masa penjajahan Belanda.

Saat ini, kebiasaan minum kopi kian berkembang seiring menjamurnya coffee shop, terutama di kalangan anak muda.

Aktivitas ngopi tak hanya menjadi cara menikmati waktu santai, tetapi juga sarana berkumpul dan bersosialisasi.

Bagi sebagian orang, ngopi bahkan menjadi rutinitas harian.

Selain karena rasanya yang khas, kopi kerap dikonsumsi untuk membantu memulai aktivitas atau meredakan rasa lelah setelah menjalani hari yang padat.

Namun, kebiasaan ngopi yang terlalu sering dilakukan tanpa disadari justru bisa berdampak kurang baik bagi tubuh.

Dokter: bisa memperburuk kecemasan

Menurut dr. Kevin Mulya S, Sp.N-FMIN, dokter spesialis saraf yang berpraktik di RS EMC Alam Sutera, konsumsi kafein berlebihan dapat memperburuk kecemasan, memicu sakit kepala, hingga menimbulkan ketergantungan.

Berita Terkait:  20 Tempat Buka Puasa Ramadan di Bali yang Makanannya Enak (Bagian 2)

“Pada orang yang memiliki bakat kecemasan, kafein justru bisa meningkatkan respons tubuh menjadi lebih siap atau fight, sehingga kecemasannya bisa bertambah,” terangnya, dalam program Bincang Sehat bersama Antara, beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan, kafein dalam dosis tinggi akan mengaktivasi sistem saraf simpatis, bagian dari sistem saraf otonom, yang dapat meningkatkan denyut jantung dan menimbulkan rasa gelisah.

Karena itu, efek kafein dapat memperberat gejala pada individu dengan gangguan kecemasan.

Batas aman 1-2 gelas per hari

Kevin menegaskan, batas aman konsumsi kopi idealnya hanya 1-2 gelas per hari.

Sementara realitanya, kata dia, tak sedikit orang yang mengonsumsi hingga 5-10 gelas kopi tanpa menyadari risikonya.

Dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tahun 2014 itu juga mengingatkan agar penghentian konsumsi kopi tidak dilakukan secara mendadak, terutama pada peminum berat.

Berita Terkait:  Waspada ‘Kalap Makan’ saat Lebaran, Ini Cara Nikmati Opor dan Rendang Tetap Aman

Penghentian kafein secara tiba-tiba dapat memicu sakit kepala akibat putus kafein, disertai rasa lelah, sulit berkonsentrasi, dan perubahan suasana hati.

Oleh karena itu, pengurangan konsumsi sebaiknya dilakukan secara bertahap untuk menghindari gejala putus kafein yang berat.

“Kafein bukan molekul yang bisa dianggap sepele jika dikonsumsi berlebihan. Itu bisa menimbulkan sakit kepala dan bersifat adiktif,” kata Kevin, yang fokus menangani kasus migrain dan nyeri kepala.

Soal kebiasaan minum obat pereda nyeri

Selain kopi, Kevin juga menyoroti kebiasaan masyarakat yang kerap mengandalkan obat pereda nyeri untuk mengatasi sakit kepala.

Tanpa disadari, frekuensi konsumsi obat tersebut bisa meningkat dan memicu medication-overuse headache, yakni sakit kepala akibat penggunaan analgesik berulang dan tidak terkontrol.

Padahal, penggunaan obat pereda nyeri secara berlebihan dapat berisiko merusak fungsi hati dan menyebabkan peradangan lambung.

Berita Terkait:  Investasi Condotel di Bali Kian Menjanjikan, Tertarik untuk Memiliki?

Obat generik yang mudah diperoleh di pasaran umumnya mengandung parasetamol dan kafein, yang jika dikonsumsi jangka panjang berpotensi menimbulkan komplikasi.

“Dari awalnya satu kali sehari, bisa meningkat menjadi dua sampai tiga kali sehari, bahkan lebih. Ini sering tidak disadari pasien,” ujar dokter yang juga pernah mengikuti program penanganan kegawatdaruratan neurologis dari Neurocritical Care Society itu.

Ia mengingatkan, parasetamol memiliki batas maksimal konsumsi 4 gram per hari atau sekitar delapan tablet.

Karena itu, tidak semua keluhan pusing atau sakit kepala harus langsung diatasi dengan obat atau kopi.

“Sakit kepala sering kali bisa membaik dengan istirahat. Namun, jika keluhan tidak kunjung membaik, sebaiknya konsultasi ke dokter agar penyebabnya jelas dan penggunaan obat tidak keliru,” kata Kevin. (ari)

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI